MEMBERI KESEJUKAN DAN BERDAMPAK BAGI SEKITAR

29 October 2024

Selasa, 29 Oktober 2024

Efesus 5:21-33

Mazmur 128:1.2.3.4-5

Lukas 13: 18-21


"Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya." --- Lukas 13:19


SAAT BERADA di bawah pohon kita merasakan keteduhan, udaranya segar yang berasal dari oksigen yang dikeluarkan pohon tersebut. Ada satu penelitian jika kita sering berada di pepohonan dan berjalan di sekitarnya ada zat yang dikeluarkan pohon yang dapat mengurangi stress, meningkatkan  energi,  meningkatkan  sistem  kekebalan  tubuh  dan bahkan bagi orang yang terkena kanker merupakan satu terapi yang sangat baik dalam proses penyembuhannya. Pohon yang besar berawal dari biji yang ditanam. Di sini Yesus mengumpamakan dengan biji sesawi yang bijinya paling kecil. Biji ini seumpama diri kita yang mau memberikan dirinya dipakai lalu ditabur, berarti diserakkan di tanah. Kita ditempatkan di mana penabur menginginkannya yaitu di mana Tuhan mau kita bertumbuh. Seperti biji yang mulai bertunas dan tumbuh pasti melewati proses, ia dirawat, disiram. dan diberi pupuk. Berarti kita mau belajar dari segala kejadian dan orang-orang yang hadir dalam hidup kita. Mau belajar dari Kristus sendiri yang mengorbankan dirinya untuk kita. Belajar setiap hari dari Firman Allah yang kita baca dan ikuti perayaan ekaristi. Jika ada waktu baik kita mengikuti misa harian supaya kita makin subur dan berkembang. Tidak terasa kita seperti pohon besar yang di mana burung-urung bersarang. Berarti orang­ orang senang datang kepada kita, karena merasakan keteduhan berada di dekat kita. Kita juga mau memberikan diri seperti meluangkan waktu untuk mendengarkan pergumulan teman, membagikan talenta yang kita miliki untuk pengembangan kerajaan Allah.

Pohon semakin rimbun dan berbuah lebat. Berarti kita berbuah yaitu buah-buah roh nyata dalam keseharian kita. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (Galatia 5:22-23) Taburilah kasih terhadap orang-orang yang kita temui seperti orang tua, pasangan, anak, teman kerja, tukang parkir, dan lain sebagainya. Menyapa mereka, beri senyum yang termanis, wajah penuh suka cita. Kita sabar menghadapi orang tua kita, kenakalan anak, kekurangan pasangan kita, teman kerja yang menjatuhkan kita dsb. Bersikap dan berbicara dengan lemah lembut. Dapat menguasai diri di tengah persoalan hidup maupun ketika disalahkan orang. Sehingga hidup kita tenang dan menenteramkan orang di sekeliling kita. Karena dasarnya adalah kasih. Kasih Allah yang ada di dalam diri kita memancar keluar, menyinari sekeliling kita.

Jangan melihat kecilnya diri kita. Seperti ragi meski kecil dan sedikit tetapi mempengaruhi seluruh adonan. Ragi dipakai untuk membuat roti. Awalnya tidak kelihatan, tetapi setelah dibiarkan beberapa waktu adonan roti menjadi kembang. Roti yang dihasilkan menjadi empuk dan enak, walaupun kita kecil jangan cemas, jika kita mau membuka hati dan dipakai Tuhan maka kita akan berubah menjadi pribadi yang berdaya guna membawa dampak bagi orang-orang sekitar kita. Apapun yang terjadi kita bisa menghadapinya dengan tenang. Kerajaan Allah yang berupa suasana yang penuh damai sejahtera dan suka cita tumbuh dari diri kita yang penuh cinta kasih, berkembang, dan menular ke orang lain. Seperti kata Santa Teresa dari Calcuta-"Jangan biarkan seorangpun datang kepadamu pergi tanpa merasa lebih bahagia." Ini juga yang kita lihat dan teladani dari Bapa Paus Fransiskus yang selalu tersenyum dan memberikan kasih kepada semua yang datang padanya. Dan setiap orang dapat merasakan kasih Allah lewat pribadi Bapa Paus.

Mari kita wujudkan kerajaan Allah dalam hidup kita sehari-hari. Kita rajin menjumpai Allah, jalin relasi yang dekat dengan Allah lewat doa dan saat teduh, selalu mengucap syukur baik buat hal yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, patuh terhadap perintah Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan selalu memberikan kasih, bersemangat, optimis, sabar dalam menjalani proses hidup ini, percaya dan mau berjalan bersama Tuhan. Iman kita semakin dikuatkan. Kita tidak hanya hidup untuk diri kita sendiri tetapi peduli terhadap sesama yang membutuhkan. Kerajaan Allah bertumbuh dan berkembang, kita memberikan dampak bagi semua orang.

Kita dipanggil untuk berbuah meskipun tidak ada yang melihat dan memuji apa yang kita perbuat, tetap bertahan meskipun dalam perjalanannya kita mengalami kekecewaan, kesedihan, bahkan penderitaan. Tetapi tetaplah bertahan dengan daya Roh Kudus yang menguatkan dan menyertai kita.

Pertanyaan untuk kita renungkan bersama:

  1. Apakah aku masih merasa kecil dan tak berarti?
  2. Apakah aku mau membuka hati untuk tumbuh dan berkembangnya kasih Allah?

 (Lusia Suryati)


DOA: "Ya Allah yang penuh kasih, kami bersyukur atas segala karya­ Mu dalam hidup kami. Engkau selalu menyertai dan memberkati kami. Tak dapat kami balas kasih-Mu Tuhan, selain memberikan diri kami untuk Engkau pakai menjadi benih yang nantinya menjadi pohon yang lebat di tangan-Mu. Sehingga dapat memberikan kesejukan dan berdampak bagi kerajaan-Mu di bumi ini. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, Amin."

JANJI: "Berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!" - Mazmur 128:1

PUJIAN: St. Narcissus. Narcissus hidup pada abad kedua dan awal abad ketiga. Ia sudah lanjut usia ketika ditahbiskan sebagai Uskup Yerusalem. Namun walau sudah uzur ternyata Narcissus adalah seorang uskup yang sungguh luar biasa. Semua orang mengagumi kebajikan­ kebajikannya, terkecuali mereka yang memilih untuk hidup jahat. Suatu hari tiga orang jahat bersekutu dan bersaksi dusta tentang uskup Narcissus dan mendakwanya melakukan suatu kejahatan yang mengerikan. Seorang dari mereka mengatakan, "Biar aku mati terbakar jika apa yang kukatakan tidak benar!" Yang kedua mengatakan, "Biar aku terjangkit kusta jika apa yang kukatakan tidak benar!" Dan yang ketiga mengatakan, "Biar aku menjadi buta jika apa yang kukatakan tidak benar!" Namun demikian, tiada seorang pun yang mempercayai dusta mereka. Orang banyak telah melihat sendiri kebajikan hidup Narcissus. Mereka tahu orang macam apa Narcissus itu. Meski tak seorang pun percaya pada fitnah keji yang dilontarkan terhadapnya, Narcissus mempergunakannya sebagai alasan untuk pergi mengasingkan diri dan menjadi pertapa di padang gurun. Segenap kepercayaannya ada pada Tuhan, yang ia layani dengan penuh cinta. Dan Tuhan menunjukkan bahwa fitnah yang diceritakan orang-orang itu sama sekali tidak benar. Narcissus kembali menjadi Uskup Yerusalem, sehingga umatnya bersukacita.Meski ia semakin bertambah tua, tampaknya ia semakin berkobar-kobar dari sebelumnya. Sesungguhnya, ia tampak lebih kuat dari sebelumnya pula, selama beberapa tahun sesudahnya. Lalu, ia menjadi terlalu lemah untuk melanjutkan karyanya. Ia memohon kepada Tuhan agar mengutus seorang uskup untuk membantunya. Tuhan kita mengirimkan kepadanya seorang kudus lain, Alexander dari Cappadocia. Dengan semangat kasih yang bernyala-nyala, mereka berdua memimpin keuskupan bersama. Narcissus berusia hingga 116 tahun lebih. Ia wafat pada tahun 215.

Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.