MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN DAN MELAKSANAKANNYA
20 September 2022
Selasa, 20 September 2022
Ams 21:1-6,10-13
Mzm 119:1,27,30,34,35,44
Luk 8:19-21
Bimbinglah Hidupku Ya Tuhan Menurut Petunjuk Perintahmu.
(Mzm 119:1)
Credo (Syahadat) orang Yahudi dimulai dengan, “Dengarlah hai Israel …” (Sh’ma Yis’ra’eil Adonai Eloheinu Adonai echad, Kel. 6.4). Dalam spiritualitas Yudaisme, hal mendengarkan Yahwe menjadi hal yang sentral dan menjadi keyakinan dasar dalam beriman kepada-Nya.
Dalam konteks iman orang Yahudi itu, kita dapat memahami mengapa Yesus mengatakan bahwa orang yang paling berbahagia adalah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan melaksanakannya. Dengan seruan itu, tentu Yesus tidak bermaksud menyangkal pengenalan dan pemahaman orang-orang di sekitar Dia, bahwa Maria, Ibu-Nya adalah berbahagia karena memiliki seorang anak yang sedemikian berkuasa di mata mereka. Akan tetapi, pengakuan tersebut dapat juga merupakan suatu pengakuan akan kebahagiaan Maria yang terdalam, yakni bahwwa Ia berbahagia justru karena mendengarkan, taat, dan melakukan apa yang difirmankan Yahweh kepadanya. Maria memang pantas disebut ‘yang berbahagia’ karena ketaatan pada apa yang Ia dengar sebagai Sabda Yahweh. Penulis Amsal menunjuk hal mendengarkan juga sebagai sumber kebahagiaan, ketika Ia berseru, “Siapa penutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban kalau ia sendiri berseru-seru” (Ams 21:13).
Sudahkan kita menggunakan telingan dengan baik untuk mendengar seruan dan jeritan orang lain juga sebagai Sabda Allah yang nyata dalam kehidupan kita?. (SW)
DOA : Ya Tuhan, berilah kami kepekaan untuk mendengarkan suara-Mu dalam kehidupan sehari-hari dan ajarilah kami untuk taat melakukannya.
JANJI : Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya.(Luk 18:21)
PUJIAN :Dalam Syahadat orang Yahuni yang menekankan Taurat, di awali dengan kata “Dengarlah hai Israel …” (Sh’ma Yis’ra’eil Adonai Eloheinu Adonai echad, Kel. 6.4).
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ