MENYESALKAH PETRUS DAN YOHANES?

28 April 2022

Kamis, 28 April 2022

 

Kisah Para Rasul 5: 27-33

Mazmur 34: 2,9,17-20

Yohanes 3: 31-36

 

“Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam besar mulai menanyai mereka, katanya,”Dengan keras kami melarang kamu mengajar

dalam Nama itu!” Kisah Para Rasul 5:27-28

 

        PERNAHKAH SEBELUMNYA Petrus dan Yohanes bermimpi bahwa mereka berdua akan dijebloskan ke dalam penjara dan diseret ke hadapan pengadilan Agama Yahudi karena  menjadi murid-murid Yesus? Mungkin mereka sama sekali tidak bermimpi.

        Kalau kita melakukan ‘kilas balik’, Petrus dan Yohanes sudah tiga tahun lamanya meninggalkan rumah dan profesinya menjala ikan untuk mengikuti Yesus, sang Guru. Mereka dan bersama rasul dan murid lainnya tentu  kaget setengah mati menyaksikan Yesus yang mereka ikuti ditangkap, disiksa dan digantung di kayu salib  Dengan sedih mereka mengubur-Nya. Tiga hari kemudian Petrus dan Yohanes mengunjungi kubur-Nya dan mereka dapati kosong. Tetapi kemudian mereka telah melihat Yesus hidup kembali mengunjungi mereka yang masih ketakutan. Dan Yesus , naik ke surga, lalu meninggalkan mereka selamanya.

        Tetapi di hari Pentakosta mereka merasakan sesuatu yang mengubah pribadi mereka, yakni turunnya api Roh Kudus atas diri mereka semua. Dan mereka lalu berani mewartakan Yesus yang bangkit dan melakukan mukjizat seperti Yesus sendiri. Dan saat itu mereka berada di hadapan Sanhedrin, Mahkamah Agama, karena kehebohan yang mereka munculkan di tengah masyarakat, disebabkan mukjizat-mukjizat yang mereka lakukan,

        Apakah Petrus dan Yohanes serta rasul lain membuat ‘komitmen’ untuk  bersaksi sewaktu mereka dipanggil Yesus ? Mereka sama sekali tidak menyadari akan mengalami nasib sewaktu mereka menjawab “Ya” kepada Yesus. Mereka hanya merasa adanya ‘sesuatu yang luar biasa’ dalam diri Pribadi sang Guru, sampai mereka berani mempercayakan diri mereka penuh-penuh pada Yesus, yang mereka ikuti dengan pelbagai petualangan.

        Itulah petualangan menjadi murid Yesus Kristus. Tepatlah apa yang dikatakan pemazmur, “Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia” (Mzm 34: 20).

        Kalau kita mengatakan “Ya” kepada Tuhan, mau-tak-mau kita akan mengalami kerepotan. Para murid Yesus, para suci, semua kenyang dengan penolakan dan penganiayaan, dijebloskan ke penjara dan ada dari mereka yang menjadi martir.

        Dan apa bagi kita ? Kita merasakan Allah telah begitu mengasihi kita, memberikan segalanya kepada kita. Patutlah kita penuh pasrah dan percaya kepada-Nya. Mungkin sukacita dan kegembiraan Pentakosta masih terasa di hidup kita, ataupun seakan-akan seperti Petrus dan Yohanes kita berada  di hadapan  pengadilan; dalam keadaan seperti keduanya, kita tetap menjawab “Ya”  kepada Yesus. Tak ada seorang dari kita tahu apa yang akan terjadi pada diri kita, pada Gereja kita di sini ! Tetapi kita percaya Tuhan Allah telah melengkapi kita semua dengan segala berkat agar kita tetap setia mengikuti-Nya. Ia tetap setia menyertai kita dalam petualangan hidup kita sebagai murid-murid-Nya. (S.Widjojo)

 

DOA   :   Ya Yesus, aku sudah merasakan kebaikan dan kasih sayang-Mu Terimalah “Ya” dariku.

 JANJI : “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan Firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas” Yohanes 3: 34

 PUJIAN: Seorang Romo dalam kotbahnya  , mengatakan, meskipun kita tetap menghormati dan menghargai keyakinan lain, tetap saja kita mendapatkan cap ‘kafir’ oleh sekelompok tertentu. Itu harga yang harus kita bayar sebagai murid-murid Kristus.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.