NATAL DAN KEMARTIRAN
26 December 2022
Senin, 26 Desember 2022
Pesta St. Stefanus, Martir
Kisah 6:8-10; 7:54-59
Mazmur 31: 3a-4. 6. 8a.b. 16b. 17
Matius 10: 17-22
“Lalu kata Stefanus: ”Sungguh, aku melihat langit terbuka, dan Putra Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” - Kisah Para Rasul 7: 56
RASANYA MEMANG ANEH, setelah Pesta Natal 24-25 Desember yang penuh bahagia dan sukacita, pada 26 Desember bacaan liturgi Gereja Katolik bicara tentang kemartiran dan darah, yaitu pembunuhan St. Stefanus, martir pertama.
“Dalam perspektif iman, sesungguhnya peringatan kemartiran St. Stefanus itu sesuai dengan makna sejati dari Hari Natal,” kata Paus Franiskus dalam khotbah Angelus di Vatican pada 26 Desember 2019. “Menurut kisah Kitab Suci, menjelang kematiannya, Stefanus menatap Surga yang terbuka, dan melihat para malaikat serta para kudus memuliakan Allah”.
Memang, pada Kis. 7:55-56 dikisahkan bahwa “Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus yang berdiri di sebelah kanan Allah”. Gambaran itu mirip dengan situasi para gembala Bethlehem yang tiba-tiba melihat penampakan “para malaikat bersama sejumlah besar bala tentara Surga, yang memuji Allah, katanya, ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di Bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Luk. 2:13-14).
Selanjutnya, dalam pesan Angelus 26 Desember 2019 itu, Paus Fransiskus mengatakan, martyrium (Lat.), atau kesaksian iman St. Stefanus, menunjukkan bahwa kekerasan telah dikalahkan oleh cinta, dan kematian oleh kehidupan.
“Dalam puncak kesaksian imannya—puncak kemartirannya--, Stefanus memandang Surga yang terbuka, dan mempersembahkan pengampunan bagi para penyiksa dan pembunuhnya”, demikian ungkap Paus Fransiskus.
***
Kemartiran selalu terkait dengan fokus pada Yesus Kristus, Sang Pokok Iman. Dia-lah yang memberi kekuatan, bukan hanya dari luar, tetapi sampai masuk ke dalam seluruh hidup kita: “Immanuel” (Ibr.), ‘Allah menyertai kita’. Inkarnasi inilah kekuatan bagi manusia dalam perjuangan hidup sehari-hari.
Seperti kesaksian Stefanus, bagi orang Kristen, Surga bukanlah sesuatu yang jauh, terpisah dari Bumi dan dunia. Dalam Yesus, Surga telah turun ke Bumi, tanah konkret kemanusiaan. Melalui dan karena Yesus, segala sesuatu yang menusiawi menjadi sesuatu yang Ilahi. Artinya, kini karena Inkarnasi, segala perbuatan manusia mengarah, menunjukkan, dan mewartakan Yang Ilahi. Inilah inti sebuah ‘martyrium’ atau kesaksian iman yang sejati.
Melalui Stefanus diperlihatkan keteladanan dua aspek utama martyrium, yaitu pewartaan Injil dan karya kasih. Sebagai diakon, Stefanus mengajar, bermisi, berevangelisasi, dan mengurus mereka yang paling rentan, paling menderita, marjinal, dan tersisih (lih. Kis. 6 – 7:53). Bersama dengan para Rasul lain, karya para diakon, seperti Stefanus inilah, yang membentuk sosok dan ciri Gereja Perdana (lih. Kis. 4:32-37).
Katekese dan karya kasih adalah motor Gereja, dulu dan untuk selanjutnya. (WIT)
DOA “Ya Allah yang Mahakuasa, terangilah hati kami agar mampu bersama dengan Bunda Maria, Ibu Penyelamat kami, untuk menghidupi masa-masa Natal ini, dengan tetap menatap Yesus, sehingga mampu menjadi seperti Dia dalam kehidupan sehari-hari".
JANJI “(6) Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia. (17) Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!” - Mazmur 31:6.17
PUJIAN Menurut laporan Aid to the Church in Need (ACN) th. 2019, sebuah Lembaga kemanusiaan Katolik yang didirikan di Belgia pada 1947, dan sejak 2011 telah menjadi Yayasan Kepausan, saat ini diperkirakan ada sekitar 300 juta orang Kristen yang hidup di negara-negara yang kurang menghargai perbedaan agama. Setiap tahun, sekitar 8.000 sampai 100.000 orang Kristen, dibunuh karena iman mereka akan Yesus . Artinya, setiap hari ada martir Kristen. Untuk itu, maka ACN memiliki banyak proyek kemanusiaan, untuk mereka yang tertindas, korban perang, dan korban penganiayaan agama atau etnis. Sekitar 6.000-an proyek tersebar ada di 150-an negara, termasuk di Indonesia. Mereka juga membantu ribuan imam untuk melaksanakan karya-karya kemanusiaan mereka di paroki. Kesaksian iman, atau martyrium ini, harus tetap dipelihara.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ