PATUNG MENGGANTI KEHADIRAN ALLAH?

26 July 2021

Senin, 26 Juli 2021

St. Yoakim & St. Anna, Ortu SP Maria

Keluaran 32:15-24, 30-34

Mazmur 106:19-23

Matius 13:31-35


“Diambilnyalah anak-lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan dogilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air, dan disuruhnya diminum oleh orang Israel” Keluaran 32:20


EMPAT PULUH hari sudah, Musa pergi ke puncak Sinai untuk menerima Perintah Allah bagi Umat Israel. Saat-saat itu cukup lama guna menanti kembalinya Musa, sang pemimpin. Ia tinggal di puncak tertutup awan dan rakyat Israel tinggal di bawah di padang gurun (Kel 19:18-20) maka tak heran kalau orang-orang Israel gelisah dan bersungut. 

Dalam kegelisahan mereka ini yang semakin memuncak hilang iman mereka akan janji Allah dalam penyertaan-Nya selalu dan akan perlindungan-Nya serta pemeliharaan kebutuhan mereka. Mereka ingin sekali mempunyai sesuatu pegangan kuat selama ketidak hadiran Musa, maka mereka meminta Harun untuk membangun patung yang dianggap ‘Allah’ sebagai pemimpin mereka. Patung lembu mas buatan Harun sebagai symbol kuat kuasa Allah dan kesuburan-Nya. Dan hal ini mereka anggap bisa membantu mereka berfokus dalam Ibadat dan membantu mereka merasa aman dan nyaman sebagai pengganti selama tiada hadirnya Musa.

Boleh dikata mereka tetap mempunyai iman akan Allah tetapi juga mereka kehilangan iman mereka akan kebaikan dan penyelengaraan-Nya. Kalau Allah sendiri seakan-akan membuat DiriNya tidak hadir, demikianlah cara pikir mereka, maka baiklah mereka membayang-bayangkan Dia, dengan membuat patung ‘Allah’ dan menyembahnya. Mungkin Tuhan akan memiliki kesan akan diri mereka itu ‘cerdas’, pikirnya, karena Dia menampakkan DiriNya lagi dalam bentuk ‘patung’.

Dan bagaimana kita menyikapi hal ini? Kita tentu tidak sungguh-sungguh akan mendirikan patung menggantikan Yesus, sebagaimana mereka orang Israel itu. Tetapi bisa saja kita tidak lagi berfokus pada-Nya dan kepercayaan kita padaNya menghilang. Bisa saja kita tetap beriman kepada Allah tetapi kita kehilangan iman akan kesetian-Nya pada kita. Sewaktu kita menunggu Tuhan menanggapi kita, kita berbuat sesuatu yang kita anggap berkenan kepada-Nya. Tetapi usaha kita ini bisa saja berakhir dengan kita menciptakan “Allah palsu” – Allah yang mengikuti kehendak kita – bukannya Allah yang menciptakan kita selaras dengan kasih-Nya, berbelarasa dan selaras dengan kebijakan-Nya yang tak terbatas.

Harap kita berhati-hati. Kita uji iman kita! Berani tetap beriman kepada-Nya, meski rasanya tak terasa kehadiran-Nya. (SW)

DOA: “Ya Tuhan batulah mai agar kami ini memiliki iman kuat akan kesetiaan-Mu menyertai kami.”

JANJI: “Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal besar di Mesir.” Mazmur 106:21

PUJIAN: Dalam buku dari Karl Keating, berjudul “What Catholics really believe” – ada 52 jawaban akan kesalah-fahaman umum tentang Iman Katolik, antara lain mengenai relikui – patung, tak seorangpun umat katolik percaya bahwa benda-benda itu memiliki kekuatan magis – suatu benda (materi) menghasilkan yang rohani. Bila ada buah rohani, itu bukan dari bendanya itu tetapi Allah-lah yang menjadi asal dan penyebab buah rohani itu.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.