MERASA TERSINGGUNG – DIKATAKAN BUTA !

22 March 2020

Minggu, 22 Maret 2020

Minggu Pra-Paska IV

 

1 Samuel 16:1, 6-7, 10-13

Mazmur  23:1-6

Ephesus 5:8-14

Yohanes  9:1-41

  

“Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: ‘Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?’ " – Yohanes 9: 40

 

SEWAKTU YESUS menyembuhkan orang buta sejak lahir, orang buta itu tidak tahu ‘Siapa’ yang menyembuhkannya. Karena kesembuhannya dari buta dan ia nyatakan bahwa yang menyembuhkan itu bukan sembarang manusia, maka ia diusir oleh oleh orang-orang Farisi. Akhirnya ia berjumpa dengan Yesus yang menyembuhkannya. Dan Yesus mengatakan kepadanya, “Aku datang ke dunia untuk menghakimi, supaya barang siapa yang tidak melihat dapat melihat, dan supaya orang yang dapat melihat, menjadi buta” (Yoh 9: 39). Orang-orang Farisi yang berada di situ mendengardan merasa tersinggung.

Benar Yesus berkata bahwa orang-orang Farisi itu buta. Mereka sebut sebagai ‘para pemimpin yang buta, orang-orang bodoh dan orang-orang buta’ (Mat 23:17, 24, 26). Malah juga pernah para rasul-Nya dikatakan buta sewaktu Yesus mengatakan kepada para rasul-Nya, yang tidak menangkap makna dari mukjizat perbanyakan roti :”Belum juga kamu faham dan mengerti? Telah degillah hatimu ? Kamu mempunyai mata, tetapi tidak melihat. Dan kamu mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar?” (Mrk 8: 17-18). Dan dalam Kitab Wahyu Yesus  menyebut umat di Laodicea itu buta (Why 3:17).

Bisa saja Yesus juga mengatakan kita-kita ini secara rohani buta. Bagaimana kita bersikap akan diagnosa Yesus terhadap kita itu ? Kita tidak mengakui atau kita mengucap terima kasih, karena Yesus mengungkap yang sebenarnya. Orang Farisi tersinggung dan marah sewaktu dikatakan ’buta’ ! Mereka ini buta bahwa diri mereka itu sebenarnya buta (Yes 29:9). Maka tak heran kalau mereka tersinggung sewaktu Yesus menyembuhkan orang buta, dan orang buta itu malah diusir keluar dari Sinagoga (Yoh 9: 34).

Orang-orang Farisi mencoba memaksakan orang lain itu buta. Mereka itu benar-benar buta sampai menjadi kegelapan (Flp 5:8). Dan kegelapan itu tentu benci akan terang (Yoh 3:20). Maka tepatlah kalau orang-orang Farisi benci Yesus, ‘sang Terang Dunia (Yoh 8:12; 9:5). Dan sikap benci akan Yesus sang Terang berujung dengan tuntutan hukuman  mati disalib bagi Yesus.  Kebutaan rohani itu semakin memburuk, dan akan berubah menjadi kegelapan dan kekerasan.

Kita hendaknya menerima realitas bahwa secara rohani kita itu buta ( 2 Kor 4:4). Patutlah kita memohon Yesus untuk menyembuhkan kita dari kebutaan kita itu. Jangan-jangan kita nanti malah menolak dan menyalib sang Penyembuh (Ibr 6:6) dan juga orang-orang yang telah disembuhkan Yesus dari kebutaan rohani.

Kita mohon jangan sampai kita menjadi buta bahwa diri kita itu buta rohani kita.

  

DOA :  Bapa dalam Minggu Pra-Paska ini, ujilah hatiku dan bebaskan aku dari kebutaan rohani  sebelum menjadi buruk !

JANJI : “Berfirmanlah Tuhan kepada Samuel, “Janganlah memandang parasnya dan perawakannya yang tinggi....Bukan apa yang dilihat manusia, yang  dilihat Allah. Manusia melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” - 1 Samuel  16:7

PUJIAN : Dosen Psikologi memberi latihan para mahasiswanya dengan “Johari Window” agar orang ditambah pengenalan dirinya dari ‘umpan balik’ sesama peserta. Sang Dosen menambahkan juga dalam bidang rohani ‘kita akan diperkaya pengenalan diri kita; dengan sabda Tuhan tentang diri kita masing-masing. Tuhan mengetahui isi hati kita.  

 

Penanggungjawab Renungan Harian: Rm. Subroto WIdjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.