MENENANGKAN HATI YANG KETAKUTAN
28 June 2022
Selasa, 28 Juni 2022
St. Ireneus
Amos 3:1-8; 4:11-12
Mazmur 5:5-8
Matius 8:23-27
“Tuhan, tolonglah, kita binasa!”
Matius 8:25
Siapa yang pernah mengalami sukar tidur, kalau di luar rumah suasana sangat brisik dan gaduh? Tetapi juga ada orang-orang dapat tidur tenang malahan nyenyak sewaktu di sekelilingnya riuh ribut sekali. Dan Yesus termasuk kelompok yang akhir. Sewaktu Yesus dan para murid berada di perahu dan terjadi angin ribut yang mau menenggelamkan kapal, Yesus ‘tidur’ (Mat 8:24), nyenyak di buritan (Mrk 4:38).
Dan saat itu para rasul bingung dan sangat ketakutan. Mereka mencari Yesus, sang Guru. Ternyata Yesus kedapatan tenang dan tidur. Mereka membangunkan-Nya dan berseru, “Tuhan, tolonglah, kita binasa!” Bisa saja Yesus benarbenar penat, capai seharian penuh mengajar atau menyembuhkan banyak orang yang datang. Maka mereka memilih naik perahu agar tidak diganggu rakyat yang datang tanpa henti. Hanya sekali dan di tempat ini, Yesus dikisahkan “tidur” (Mat 8:24; Mrk 4:38; Luk 8:23).
Apa maksudnya? Dapatkah kita menarik kesimpulan bahwa Allah itu tak merasa was-was akan apa yang membuat kita ketakutan. Yesus tidak ambil pusing akan adanya angin ribut yang menghantam perahu di mana dia bersama para rasul berlayar. Bisa saja Yesus tidak tahu apa-apa kalau tidak dibangunkan oleh para murid-Nya. Dan reaksi Yesus patut kita tiru! Ia tenang saja. Ia malah menegur dengan halus para rasul, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Maksudnya, kalau mereka tetap percaya penuh kepada Yesus, mereka tak perlu panik.
Dalam pengalaman hidup kita, tentu pernah kita mengalami panik, lalu berseru kepada Allah dan memohon, “ Tuhan, apakah Tuhan tak peduli akan apa yang terjadi menimpa kami?” Betulkah Tuhan tidak hadir, tidak menyertai kita selalu? Allah selalu tahu dan mengerti apa saja yang terjadi dalam diri kita-segala kebingungan kita, ketakutan kita, rasa was-was kita, peristiwa-peristiwa yang seakan-akan mau ‘menelan’ kita. Yesus tidak akan meneduhkan angin ribut seperti Ia lakukan sewaktu para rasul mengalaminya, tetapi Yesus akan menenangkan dan meneduhkan hati kita yang ribut, takut dan was-was, agar kita tenang. Kalau hati tenang, kita akan dimampukan menghadapi badai yang menerjang hidup kita. Yang membuat Allah berkenan ialah kalau kita berdoa dengan penuh percaya dan pasrah total kepada-Nya, melepas segala rasa takut dan was-was yang menyelimuti hati kita. Dalam menghadapi badai hidup, kita tetap dapat bersyukur kepada-Nya, sebab segalagalanya ada di tangan-Nya, Ia tentu akan berbuat sesuatu demi kebaikan kita (Rm 8:28). Doa-doa dan seruan kita yang pendek kepada-Nya mungkin kurang bermakna bagi kita-kita yang selalu aktif dan giat dan bekerja. Tetapi buah doa-doa seruan yang pendek dan sederhana, yang kita ungkapkan dengan penuh percaya, akan memberi “damai sejahtera…, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran…” (Flp 4:7). (SW).
DOA “Tuhan, kami letakkan segala sesuatu dalam tangan-Mu. Tidak akan ada yang bisa mengganggu kedamaian hati kami, kalau kami berada dalam damai-Mu!”
JANJI “Tuhan di waktu pagi Engkau mendengar seruanku. pada waktu pagi aku menghaturkan persembahanku bagi-Mu dan aku menunggu-nunggu!” Mazmur 5:4
PUJIAN Bu Triasih merasa hatinya sesak, bingung dan was-was yang menggangu waktu istirahatnya beberapa hari. Ia harus tidak tahu harus berbuat apa. Temannya menyarankan agar pergi saja ke Konselor yang disediakan di kantornya. Bu Tri lalu menghadapnya. Ia keluarkan segala ‘uneg-uneg’ yang ada dalam hatinya yang sangat menggangunya. Sang konselor dengan tenang mendengarkan semuanya, curhat Bu Tri sampai tuntas. Dengan tenang dan penuh empati sang konselor mendengarkannya. Bu Tri lalu merasa tenang dan lega serta dapat berpikir jernih kembali. Sang konselor merasa senang bahwa konseli sudah tenang dan ceria. Ia lalu mendoakannya kepada Tuhan agar Bu Tri diurapi Roh Kudus, dimampukan untuk mengolah dan mengatasi masalah yang dihadapinya.