MEMERIKSA HATI NURANI
26 March 2022
Sabtu, 26 Maret 2022
Hosea 6: 1-6
Mazmur 51: 3-4, 18-21b
Lukas 18: 9-14
“(Orang) menganggap dirinya benar dan
memandang rendah semua orang lain”
– Lukas 18: 9
YESUS MENGAJAR dengan metode ‘perumpamaan’ adalah cara yang jitu dan cerdas. Yesus berkisah tentang ‘orang Farisi’ dan ‘orang pemungut cukai.’ Bagi masyarakat Yahudi sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Farisi itu tertib beribadat dan patuh akan hukum Musa sampai sedetil-detilnya. Tetapi sayang, masyarakat juga tahu bahwa mereka sombong rohani, merasa diri benar yang lain salah tidak seperti dirinya. Di pihak lain juga ada orang pemungut cukai yang di mata masyarakat mereka diangap pro penjajah dengan menarik pajak yang umumnya tidak wajar. Bagi orang Yahudi berpihak pada penguasa Romawi penjajah itu dosa, apalagi menjadi penarik pajak yang sering gilaa-gilaan yang hanya menguntungkan musuh. Mereka dicap kaum pendosa dan kafir, yang perlu dijauhi. Tetapi justru mereka ini menyadari dosa-dosanya sampai tak berani berdiri dekat Mesbah dan tak berani menengahdahkan wajahnya ke atas tempat tahta Allah, tetapi tertunduk dan berdoa ‘kasihanilah kami orang berdosa’.
Tentu saja orang Farisi itu menghadap Tuhan dengan tangan penuh persembahan. Di telapak tangan kiri telah ia letakkan semua puasanya, persepuluhan dan kepatuhan akan hukum Taurat. Itu yang mereka anggap kebaikan. Dan Tuhan melihatnya. Di tangan kanan ada sikap sombong dan merendahkan orang lain. Ia anggap kebaikan jauh lebih banyak daripada kejelekkan yang ia lakukan. Ia sendiri yang menimbang dan kejelekannya ia anggap telah dibayar oleh kebaikannya sendiri.
Orang sombong rohani atas perbuatan baik merasa tidak perlu rahmat kerahiman dan pengampunan dari Tuhan. Baginya perbuatan baiknya menutupi atau menghapus kesalahan-kesalahannya.
Bagaimana diri kita sendiri ? Kalau kita rajin memeriksa batin kita, bisa saja kita jatuh ke ‘rutinitas’. Kita memang merasa lemah tinggal cukup berusaha lebih baik lagi. Kita tak merasa butuh bantuan Tuhan. Atau dalam pemeriksaan batin, kita benar-benar merasa orang berdosa, lemah dan mudah jatuh, merasa sangat butuh rahmat bantuan Tuhan, dengan mengaku dan berdoa, ‘Tuhan kasihanilah, Tuhan ampunilah’ !
Tepat sekali Doa Tobat di awal Ekaristi, ‘Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa dan kepada Saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perjataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa-saya berdosa-saya sungguh berdosa. ...’. Doa Tobat awal Misa ini juga bisa kita gunakan sewaktu kita mengadakan Pemeriksaan Batin. Ada lagi dua macam Doa Tobat terdapat dalam Daftar Doa Dasar, upama ‘Allah Yang Maharahim’ (PS no 25 dan 26).
Dengan berdoa Tobat berarti kita sangat menghargai Korban Kristus di Salib dan merasakan butuhnya hati kita diarahkan kembali ke jalan yang ditunjukkan Yesus. Dengan berdoa Tobat kita merasakan diri kita butuh pengampunan dari Tuhan – ‘Kasihanilah kami orang berdosa’, seperti kata pemungut cukai. Tetapi dengan demikian kita akan merasa sukacita dan kegembiraan pengampunan dari Tuhan yang memberi energi baru untuk meneruskan perjalanan.
Hari ini mari kita memeriksa batin kita dan memohon Roh Kudus membantu melepaskan diri kita dari kuasa dosa dari kelekatan-kelekatan tak-teratur. Biarkan pemeriksaan batin menjadi kebisaan saleh setiap malam jelang istirahat, atau sesaat kita menyadari kita salah lebih-lebih kepada sesama, betapapun kecilnya. Mau meminta maaf dan memaafkan merupakan salah satu buah dari pemeriksaan batin yang menjauhkan diri kita dari ‘sombong rohani’. (S. Widjojo).
DOA : “Bapa ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”
JANJI: “Barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” Lukas 18: 14
PUJIAN: Kita semua tahu dan mengenal peristiwa Ahok dituduh menghina agama dan berujung hukuman penjara dua tahun. Ia sendiri mengaku tak-bersalah. Tetapi karena politik, peristiwanya ‘diplintir’ dan ‘digoreng’, sampai pengadilan percaya dan menjatuhi hukuman. Ahok memaafkan mereka semua yang menfitnah, bukan mengadukannya ke pengadilan.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ