NYANYIKAN PUJIAN BAGI TUHAN
28 November 2019
S A T U P E R J A M U A N
Edisi NOVEMBER 2019
Kamis, 28 November 2019
Daniel 6:12-28
MT Dan 3:68-74
Lukas 21:20-28
“Pujilah Tuhan, hai embun beku dan salju. ... Pujilah Tuhan hai halilintar dan awan gemawan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia, selama-lamanya.” --- Daniel 33:70. 73
NYANYIAN YANG berisi Pujian itu dikidungkan oleh tiga orang yang dihukum mati dengan dimasukkan ke dalam bara perapian hidup-hidup karena iman kepercayaan mereka. Dalam keadaan seperti itu mereka masih bisa memgajak es dan salju, meminta halilintar da awan-awan bergabung memuji Allah. Di tempat yang nampak tanpa harapan itu Allah membawa agin sejuk dan segar yang membebaskan dan menyelamatkan mereka bertiga. Mereka menyaksikan Allah berada di mana-mana, mengisi dan menyelip di antara semua saja, juga termasuk hal-hal yang mengandung sakit dan derita.
Bila kita mengenali kebaikan Allah dalam segala hal, dalam kegembiraan maupun derita, hati kita tetap hangat berkembang. Lalu apalagi yang kita takutkan ? Mengapa kita tidak dapat bernyanyi dan menari, sebagaiamana ketiga pemuda itu di perapian yang menyala atau seperti Daniel di dalam kerangkeng singa ? Kasih Allah itu memenuhi kita ! Bersama Paulus kita berani berucap, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan atau kelaparan atau ketelanjangan atau bahaya, atau pedang” (Rm 8: 35).
Karena kita merasa aman di tangan-Nya, selalu aman di bawah nauangan sayap-Nya, mari kita ajak apa saja dan siapa saja untuk bergabung memuji Allah dan memuliakan-Nya. Kita tinggikan Dia selama-lamanya!
Doa: Ya Yesus, ajarilah daku selalu bersyukur dan memuji-Mu, dalam keadaan apapun !
Janji: ”Biar bumi memuji Tuhan, nyanyikan dan tinggikan Dia selama-lamanya” ! --- Daniel 3: 74
Pujian: Sarjito, anak tunggal, yang telah tak beribu, saat ayahnya juga meninggal, nampaknya ia ceria, tak nampak rasa sedih. Berulang kali sayup-sayup terdengar mengucapkan “Puji Tuhan- Puji Tuhan” dengan senyum ceria. Seminggu kemudian sewaktu diadakan Ibadat Peringatan, ada teman yang menanyakan, ‘mengapa dia nampak ceria pasrah dan syukur’. Ia jawab, “Bagi saya itu apa yang terbaik dari Tuhan bagi ayah. Ia telah lama menderita. Itu suatu penyembuhan total. Ia tak perlu sakit lagi. Ia percaya,dalam kerahiman Allah Bapa, ayahnya sudah diterima dan bahagia di sisi-Nya”.
Disusun oleh suatu Team
Di bawah koordinasi dan tanggung jawab Rm. Subroto Widjojo, SJ