MENYAMBUT YESUS DI YERUSALEM

10 April 2022

Minggu, 10 April 2022

Hari Minggu Palma

Mengenang Sengsara Tuhan

Yesaya 50:4-7

Mazmur 22:8-9,17-18a,19-20,23-24

Filipi 2:6-11

Lukas 22:14-23:56


“Ketika Ia dekat Yerusalem..., mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring...: "Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!"  --- Lukas 19:37-38


MINGGU PALMA adalah permulaan Pekan Suci yang menjadi puncak Retret Agung kita dalam Masa Prapaskah ini. Hari ini Injil Lukas mengisahkan Yesus yang masuk ke kota Yerusalem dengan gegap gempita disambut dan dielu-elukan sebagai Raja yang datang dalam nama Tuhan. Selanjutnya Lukas juga menyampaikan secara lengkap Kisah Sengsara Yesus : Bagaimana Ia ditolak, dikhianati murid-Nya, diserahkan kepada Makamah Agama, lalu ke Pilatus dan Herodes dan akhirnya dikorbankan wafat disalib atas desakan penduduk Yerusalem. Lukas ingin mengajak kita untuk merenungkan Yerusalem (Yeru-syalom) yang menyambut dan Yerusalem (Yeru-zalim) yang menolak Yesus.

  1. Yerusalem Menyambut Yesus

Ketika Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai, mereka segera mengerti tindakan Yesus dan mengingat nubuat Nabi Zakharia 9:9 mengenai kedatangan Raja Mesias di Sion – Yerusalem yang lengkapnya sebagai berikut: "Bersorak-soraklah dengan nyaring hai putri Sion dan bersorak sorailah hai putri Yerusalem! Lihat, Rajamu datang kepadamu; Ia adil dan jaya, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban  yang muda.".

Ada luapan kegembiraan terungkap ketika mereka menyongsong kedatangan Yesus. Sebagai Raja bagi semua orang (Raja yang adil) dan yang datang dengan penuh kekuatan (yang jaya), meskipun penuh kebesaran namun Yesus  dapat memahami kebutuhan orang bahkan ikut merasakan penderitaan orang (Raja yang lemah lembut). 

Ketika Yesus mendekati Yerusalem, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mujizat yang telah mereka lihat dan berkata: "Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan,  damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!“ (Luk 19:38).

Yerusalem (Yeru-syalom) begitu antusias menyambut Yesus sebagai Raja Mesias yang mereka harapkan akan membebaskan mereka secara politik dari penindasan penjajah. Tetapi Yesus adalah Raja Damai yang datang dalam nama Tuhan, dari Sorga mulia Dia datang untuk membebaskan umat-Nya dari belenggu dosa dan memberikan damai sejahtera bagi setiap orang yang menyambut-Nya, Ia akan meraja dalam hati mereka.

  1. Yerusalem Menolak Yesus

Meskipun sudah mengetahui bahwa kedatangan-Nya ke Yerusalem (Yeru-zalim) akan berakhir dengan penolakan dari para pemimpin, menderita sengsara dan wafat di kayu salib serta kebangkitan-Nya. Dan meskipun sudah tiga kali Yesus menyampaikan hal ini kepada para murid tetapi mereka menganggapnya tidak masuk akal. Yesus tetap mengarahkan pandangan ke sana dan menangisinya.        

Penduduk Yerusalem yang menyambut kedatangan Yesus dengan gegap gempita begitu mudah beberapa hari kemudian berbalik menyerukan; “Salibkan Dia..., salibkan Dia...!!! “

Kisah Sengsara Tuhan yang terjadi di Yerusalem, berawal dari penolakan, egoisme dan haus kekuasaan para pemimpin Yahudi  yang menghasut orang banyak untuk menjadi alat mewujudkan keinginan kotor mereka. 

Tetapi bagi Yesus Putra Allah yang telah mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia..., datang ke Yerusalem menghadapi semua yang akan menimpa-Nya adalah suatu komitmen ketaatan kepada Bapa dan suatu teladan kerendahan hati yang patut dicontoh. Oleh karena kasih yang begitu besar kepada kita semua, Yesus rela menderita. 

Menjelang Tri Hari Suci, perlu kita memeriksa diri: masih adakah keinginan dan motivasi dalam diri kita yang tidak sesuai rencana kasih Allah, keegoisan, kesombongan dan ketidak-taatan menghalangi kita untuk menyambut Yesus dengan antusias masuk dalam kehidupan diri kita pribadi  dan keluarga kita?

Mari kita tinggalkan semua penghalang dalam  menyambut Yesus sebagai Raja Damai dalam keluarga kita. (AHS) 

 

DOA: Bapa, bersihkanlah hati kami untuk menyambut Yesus Raja Damai yang Engkau utus untuk menyelamatkan kami dan jadikanlah kami saksi akan kasih-Mu.

JANJI: “Tuhan Allah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid”. - Yesaya 50:4

PUJIAN: Yehezkiel berarti ‘Allah kekuatanku’. Ia adalah seorang imam dari keluarga Zadok yang dibuang ke Babel bersama Yoakhim tahun 597 SM. Ia dipanggil menjadi nabi dan menubuatkan tentang kehancuran Yerusalem dengan banyak perbuatan simbolis, namun orang-orang  tidak percaya. Setelah peristiwanya terjadi pada tahun 586 SM barulah mereka mulai mengerti nubuat nabi. Selanjutnya Yeheskiel juga mewartakan pengharapan akan kepulangan kembali ke Zion dan keselamatan mereka , sebagai karuniai Tuhan.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.