MERINDUKAN SESUATU YANG MEMBAHAGIAKAN

26 October 2021

Selasa, 26 Oktober 2021

Roma 8:18-25 

Mazmur 126:1-6 

Lukas 13:18-21

 

“…Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” Roma 8:18

         

SERUAN DOA “ANAMNESE” sesudah Konsekrasi berakhir dengan sukacita, karena adanya ungkapan  kerinduan. “Datanglah, kami menanti - penuh iman dan harapan”. Tetapi pandangan positif sangatlah sukar kita pertahankan,  sewaktu kita dirundung malang, sakit dan derita seperti dalam bahaya nyata dari wabah Covid-19. Keluarga pasien diberi tahu dokter yang menanganinya bahwa dokter sudah angkat tangan, tiada harapan sembuh. Kita tak akan berjumpa lagi dengan sahabat akrab untuk selamanya.

Siapa yang masih peduli lagi akan ‘kemuliaan yang akan dinyatakan’, bila diri kita penuh dengan susah dan derita berkepanjangan? Memang ada janji terbebaskan dari penderitaan, bila kita telah melewati hidup ini dan berpindah ke hidup masa depan, tetapi itu terasa sangat jauh dari jangkauan kita. Rasanya tak mungkin bisa mengatakan ‘penderitaanku ini bukan apa-apa’.

Tetapi di samping harapan yang bisa pudar, kita masih mempunyai iman: iman yang bisa menopang kita sewaktu  duka derita mendera  kita, iman yang memberi jaminan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih mulia dari hidup yang kita alami ini. Penderitaan kita saat ini adalah sebagian dari proses pemurnian, yang membawa suatu transformasi, membawa kita ke arah misteri yang masih akan dinyatakan.

Ada saat-saatnya, cara pandang ini membantu kita untuk memusatkan hati kita kepada Yesus. Dan Dia yang bangkit dari mati menjadi ‘pembimbing’ dalam hal harapan. Maka jangan sampai kita mudah menyerah, apalagi putus asa, bila kita dalam derita dan sengsara. Kita bersandar pada kuat kuasa Allah dan pasrah bercampur percaya bahwa memang ada sesuatu yang penuh kemuliaan yang menanti kita jauh di luar jangkauan pengalaman kita di saat sekarang ini.


DOA: Ya Yesus, saya mohon agar keutamaan harapan, di samping iman dan kasih, tetap menyala khususnya saat dirundung derita.

JANJI: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak sorai”  Mazmur 126:6

PUJIAN: Seorang pensiunan penjaga pintu kereta  dirawat di Unit Gawat Darurat. Ada  seorang Suster yang berada di luar bangsal. Ia mengundang pastor muda yang kebetulan lewat  untuk melayani Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Tetapi, saat ditawarkan, sang pasien menolak malahan mengusirnya. Sang pastor muda mengatakan dia berdoa saja disampingnya.

Dalam keheningan itu, sang pasien mulai berkisah akan masa lampaunya bahwa  dirinya melakukan kesalahan fatal waktu bertugas di pintu kereta dengan lalai menutup pintu karena mabuk-mabuk yang menyebabkan mobil berisi satu keluarga semuanya tewas di tempat. Ia merasa Tuhan menutup pintu pengampunan bagi dosa yang disebabkan oleh kelalaiannya. Bertahun-tahun rasa bersalah menghantuinya dan membuat hatinya merana dan meratap.

Sang Pastor muda bertanya, kapan itu terjadi, dan di mana, dijawab 25 tahunan yang lalu, di persimpangan kereta-api di kota itu. Gantian sang pastor dengan lembut berkisah bahwa ayah ibu dan adik-adiknya 25 tahun yang lalu juga meninggal tertabrak kereta api di tempat yang sama. Ia mengatakan dirinya satu-satunya yang selamat sebab tidak ikut libur akhir pekan.

Pasien tua itu tertegun, bersimbah air mata dan merangkul sang pastor muda. [Oleh: Rm. Subroto)

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.