MENJAGA ANGGUR BARU
02 July 2022
Sabtu, 2 Juli 2022
St. Bernardinus Realino
Amos 9:11-15
Mazmur 85:9, 11-15
Matius 9:14-17
“...Anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya." --- Matius 9:17
ANGGUR BARU harus dijaga dan disimpan di tempat yang tepat supaya anggur dan kantongnya tetap terpelihara dengan baik. Menanggapi pertanyaan murid-murid Yohanes, Yesus memberikan pengajaran tentang puasa yang tepat, anggur yang baru dan kantong yang baru. Apa makna dari Pengajaran Yesus ini? Bagaimana implementasinya bagi kita? Mari kita renungkan beberapa hal berikut ini.
- Berpuasa, Berdoa dan Berjaga-jaga
Yesus tentu saja mengharapkan orang percaya berpuasa, berdoa dan berjaga-jaga setelah Dia kembali ke Sorga. Masa ini adalah masa ketidakhadiran "mempelai laki-laki", yaitu dari saat kenaikan-Nya ke Sorga sampai kedatangan-Nya kembali.
Gereja menantikan kedatangan kembali Sang Mempelai laki-laki-nya seperti para gadis yang menanti kedatangan-Nya, tentu saja sebagai gadis yang bijaksana dengan pelita di tangan dan minyak di dalam buli-buli (bdk. Mat 25:1-13)
Kita sebagai umat beriman, percaya dan berpengharapan bahwa Yesus akan kembali dengan tetap berjaga-jaga berjalan dalam terang Firman Tuhan dan dituntun oleh kuasa Roh Kudus yang senantiasa membimbing kita dalam peziarahan ini.
- Anggur Yang Baru
Perumpamaan ini menekankan pentingnya memelihara baik anggur yang baru maupun kantong kulit yang baru.
"Anggur yang baru" merupakan sari buah anggur segar yang manis, yang tidak beragi, yang melambangkan “Kasih yang mula-mula dalam hidup yang baru.” Kasih yang dialami oleh setiap orang yang percaya akan berita keselamatan dari Yesus Kristus dalam kuasa Roh Kudus mengalami kelahiran kembali.
Sangat penting terutama yang perlu diperhatikan ialah bahwa “Anggur yang baru” ini harus dijaga agar terpelihara dari semua perubahan atau pencemaran;
Anggur yang baru harus tetap segar, kasih yang mula-mula harus tetap bersemi dalam relasi yang intim dengan Tuhan, tetap berdoa dan hidup dalam Firman-Nya.
Anggur yang baru harus tetap manis, kasih yang mula-mula harus tetap menghasilkan rasa yang manis bagi pribadi umat beriman dan komunitas dimana ia berada.
Anggur yang baru harus tetap tidak beragi, kasih yang mula-mula tidak boleh tercemar oleh berbagai macam ragi ajaran sesat yang terus bermanifestasi sepanjang zaman.
- Kantong Kulit Yang Baru
Untuk menjaga agar sari buah anggur tetap segar, manis untuk jangka waktu tertentu, orang akan menyaring atau mendidihkan sari buah tersebut, memasukkannya ke dalam kantong kulit yang baru lalu menempatkannya di suatu tempat yang sejuk. Kantong kulit yang baru diperlukan karena kantong itu bebas dari semua bekas unsur fermentasi.
“Kantong kulit yang baru” adalah hati yang telah diperbaharui oleh Roh Tuhan yang dicurahkan dalam hati kita mentahirkan segala ketidak-layakan kita, hati yang baru dan roh yang baru, hati yang taat yang diam dalam bathin kita untuk hidup seturut Sabda Tuhan. ( bdk Yehezkiel 36:25-27 )
Di dalam hati yang baru inilah anggur baru akan tertampung dengan aman sempurna menjadi anggur yang tetap segar, tetap manis dan tidak tercemar oleh ragi.
Sebagai umat beriman, kita adalah pribadi-pribadi yang telah dipilih, disaring dan dibentuk oleh Tuhan untuk mengalami kasih yang yang mula-mula dalam hidup yang baru. “Anggur yang baru” telah dicurahkan Roh Kudus dalam hati kita, mari jadikan hati kita “Kantong kulit yang baru.” (AHS)
DOA: Roh Yesus perbaharuilah hati kami dengan hati yang baru dan roh yang baru, hati yang taat untuk hidup seturut Sabda-Mu supaya kami dapat menampung Anggur baru yang Engkau curahkan dalam hati kami.
JANJI: Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan? - Mazmur 85:9
PUJIAN: St. Bernardinus Realino setelah istrinya wafat, karena cintanya pada Tuhan, meninggalkan karier duniawinya dan mengabdikan diri menjadi imam Yesuit. Pengabdiannya selama 40 tahun telah menjadi berkat bagi kota Lecce dan kemuliaan bagi nama Tuhan.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ