MENGURUSI ANAK-ANAK DAN MERTUA

30 December 2018

Minggu, 30 Desember 2018

Pesta Keluarga Kudus: Yesus-Maria-Yusuf

1 Samuel 1:20-22, 24-28

Mazmur 84:2-3,5-6,9-10

1 Yohanes 3:1-2, 21-24

Lukas 2:41-52

 

Kata Hana kepada suaminya, yang mau ke Bait Suci, “Nanti apabila anak itu  cerai susu, aku akan mengantar dia, maka dia akan menghadap TUHAN dan tinggal di sana seumur hidupnya” --- 1 Samuel 1:22

 

PERNAH AKU  jumpai, di suatu ‘mall’, seorang ibu muda berbelanja bersama anaknya. Mula-mula anak itu selalu ada di dekat ibunya. Tetapi anak itu tertarik jalan-jalan beberapa meter dari ibunya. Dan ibunya tidak bisa melihat lagi anaknya yang kecil itu yang terpisah dan tertutup oleh deretan rak-rak gantungan pakaian, yang dijajakan. Sewaktu ibu tadi tidak melihat anaknya, ia menjadi panik. Dan dalam kebingungan, ia mulai berseru “Agnes, Agnes, di mana engkau?” Orang di sekelilingnya setengah kaget dan menoleh ke ibu yang kebingungan itu. Beberapa detik kemudian muncul si anak itu. Ibu cepat-cepat lari kepadanya dan merangkulnya, dengan menarik nafas lega. Dengan tenang ibu tadi memarahi anaknya karena pergi-pergi menjauh dari ibunya.

Wajah panik campur bingung dan takut nampak dalam wajah ibu muda itu. Hal itu tak terlupakan olehku. Baru beberapa detik saja ia kehilangan pandangan anaknya, ia sudah bingung dan panik. Maria dan Yusuf kehilangan Yesus yang berusia dua belas tahun itu selama tiga hari. Sanak saudaranya yang mereka jumpai, tanyai, tetapi tak ada jawaban yang memberi titik terang. Mereka berdua kembali ke Bait Allah di Yerusalem. Di sana mereka berjumpa kembali. Yesus, anak tukang kayu hidup di desa, pertama kali melihat kota besar seperti Yerusalem, tentu Ia pergi sana sini, akhirnya datang ke suatu tempat “Temu”, di mana orang-orang bertanya jawab dengan para guru. Yesus yang masih berusia dua belas tahun itu, ikut terlibat dalam Tanya-Jawab dengan Rabbi, guru –guru umat Yahudi. Tentu bapa-ibunya kaget dan sebelumnya sangat  kawatir, jangan-jangan Anaknya tersesat di mana, sakit  dan kelaparan.

Hari ini kita rayakan pesta Keluarga Kudus. Tepat kalau kita mendoakan keluarga kita sendiri. Kita berdoa untuk keluarga-keluarga yang mengalami ketakutan, kebingungan dan was-was. Kita berdoa untuk anggota-anggota keluarga yang ‘tersesat’ atau menjauh dan akhirnya menghilang dari Tuhan.

Kita mendoakan pula suami-istri yang baru pesta perak perkawinan. Mereka harus mengurusi anak-anaknya yang sering ‘rewel’ dan membutuhkan perhatian besar. Suami-istri seumur itu juga harus masih mendampingi orangtuanya sendiri yang mulai lanjut-usia atau lansia, yang sering juga merepotkan karena banyak tuntutannya; mereka ini tak kalah gawatnya, dibanding dengan cucu-cucunya, yang menjadi tanggungjawab penuh anaknya. Mereka menjadi seperti anak-anak kecil kembali. Itulah keluarga: nenek, anak dan cucu. Suami-istri yang menjadi ‘anak’ itulah yang memanggul tangungjawab cukup berat, beban di kanan - kiri pundaknya.  

 

Doa: Tuhan, aku mohon bimbingan-Mu untuk keluarga-keluarga yang masih menangung beban menghidupi anak-anaknya yang masih sekolah, bersama itu juga mereka ada yang harus mengurusi orangtua atau mertuanya juga.

Janji: “Ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem, tanpa diketahui orangtuanya”--- Lukas 2:43

Pujian: Di Jakarta dan di beberapa kota lainnya, sesudah Natal sampai Minggu Keluarga Kudus, atau jelang akhir tahun, diselengarakan Retret Keluarga. Tidur dan makan bersama, tetapi acara berbeda untuk anak-anak dan orangtua.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.