MENYIKAPI PERTENTANGAN PANDANGAN

28 May 2020

Kamis, 28 Mei 2019

Novena Pentakosta Hari 7

Kisah Para Rasul 22:30; 23: 6-11

Mazmur 16:1-2, 5,7-11

Yohanes 17: 20-26


“Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan  orang Farisi, aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati. Ketika ia (Paulus) berkata demikian, timbullah perpecahan...”  - Kisah Para Rasul  23:6-7

 

SUATU PERPECAHAN? Mungkin bagi kita ‘ini suatu kurang ajar’ sewaktu Paulus membuyarkan pikiran para pimpinan yang menginterogasi dirinya dengan membawa mereka ke perdebatan teologis ‘ada tidaknya kebangkitan’. Tetapi sebenarnya itu adalah ‘suatu kecerdasan’ Paulus, mengadu domba para pimpinan yang mau mengadili dirinya. Ia tahu dan sadar akan apa yang akan terjadi bila dia mengatakan bahwa dirinya diadili karena ‘keyakinannya akan kebangkitan’! Kelompok Saduki yang hanya berpegang pada ke-lima buku Taurat Musa menolak adanya ‘Kebangkitan’ dan ‘hidup kekal’ tentu akan berteriak, ‘bidaah!-bidaah’!

Seperti nyala kecil korek api mengena pada tumpukan sampah yang kering, akan menjadi kobaran api, demikian ucapan Paulus menyulut reaksi besar, teriakan ujaran kebencian dan debat membahana. Pimpinan tentara Romawi yang membawa Paulus ke sidang pengadilan, cepat-cepat menyelamatkan Paulus membawanya kembali ke tempat tahanan.

Apakah mereka salah memiliki keyakinan dan tradisi ajaran yang berbeda? Mengapa mereka ber-reaksi keras, karena mereka memegang teguh dan menghargai tinggi-tinggi nilai keyakinan mereka masing-masing. Tetapi sewaktu emosi semakin membara, begitu cepat kefanatikan beragama mereka berubah menjadi ‘intolernasi’, yang melahirkan keributan dan ancaman bunuh-membunuh!

Pernahkah anda mengalami situasi dalam pembicaraan di mana para peserta mengungkapkan pandangan yang bertentangan, umpama tentang ‘aborsi’, keseteraan ‘gender’ atau tentang ‘orientasi sexual’, dll? Bagaimana reaksi anda? Tentu anda tidak bereaksi kasar sampai tindak kekerasan!

Tetapi bagaimana ‘bahasa kita’, istilah-istilah yang kita gunakan?

Apakah jawaban dan kata-kata kita membawa kejelasan, keteduhan dan penyembuhan, atau sebaliknya ? Bisa saja kita diam saja. Tetapi apa yang terjadi dalam batin dan hati kita? Marah, dendam, umpatan? Adakah ada rasa benci dalam hati kita?

Kita sadari bahwa Yesus merestui kita memahami dan mengutarakan kebenaran malahan juga membelanya! Tetapi dalam hal ini bisa saja kita tak patuh akan pesan Yesus yang menyuruh kita untuk mengasihi  musuh dan mendoakan orang yang menganiaya kita! (Mat 5:43-48). Dalam hal ini, Paus Paulus VI meminta kita, dalam Dekrit Kebebasan Agama, agar kita tetap “bertindak penuh kasih, kebijaksanaan dan kesabaran terhadap mereka yang berada dalam keadaan ‘sesat’ atau tidak tahu-menahu mengenai iman” (KGK 2104). Cara kita menyikapi dan memperlakukan penuh kasih mereka-mereka yang berbeda atau malahan bertentangan pendapat dengan kita, jauh lebih meyakinkan mereka daripada kata-kata kita.

 

DOA: Tuhan Engkau mengenal hatiku. Engkau mendengar setiap kata yang aku ucapkan. Peliharalah diriku  dalam damai-Mu!

JANJI: “Bukan hanya untuk mereka saja aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku berkat  oleh pemberitaan mereka!” - Yohanes 17:20

PUJIAN: Sewaktu tahun-tahun lalu umat kristiani termasuk yang dikafir-kafirkan dan mendapatkan ujaran kebencian, umumnya telinga umat kita menjadi panas, tetapi mereka tetap tenang, karena sebagian masyarakat kita tidak sependapat dengan mereka dan menolak ujaran kebencian, dan dirasa tak beguna menanggapinya.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.