MUNGKINKAH MENGHAYATI HIDUP, SETURUT TUNTUTAN YESUS?

16 February 2020

SATU PERJAMUAN

FEBRUARI 2020 

 

Minggu, 16 Februari 2020

Minggu Biasa VI

Sirakh 15:15-20

Mazmur 119:1-2, 4-5, 17-18, 33-34

1 Korintus 2:6-10

Matius 5:17-37

 

“Aku berkata kepadamu, Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” -— Matius 5:20

 

DALAM BAGIAN AWAL, sesudah “Delapan Sabda Bahagia” di Bukit, Yesus mengajarkan Standard Hidup  untuk murid-murid Kristus, sangat tinggi. Apa saja itu? Keharmonisan dalam relasi kita satu-sama-lain (Mat 5:22), kemurnian atau kesucian dalam hidup sexualitas (Mat 5:28), kesetiaan dalam hidup perkawinan (Mat 5:32),kebenaran dan kejujuran dalam berbicara (Mat 5:34), dan mengasihi musuh –musuh  (Mat 5:39, 44).

Hidup benar sebagai murid-Nya, kita tidak hanya mengontrol temperamen kita, tetapi kita menyalib-nya (Gal 5:24). Yesus memerintah kita agar  lebih baik kehilangan bagian anggota tubuh kita daripada dengan penuh nafsu melihat tubuh seseorang, dan lebih baik kita ‘menceraikan’ diri kita dari sikap tak mau mengampuni dan dari dosa daripada mencerai pasangan hidup kita. Ia  juga memerintah agar kita mengatakan apa yang sebenarnya daripada kehendak-kehendak kita yang terselubung. Kita perlu memperlakukan musuh-musuh kita jauh lebih baik dari pada memperlakukan teman dan sabahat kita (Luk 15:20 dst).

Patokan hidup atau standard perilaku yang diajarkan Yesus itu sebenar jauh di atas kemampuan kita, malahan mungkin itu sangat mustahil dapat kita hayati. Tetapi sebagai murid Kristus, betapapun sukarnya patokan hidup itu, kita harus mencobanya. Yesus mengajarkan kita untuk menyangkal diri. Kita tidak berfokus pada perbaikan perilaku dan temperament kita, tetapi berfokus pada ‘lahir-kembali’.

Kita tidak mau mendidik ‘kodrat lama kita’ atau manusia lama kita, tetapi kita menenggelamkan manusia lama kita ke dalam Baptisan baru, Baptisan dalam Roh dan api. Kita tidak berusaha untuk membuat diri kita lebih baik, tetapi kita membiarkan Tuhan lewat Roh-Nya untuk membuat kita menjadi manusia yang baru (Why 21:5).

 

DOA:  Bapa, urapilah diriku dengan rahmat-Mu supaya aku dapat menjalani hidup baru yang terasa seperti hal yang sangat mustahil, karena Yesus, Anak-Mu itu adalah Jalan,Kebenaran dan Hidup’ bagi ku (Yoh 14:6).

JANJI: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya” --- 1 Korintus 2:9.

PUJIAN: Mahatma Gandhi, bapa bangsa India, di Bukit. Tetapi ia membaca Sabda Bahagia dari Yesus Kristus. Tetapi ia merasa kecewa menyaksikan hidup orang kristen di India yang jauh dari Ajaran Yesus itu.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.