MEMUJI ATAS JANJI ALLAH
24 December 2024
Selasa, 24 Desember 2024
2 Samuel 2:1-5.8b-12.16
Mazmur 89:2-3.4-5.27.29
Lukas 1:67-79
“Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai Sejahtera.” --- Lukas 1:78-79
PERAYAAN NATAL telah tiba. Bagaimana persiapan kita? Pakaian baru, rumah yang dihiasai dengan pohon natal, lampu natal yang indah, semua itu sering kita lakukan ketika saat natal tiba. Bahkan juga di tempat-tempat umum seperti mall suasana natal sungguh terlihat dan terasa. Ini menggambarkan bahwa secara lahiriah kita siap menyambut Yesus yang hadir ke dunia sebagai juruselamat kita.
Akan tetapi persiapan yang lebih utama semestinya kita lakukan adalah hati kita. Bagaimana kita mempersiapkan hati untuk menyambut kehadiran Yesus itu sendiri. Kita harus memiliki hati yang penuh dengan Syukur, hati yang senantiasa memancarkan kebaikan, hati yang bersih, hati yang selalu rindu untuk hidup dalam kekudusan. Inilah yang mesti kita lakukan. Bukan saja hal lahiriah namun batinlah yang terutama, agar Yesus Kristus sungguh lahir dalam hati kita.
Pujian Zakharia dalam Injil hari ini, menggambarkan kepada kita bahwa inilah pujian yang sejati, pujian yang terlahir dari hati yang penuh syukur dan percaya akan setiap janji Allah. Yesus Kristus adalah janji Allah bagi kita, Ia adalah sang terang yang akan menyelamatkan umat manusia. Mari kita siapkan hati dengan baik untuk menyambut-Nya. Selamat Natal 2025. (Pieter K)
DOA: ”Tuhan Yesus, datang dan tinggallah dalam hatiku, Amin.”
JANJI: ”Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit.” - Mazmur 89:3
PUJIAN: Santo Sharbel Makhlouf adalah seorang rahib dan imam Katolik Maronit berkebangsaan Libanon yang kini dihormati sebagai seorang santo. Ia dibesarkan oleh pamannya karena ayahnya meninggal ia masih berumur tiga tahun. Di usia 23 tahun, dia masuk Biara St. Maron di Annaya, Libanon, dan menggunakan nama 'Sharbel'. Dia dididik oleh Romo Nimatullah dan mengucapkan kaul-kekalnya pada 1853 dan ditahbiskan enam tahun kemudian. Sharbel menjalani hidup sebagai seorang pertapa sejak 1875 sampai akhir hidupnya. Kesuciannya membuat orang-orang mendatanginya untuk minta diberkati dan minta didoakan. Dia menjalankan puasa dengan ketat dan sangat berdevosi kepada Sakramen Maha Kudus. Bilamana para superiornya di saat-saat tertentu memintanya untuk menerimakan sakramen-sakramen di desa-desa terdekat, Sharbel melaksanakannya dengan penuh suka cita. Dia meninggal dunia pada malam Natal tahun 1898. Beberapa bulan kemudian, sinar-sinar cemerlang terlihat memancar di sekitar makamnya. Dari tempat itu, jenazahnya, yang masih terus mengeluarkan keringat dan darah, dipindahkan ke dalam peti jenazah khusus. Rombongan-rombongan besar peziarah mulai berdatangan ke makamnya untuk memohon syafaatnya. Pada 1925, beatifikasi dan kanonisasinya diajukan untuk diumumkan oleh Paus Pius XI. Pada 1950.
Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)