PANGGILAN PERTOBATAN DAN PEMURIDAN

29 February 2020

SATU PERJAMUAN

FEBRUARI 2020

 

Sabtu, 29 Februari 2020

Yesaya 58: 9b-14

Mazmur 86: 1-6

Lukas 5: 27-32

 

“Aku datang bukan memanggil orang benar , tetapi orang berdosa supaya bertobat?"  — Lukas 5:32

 

PERTAMA-TAMA terasa kurang tepat, bacaan Injil hari ini, yakni panggilan Matius, sang pemungut cukai, menjadi bacaan dalam Masa Pra-Paskah. Tetapi setelah kita baca dan renungkan, ternyata memang ‘kena’ juga, meskipun kisah panggilan Matius kita temukan dalam Masa Advent.

Masa Advent adalah Masa panggilan ke pertobatan untuk mempersiapkan diri guna menyambut pesta agung Kelahiran Yesus, sang Juru selamat. Kisah panggilan Lewi atau Matius, juga dikisahkan sendiri (Mat 9:9-13), dan dikutip – praktis tanpa perubahan- oleh  Markus (2:13-17) dan oleh Lukas, yang menjadi bacaan Injil hari ini, adalah kisah pertobatan. Hal ini cocok dengan MasaPra-Paska – masa pertobatan mempersiapkan diri untuk Paska. Kisah pertobatan pribadi Matius dari pekerjaan harian sebagai pemungut cukai – yang dicap sebagai ’orang berdosa’. Dosa Matius adalah bekerja bagi bangsa Roma –penjajah rakyat Israel-, dan bekerja sebagai pemungut pajak, yang mau tak mau menarik pajak rakyat sendiri – yang sering mencekik bangsanya sendiri. Pertobatan Matius berujud ‘meninggalkan profesi’ yang dianggap dosa di mata masyarakat itu. Hal ini menjadi contoh bagi pertobatan kita di Masa ini.

Orang Farisi dan Ahli Taurat yang ikut makan kemungkinan besar tidak tahu tentang proses pertobatan Matius ini. Lewat para murid-Nya  mereka mengritik Yesus, yang diangap sebagai ‘kyai guru’, kok sudi-sudi ikut makan dalam jamuan orang berdosa. Kritik pedas itu ditepis oleh Yesus sendiri, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,melainkan orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:32).

Kedatangan Yesus ke bumi ini, yang kita siapkan peringatan kelahiran-Nya, bertujuan bukan untuk menyapa orang-orang yang sudah saleh-saleh, tetapi orang yang berdosa, orang-orang yang tersesat, orang-orang yang membutuhkan kesembuhan jiwanya.

Matius tidak hanya bertobat dengan meninggalkan profesinya yang ‘haram’ itu, tetapi ia juga menanggapi panggilan Yesus, panggilan menjadi murid-Nya, menjadi Rasul-Nya. Dari buah pertobatan dan pemuridannya inilah kita memperoleh pewahyuan tentang pribadi Yesus dengan karya-karya-Nya, sebagaimana terekam dalam Injil Matius, pembuka Perjanjian Baru.

Betapapun beratnya dosa kita, rahmat Tuhan jauh lebih berkasa untuk membangkit rasa tobat dalam diri kita. Betapapun beratnya dosa kita, kita juga bisa dipanggil menjadi murid-Nya malahan rasul-Nya di zaman modern ini.  

 

DOA: Bapa, sudilah mengutus Roh Kudus-Mu untuk mengajar kami apa yang menjadi wejangan nabi Yesus dalam bab 58, tentang “Kesalahen yang palsu dan yang sejati”.

JANJI: “Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, llu memgikuti Dia (menjadi murid-Nya) .” — Luk 5:28

PUJIAN: Pak Barjono dan Ibu, sesudah pertobatannya, bersama teman-temannya, sudah lima tahun, mendampingi beberapa dokter, menjadi relawan bagian pelayanan kesehatan di Poliklinik Paroki, setiap Minggu pagi sampai siang. Yang datang tidak hanya umat katolik tetapi lebih banyak non-kristiani, yang meminta pelayanan medis.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.