MENGUBAH HATI YANG MEMBATU
29 February 2024
Kamis, 29 Februari 2024
Yeremia 17:5-10
Mazmur 1:1-2.3.4.6
Lukas 16:19-31
“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” --- Yeremia 17: 9-10
HATI YANG MEMBATU adalah kata-kata Allah kepada bangsa Israel yang telah jatuh dalam dosa penyembahan berhala. Kata lain dari “Hati yang membatu” adalah “Keras hati.” Pertanyaannya adalah seperti apakah hati yang keras dan membatu itu? Bacaan pertama dari Kitab Yeremia menyebut bahwa hati yang membatu adalah hati yang penuh dengan kelicikan. Kelicikan sendiri merupakan permainan palsu manusia untuk memperdaya, menjerat, dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan ego-nya. Karena itu tidak mengherankan ketika ditanya tentang hal yang najis dan tidak najis, Yesus mengatakan bahwa kelicikan adalah sesuatu yang menajiskan (bdk. Mrk. 7:21-22). Bangsa Israel disebut memiliki hati yang membatu dan keras karena dalam beragama mereka bersikap licik terhadap Allah. Mereka menduakan Allah. Di satu sisi menyebut diri umat Allah namun di sisi lain mereka menyembah berhala. Sikap beriman seperti inilah yang dikecam dan dikutuk Allah.
Hati yang membatu dan keras juga berarti hati yang dibangun di atas kekuatan manusiawi. Kekuatan manusiawi itu bisa berupa kekuasaan, popularitas, kekayaan, kecerdasan manusia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kehebatan-kehebatan lainnya. Hati itu akan semakin membatu dan mengeras apabila seluruh hidup kita, kita gantungkan semuanya pada kekuatan-kekuatan manusiawi itu. Maka tidak heran dalam satu kesempatan Yesus memperingatkan kita dengan berkata, di mana hartamu berada, di situ pula hatimu berada (bdk. Mat. 6:21). Hal ini persis dialami oleh orang kaya dalam Injil hari ini. Saking berakarnya pada harta kekayaannya, hatinya membatu dan tertutup kepada Lazarus yang ada di hadapannya. Tuhan tidak menginginkan kita memiliki hati yang membatu dan keras. Ia ingin agar kita memiliki hati seperti hati-Nya yang lemah lembut, rendah hati dan penuh kasih (bdk. Mat. 11: 29). Terkadang hati kita menjadi keras dan membatu karena keinginan-keinginan dan ambisi-ambisi yang tidak teratur. Mungkin juga karena di dalam diri kita masih ada energi negatif, misalnya amarah dan rasa dendam kepada sesama. Situasi batin seperti itu menjauhkan kita dari kebahagiaan.
Dengan menerima inspirasi dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini kita diajak untuk bermisi. Misi kita adalah mengubah hati kita yang keras mulai saat ini dan bukan nanti. Kita mohon kepada Tuhan “Ubah hatiku seperti salju, ubah hatiku seperti diri-Mu.” Datanglah kepada Tuhan untuk belajar dari Hati-Nya yang Mahakudus, Sebab Ia telah berjanji “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh. 36:26). (Rm. Aris Fenanlampir).
DOA: ”Ya Hati Kudus Yesus, sinarilah hati kami dengan cahaya kasih-Mu agar dari hari ke hari hati kami diubah untuk semakin menjadi seperti hati-Mu. Milikilah hati kami dan izinkan kami juga memiliki hati-Mu, Amin.”
JANJI: ”Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” - Mazmur 1:1-2
PUJIAN: Romanus adalah seorang rahib di sebuah biara pertapaan dekat Subiaco, Italia. Ia mendampingi Santo Benediktus (pendiri biara Benediktin) hingga menjadi seorang rahib yang terkenal dalam sejarah Gereja. Pertemuannya dengan Benediktus terjadi di daerah pegunungan Subiaco. Kepadanya Benediktus mengetengahkan keinginannya untuk menjadi Rahib. Memenuhi keinginan Benediktus, Romanus menunjukkan kepadanya sebuah gua terpencil yang sangat cocok untuk berdoa dan bermeditasi. Romanus membantu Benediktus dengan menghantarkan kepadanya makanan sehari-hari selama 3 tahun. Menurut cerita, Romanus kemudian pergi ke Auxerre, Perancis agar bisa terhindar dari para pengacau yang telah menyebar di seluruh Italia. Di Auxerre ia mendirikan biara Fontrouge dan disana pula ia menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 550.
Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)