PANGGILAN DAN PERUTUSAN DARI BUKIT

21 January 2022

Jumat, 22 Januari 202

Agnes, Perawan dan Martir

1 Samuel 24:3-21

Mazmur 56: 2.3-4.6.11

Markus 3: 13-19

 

“Yesus menetapkan 12 orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia, dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil,

dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan”.

Markus 3: 14-15.

 

SETELAH KISAH ringkas padang gurun, tempat Yohanes bekerja, dan Yesus berpuasa (Mrk 1:14-15), Yesus memanggil empat murid-Nya yang pertama, Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes.

Dalam ringkasan kedua (Mrk 3:7-12) ini, setelah karya pengajaran dan penyembuhan-Nya, Yesus naik ke atas bukit (Yun. óros), dan memanggil mereka yang dikehendaki-Nya. Ia kemudian “menetapkan 12 orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia, dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil, dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan” (Mrk 3: 14-15).

       Ada dua hal yang perlu dicermati dalam panggilan para rasul ini.

        Pertama, panggilan ini terjadi di atas bukit, yang dalam tradisi Musa, diyakini sebagai ‘tempat pertemuan dengan Allah’. Ini artinya, ketika memanggil para murid-Nya ke atas bukit, Yesus mengajak mereka untuk bersama-sama merasakan pengalaman akan Allah sebagai ‘Emanuel’, yaitu Allah yang selalu menyertai kita. Angka 12 melambangkan, mereka adalah ‘12 suku terpilih Israel yang baru’. Panggilan di bukit ini menjadi sangat khusus, karena di sini, Yesus menjadi “Musa baru”, dan para murid-Nya menjadi “Israel baru”.

       Kedua, misi panggilan ke-12 Rasul dari bukit ini merupakan kelanjutan dari misi panggilan empat murid pertama di tepi Danau Galilea (Mrk 1:16-20). Pada panggilan di tepi danau, keempat murid dipanggil untuk menjadi ‘penjala manusia’. Ini adalah tugas ‘menarik manusia’ ke dalam Kerajaan Allah, serta kemudian ‘memilih dan memisahkan (manusia) yang baik, dan yang buruk’, seperti disiratkan oleh Yeremia 16:16 (juga Am 4:2 dan Hab 1:14-17) mengenai pengadilan terakhir.

Sedangkan pada panggilan dari atas bukit ini, ditunjukkan bahwa dasar utama panggilan itu adalah kesatuan dengan Yesus Sang Emanuel. Kesatuan ini membuat para murid tidak hanya menjadi ‘penjala manusia’, tetapi diangkat sebagai apóstolos (rasul), yaitu ‘petugas resmi dari seorang atasan’, yang tidak boleh hilang kontak dengan pemimpinnya. Kesatuan dengan Yesus dan predikat rasul ini, menjadi modal bagi ke-12 murid untuk menyertai Yesus dalam perutusan memberitakan Injil, serta dalam melaksanakan kuasa (Yun exousia) mengusir setan, milik eksklusif Yesus (Mrk 1: 22.27; 2: 10).  Secara eksplisit, ke-12 murid itu diikutsertakan dalam perutusan kedatangan Yesus, yang menuntut ‘metanoia’, pertobatan dan perubahan orientasi hidup, serta iman akan Kabar Baik (Mrk 1:15). Melalui perutusan resmi dari bukit ini, para Rasul diminta untuk memaklumkan hukum baru Kerajaan Allah, seperti saat Musa dari Gunung Sinai (2.285 m) harus memaklumkan Sepuluh Perintah Allah.

Penginjil Markus memakai ungkapan Yunani, kérussó, untuk menjelaskan makna ‘memberitakan’. Arti kérussó adalah memberitakan secara resmi sebuah perintah sesuai arahan atasan. Maka kerygma, atau wartanya, tidak boleh menyeleweng dari kehendak pemberi warta. Dalam ungkapan kérussó ada warna kesatuan antara pemberi warta (Yesus) dengan penerima warta (murid).

Warna kesatuan ini merupakan kelanjutan predikat apóstolos—ini pertama kalinya disebut dalam Injil Markus--, yang diberikan kepada ke-12 murid. Dengan menjadi apóstolos, mereka bukan diri mereka lagi, melainkan Allah yang berada dan bekerja dalam diri mereka. Pewartaan mereka bukan berasal dari apa yang mereka pikirkan, tetapi dari yang dipikirkan, direncanakan, dan dikehendaki Allah (Gal 2: 20).

Dua ungkapan apóstolos dan kérussó ini, menuntut perubahan identitas hidup dan kerja para murid. Mereka harus menyangkal diri untuk bisa memikul salib penderitaan serta kesengsaraan dalam perutusan, dan mengikuti jalan hidup Yesus Kristus (Mrk 8:34-36).

Seperti Simon, yang diberi nama oleh Yesus sebagai Petros (batu), atau Yohanes dan Yakobus sebagai Boanerges (anak-anak guntur), saat dibaptis sebagai orang Kristen, kita juga mendapat ‘nama dan identitas’ baru. Namun, berbeda dengan nama lahir kita, nama baptis itu terkait dengan Kerajaan Allah. Nama baptis Maria atau Yusuf, misalnya, mengandung unsur ketaatan pada kehendak Allah, selalu merenungkan sabda-Nya, serta bersikap rendah hati: “Tuhan, aku ini hamba-Mu, terjadilah menurut perkataan-Mu”. 

Lalu, kini apa identitas baru, metanoia, dan perutusan, yang terkandung dalam nama baptis kita? Sudahkah hal ini kita sadari? (Witdarmono)

 

DOA  :  “Ya Allah yang Mahakuasa, sadarkanlah kembali perutusan kami sebagai orang Kristen, yang telah Kau permandikan dengan nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus”. 

JANJI : “Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong. Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” – Mazmur 56: 3-5.

PUJIAN: Ayat Mazmur 56: 3-5 di atas menjadi doa S. Agnes (291-304) dari Roma saat ia dibunuh sebagai martir oleh Gubernur Romawi, Sempronius, karena menolak dipersunting oleh Procop, anaknya. Agnes, yang berasal dari keluarga bangsawan itu, mengatakan: “Aku adalah pengantin Kristus. Kalian dapat menodai pedang kalian dengan darahku, tetapi kalian tidak akan pernah dapat menodai kesucian tubuhku, yang telah kupersembahkan kepada Kristus”. Sempronius pun marah. Ia seret gadis suci itu ke rumah bordil. Namun, iman Agnes menyelamatkannya. Mereka yang coba mendekati Agnes, mendadak buta atau mati; beberapa bertobat menjadi Kristen. Sempronius lalu menyuruh para algojo membakar Agnes hidup-hidup. Namun, kayunya tidak pernah menyala. Ketika Sempronius menyuruh memenggal Agnes, algojo pertama jatuh mati. Algojo kedualah yang membawa jalan kemartiran gadis suci itu. Sejak tahun 354, Gereja menyatakan, Agnes sebagai orang kudus pelindung keperawanan dan kemurnian. Namanya masuk dalam buku para martir suci. Melalui khotbah-khotbahnya, S. Ambrosius (340–397), Uskup Milan, banyak memperkenalkan keutamaan S. Agnes.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.