MENGIKUTI JEJAK YESUS
18 February 2022
Jumat, 18 Februari 2022
Yakobus 2:14-24.26
Mazmur 112:1-2.3-4.5-6
Markus 8:34 – 9:1
“Jika iman itu tidak disertai perbuatan,
maka iman itu pada hakikatnya adalah mati”.
Yakobus 2:17
AYAT DI ATAS itu sangatlah terkenal, sehingga sering dipakai untuk memberi nasehat moral. Dasar ajaran itu adalah sabda Yesus pada Mrk 8: 34, yang berbunyi : "Setiap orang yang ingin mengikuti di belakang-Ku (Yun. opisó mou), ia harus menyangkal dirinya, ‘mengangkat dan memanggul’ (Yun. airó) salibnya, dan mengikuti (Yun. akoloutheó) Aku”.
Konteks sabda Yesus itu adalah perikop bacaan Injil hari ini : ‘pengakuan Petrus dan pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus, serta syarat mengikuti Dia’, yang terletak di bagian tengah Injil Markus, tepatnya bab 8:27-–9:1. Sabda itu, terutama nuansa ‘opisó mou’ (di belakang-Ku), begitu penting, sehingga Yesus memperluas audiences-Nya. Tidak cukup hanya para murid yang mendengarkan; orang banyak pun harus diundang.
Kepada mereka, secara tegas Yesus mengajarkan, pandangan Petrus mengenai “Mesias, yang tidak (mungkin) menderita”, harus dikoreksi. Sebab, itu adalah pikiran Satanas (Setan), oposan langsung Allah (lih. ay. 33). Kemudian, bagi siapapun, iman kepada Diri-Nya harus diikuti dengan tindakan dan perbuatan, yang wujudnya sangat berat.
Pertama, saat berjalan ‘di belakang’ Yesus, orang harus ‘menyangkal dirinya’ (Yun. aparnéomai), artinya ‘secara keras menolak dirinya sebagai sumber dan pusat segala sesuatu’. Makna penyangkalan model aparnéomai ini, sama dengan ‘kehilangan nyawa’ (ay. 35). Jangan seperti Petrus, yang karena memakai pikiran manusiawinya, menjadi ‘Setan’, menafikan makna sejati perutusan Yesus. Menarik bahwa selain pada Markus 8: 34, ungkapan ‘aparnéomai’ ini hanya dipakai terkait dengan penyangkalan Petrus terhadap Yesus (lih. Mrk. 14:30.31.72).
Kedua, orang harus ‘mengangkat dan memanggul salibnya’ (Yun. airó). Ada unsur inisiatif pribadi pada ungkapan ini. Salib, yang harus diangkat dan dipanggul itu, adalah ‘salib saya’. Ini adalah konsekuensi cara hidup mengimani Yesus Kristus secara pribadi, bukan sesuatu yang ‘given’ atau nasib, seperti halnya gender dan etnisitas. Aspek pribadi ini sangat utama, karena menjadi kriteria penghakiman saat ‘parousia’, yaitu kedatangan Yesus Kristus di masa depan dengan kemuliaan Bapa-Nya. Bila secara pribadi, orang ‘malu’ mengakui Yesus sebagai pusat hidupnya, “Putra Manusia pun akan malu karena orang itu” (Mrk 8: 38).
Ketiga, orang harus mengikuti (Yun. akoloutheó) Yesus; artinya, harus berada pada jalan (Yun. keleuthos) Yesus, yaitu ‘jalan salib dan kebangkitan’ ( Mrk 8:31). Singkat kata, wujud iman terhadap Yesus Kristus, adalah sebuah metanoia, atau ‘pertobatan dan pembalikan orientasi hidup’ (Mrk 1:15).
Bagi audiences Injil Markus zaman itu, yaitu umat Kristen non-Yahudi di Roma, Galilea, Antiokhia, dan Suriah Selatan, metanoia itu berat. Di wilayah imperium Romawi, tahun 69--saat Injil Markus muncul--, adalah tahun penuh teror dan kekacauan. Dalam setahun, tiga kaisar Roma: Galba, Otho, dan Vitellius, bergantian berkuasa dan dibunuh. Umat Kristen pun merasa akan ada kiamat. Untuk itu, mereka harus segera menentukan pilihan: tetap mengikuti Yesus, atau mengikuti trend zaman. Di sinilah, jalan (Yun. keleuthos) salib Yesus menjadi sangat menentukan. Maka, dalam bagian kedua Injil Markus (Mrk 8:22 – 10:52), Markus menjadikan praktik iman Jalan Salib sebagai ajaran utama Yesus.
Tidak bisa dihindari, untuk menjadi pengikut Kristus yang benar, orang harus bertindak dan berbuat, ‘menolak dirinya sebagai sumber kehidupan’, ‘mengangkat dan memanggul salib pribadinya sebagai konsekuensi mengikuti Yesus’, serta ‘tetap setia menempuh dan berada pada Jalan Salib Yesus’. Itulah terang yang benar bagi para pengikut Kristus yang sejati. (Witdarmono).
DOA : “Tuhan, ajarilah kami setia mengimani-Mu, dan mewujudkannyadalam perbuatan kasih”.
JANJI: “Di dalam gelap, terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil”. Mazmur 112: 4.
PUJIAN: Dalam buku Pengantar Perjanjian Baru (1522)-nya, Martin Luther (1483-1546), biarawan Ordo St. Augustinus (OSA) mengatakan: “Saya tidak akan memasukkan Surat Yakobus dalam khazanah Kitab Suci saya. Surat itu merusak Kitab Suci; isinya bahkan berlawanan dengan Paulus (Rom 3:28; Gal 2:16). Dibandingkan dengan surat-surat dari Paulus dan Yohanes, Surat Yakobus itu ‘surat jerami’”. Menurut Luther, sia-sia bila orang yang memakai Surat Yakobus sebagai pegangan hidup. Pada 1 Kor 3:12-13, jerami tidak bisa dipakai sebagai dasar, karena mudah terbakar dan musnah. Bukti surat itu seperti ‘jerami’ adalah ajarannya mengenai ‘iman tanpa perbuatan itu mati’ (lih. Yak. 2:14-26). Bagi Luther, hanya tiga, yang bisa menyelamatkan kita, yaitu ‘dengan iman (sola fide), rahmat (sola gratia), dan Kitab Suci (sola Scriptura)’. Bersyukur, Surat Yakobus tetap masuk dalam Kanon PB, dan berkat karya-karya kasih yang berdasarkan iman, Gereja tidak pernah akan mati.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ