MENJADI ORANG SAMARIA?

04 October 2021

Senin, 4 Oktober 2021                  

St. Fransiskus Asisi

Yunus 1:1--2:1-2, 11

MT Yunus 2:3-5, 8

Lukas 10:25-37

 

 “... Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lukas 10:27

 

SEORANG SAHABAT bercerita kepada saya bahwa ia tergabung dalam suatu komunitas. Suatu ketika, seseorang dalam komunitas tersebut memberi informasi bahwa ada seorang ibu di luar komunitas tersebut yang akan dioperasi karena menderita tumor dan membutuhkan darah. Tanpa berpikir panjang sahabat saya itu langsung menghubungi kontak person tersebut. Karena cocok dengan persyaratan ia pergi ke PMI yang telah ditunjuk untuk mendonorkan darahnya. Ia melakukan semuanya itu dengan rasa bahagia dan penuh sukacita meskipun si penerima donor darah tersebut adalah orang yang tidak ia kenal.

Orang Samaria yang murah hati adalah judul perikop Injil pada hari ini. Ketika seorang ahli Taurat mencobai Yesus, dengan berkata “apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?", maka Yesus balik bertanya “apa yang tertulis dalam hukum Taurat”, lalu ia menjawab: “Kasihilah Tuhan Allahmu dan juga sesamamu.” Namun untuk membenarkan dirinya, ia bertanya lagi kepada Yesus: “siapakah sesamaku?”

Dalam menjawabnya, Yesus mengambil suatu perumpamaan yang menceritakan kisah ‘seorang Samaria’  dalam perjalanan ke kota Yerusalem. Di tempat sunyi ia menjumpai seorang Yahudi yang menggeletak di pinggir jalan, baru saja menjadi korban perampokan. Sebelumnya sudah ada  seorang jmam dan  Lewi yang melewati tempat itu dan mereka melihat seseorang menggeletak di pinggir jalan, tetapi mereka jalan terus.

Ketika seorang Samaria melalui jalan itu, ia tergerak hatinya oleh belas kasihan , ia mendekatinya serta  menolong orang itu. Kemudian Yesus balik bertanya  bertanya kepada ahli Taurat itu, siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia? Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Yesus dalam menceritakan kisah ini, sadar akan  hal yang melatarbelakangi adanya pertentangan antara orang Yahudi dan Samaria yang telah berlangsung lebih dari 500 tahun. Pertentangan tersebut disebabkan oleh karena orang Yahudi menganggap bahwa orang Samaria tidak murni berdarah Yahudi karena adanya perkawinan campur antara Yahudi dengan non-Yahudi. Juga  orang Yahudi menganggap ibadah orang Samaria itu tidaklah benar. Atas dasar itulah orang Yahudi memusuhi orang Samaria, bahkan ketika Yesus menanyakan kepada ahli Taurat, siapakah di antara ketiga orang ini yang adalah sesama manusia? Ahli Taurat itu tidak menjawab secara tegas dengan menyebut “orang Samaria” namun ia menjawab “orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya”. Hal itu terjadi karena adanya kebencian yang tertanam pada diri ahli Taurat itu dan orang Yahudi pada umumnya. Tetapi justru Yesus mengangkat ‘orang Samaria yang mereka benci sebagai pahlawan, yang memgenal ‘siapa sesamaku’.

Sebagai murid Yesus, kita diajak untuk mengasihi sesama. ‘Kasih akan Sesama’ kita wujudkan dalam kepedulian, perhatian dan pertolongan kepada orang yang membutuhkannya. Kasih akan sesama itu tidak mengenal batas suku, pribumi-non-pribumi, agama, keyakinan dan adat istiadai serta budaya! Tetapi mungkin masih ada ‘semangat ke-Lewi-an, ke imaman-Yahudi dalam hati kita’ yang mematok batas-batas.

Dalam masa pandemi ini, Covod-19 tidak mematok kriteria siapa yang pantas menjadi sasaran kurban. Semua saja  dan siapa saja, yang terlena, Semua yang terpapar oleh Covid-19, yang membutuhkan pertolongan adalah ‘sesama kita’! Mari menjadi ‘relawan bagi sesama’ yang menderita?

DOA: Tuhan Yesus, bukalah hatiku agar aku mempunyai kepekaan dan sikap belarasa kepada sesama yang menderita. Beri daku semangat untuk menolong sesama, sebab apa yang kulakukan untuk sesamaku sesungguhnya kulakukan untuk-Mu.

JANJI: “Dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN". Yunus 2:9

PUJIAN: Setiap tanggal 4 Oktober, kita peringati Santo Fransiskus dari Asisi (1182-1226). Dia-lah yang  mendirikan Ordo Fratrum Minrum (OFM). Pengikutnya disebut Fransiskan. Dia   dikenal sebagai santo pelindung hewan, pedagang, dan lingkungan. Terlahir dengan nama Giovanni Bernardone, dikenal dengan nama Fransisko. Ayahnya, Pietro, adalah seorang pedagang pakaian kaya. Dalam sebuah cerita, sewaktu sedang bermain  datanglah seorang pengemis dan meminta sedekah. Ia memberikannya semua yang ada di sakunya. Teman-temannya memakinya dan sang ayahnya marah besar. Dikisahkan ia juga mendapat penglihatan di mana dia mendengar suara yang memanggilnya untuk memulihkan Gereja St. Damianus di Asisi yang telah rusak. Ia menjual kudanya dan sejumlah kain dari toko bapaknya, lalu memberikan hasilnya kepada Pastor untuk maksud ini. Ternyata ia salah tangkap. Bukan gedung gereja, tetapi Gereja-Umat Allah yang perlu diperbaiki.

RH oleh: Siswoyo Nugroho P.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.