MENJADI KELUARGA ALLAH YANG SEJATI

22 January 2022

Sabtu, 22 Januari 2022

2 Samuel 1: 1-4.11-12.19.23-27

Mazmur 80: 2-3.5-7

Markus 3: 20-21

 

“Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat”.

Mazmur 80: 8

 

BACAAN INJIL hari ini sebetulnya dari Markus 3: 20-21 saja, tetapi sebaiknya kita membacanya utuh, Markus 3: 20-35. Sebab, kisah mengenai keluarga Yesus yang datang pada ayat 21, berlanjut dengan ucapan Yesus mengenai ‘ibu dan saudara-saudara-Nya’ yang sejati (Mrk 3:31-35).

Pengajaran dan karya Yesus banyak menimbulkan reaksi. Dari satu sisi, ia menjadi dasar perutusan dan penugasan para murid untuk menjadi apóstolos, atau rasul. Namun, dari sisi lain, karya Yesus itu memunculkan penolakan dan perlawanan, dari iblis dan roh jahat, dari para tokoh agama, kaum Farisi plus ahli Taurat, dari para politisi, kaum Herodian—mereka bahkan bersekongkol membunuh Yesus (Mrk 3:6), dan bahkan dari keluarga Yesus sendiri (Mrk 3: 20-21).

Keluarga ingin menarik Yesus untuk pulang ke ‘rumah-Nya’ (di Nazaret), karena “mereka menganggap Dia sudah tidak waras lagi” (Mrk 3: 21). Para ahli Taurat dari Yerusalem, kemudian menambahkan, “Ia sudah kerasukan Beelzebul, dan dengan pemimpin daimónion (Yun. malaikat yang jatuh), Ia mengusir daimónion” (Mrk 3: 22).

Sikap dari keluarga dan para ahli Taurat ini, kemudian dijelaskan oleh Yesus melalui perumpamaan “Setan (Yun. satanas: musuh langsung Allah) melawan setan” dengan konteks ‘kerajaan dan rumah tangga yang meskipun kuat, tetapi terpecah-pecah’ (Mrk 3:23-26). Di sini, Yesus menunjukkan, ‘kerajaan atau rumah’ (yaitu para pengikut Yesus), hanya bisa diselamatkan, bila Yesus sendiri ‘mengikat Setan dan melepaskan manusia dari kekuasaan jahat’.

Yesus menyebut, tentangan para ahli Taurat itu merupakan penghujatan kepada Roh Kudus, karena yang mereka tolak itu adalah Sang Kekuatan satu-satunya, yang membuat manusia mengawali pengalaman ke-Ilahian-nya. Penghujatan itu tidak bisa diampuni, karena yang ditolak adalah kehadiran Kuasa Pembebasan Allah, satu-satunya sumber dan dasar kehidupan. Inilah mengapa, Yesus memakai, perumpamaan mengenai sosok Satanas, bukan iblis (Yun. diabolos), karena Setan adalah musuh langsung Allah, sedangkan kerja diaboloshanya ‘terbatas’ menyelewengkan dari orientasi hidup yang benar. Maka, yang dilakukan oleh Satanas itu selalu definitif dan final; tidak ada pertobatan maupun pengampunan. Bagi Setan, pertobatan adalah sebuah kontradiksi diri.

Atas dasar karakter finalitas ini, maka bagi Yesus, siapa yang bisa disebut sebagai “saudara-Ku laki-laki, saudari-Ku perempuan, dan ibu-Ku” adalah mereka “yang melakukan kehendak Allah” (Mrk 3: 35). Berhadapan dengan Yesus Kristus, kita tidak bisa kompromi. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, … sekarang pada masa ini, akan menerima kembali seratus kali lipat … dan pada zaman yang akan datang, akan menerima hidup yang kekal” (Mrk 10: 29-30). (Witdarmono).

 

DOA  :  “Ya Allah yang Mahabaik, teguhkanlah kami agar tetap mampu menjadi keluarga umat-Mu dengan melaksanakan kehendak-Mu saja”.

JANJI : “Hai anak-anak perempuan Israel, menangislah karena Saul, yang mendandani kamu dengan pakaian mewah dari kain kirmizi, yang menyematkan perhiasan emas pada pakaianmu”. 2 Sam 1: 24

PUJIAN: Ketika mendengar bahwa Saul, dan anak-anaknya, Yonatan, Abinadab, Malkisua, gugur dalam pertempuran melawan orang-orang Filistin (1 Sam 31: 1-7), Daud menyanyikan nyanyian ratapan (2 Sam 1:17 dst.). Ia pun minta seluruh rakyat untuk berpuasa tujuh hari. Meski Saul pernah mau membunuhnya, tetapi Daud tetap menghormatinya sebagai orang yang telah diurapi Tuhan. Inilah sikap antarmereka yang telah menerima pengurapan. Lewat Baptis, kita semua telah diurapi dengan Roh Kudus yang sama. Mari kita renungkan kembali sikap kita terhadap sesama orang Kristen.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.