PEMIMPIN YANG SEJATI
16 October 2020
Jumat, 16 Oktober 2020
St. Margarita Maria Alacoque, St. Hedwig
Efesus 1:11-14
Mazmur 33:1-2. 4-5. 12-13
Lukas 12:1-7
“Jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”--- Lukas 12:7
BERAPA HARGA jual lima ekor burung pipit ? Dalam Injil hari ini, Lukas menjawab dua duit (Yun. assarion) (Luk 12:6), atau dalam uang kita sekarang sekitar Rp 21.250,--.
Meski itu sangat murah, namun Allah sangat mengistimewakan hewan kecil itu. Dan a fortiori – apalgi - kita, umat-Nya, yang jauh lebih berharga daripada seekor burung pipit, Allah pasti memberi keistimewaan dan perhatian yang paling prima. Maka, dalam hidup ini, janganlah takut, kata Yesus. Yang memberi penilaian bukan ukuran manusia, tetapi Allah yang Mahakasih.
Memang, orang sering down, karena dinilai rendah oleh lingkungan atau masyarakatnya. Akibatnya, ia tidak berani ‘keluar’ untuk berbuat sesuatu. Ia menjadi pasif. Itulah gambaran situasi “ribuan orang, yang berkerumun berdesak-desakan” sekitar Yesus (Luk. 12:1). Mereka itu ibarat domba tanpa gembala (Mrk. 6:34). Konteks keadaan inilah—perasaan kecil, down, tak bernilai, pasif--, yang membuat Yesus bicara mengenai kepemimpinan religius (rohani).
Yesus mulai dengan contoh pemimpin yang buruk, yaitu para Farisi. Mereka kuat dalam hukum, serta adat istiadat menuju kesucian. Namun, sikap hidup yang mereka ajarkan, penuh kemunafikan. Mereka bertindak dengan selalu memakai topeng; segala yang buruk ditutupi dengan bungkus-bungkus yang indah; nilai-nilai kehidupan dibolak-balikkan sesuai kepentingan. Itulah inti kemunafikan.
Bagi para pengikut mereka, dampak kepemimpinan semacam itu hanya menghasilkan beban. Banyak peraturan, yang harus dipatuhi—ini ciri khas Farisi--, dan hal ini membuat umat mereka merasa ‘down’. Mereka seakan-akan dibuat sadar tidak akan pernah sampai pada kesucian, kecuali menjadi kaum Farisi. Selain itu, cara kerja dan pengaruh kepemimpinan kaum Farisi, yang penuh kemunafikan itu, bagaikan kerja ragi, yaitu diam-diam merasuki manusia, dan mengubahnya. Maka pesan Yesus: “Waspadalah terhadap ragi itu, yaitu kemunafikan orang Farisi” (Luk12:1).
Lalu, bagaimana pemimpin yang baik? Pemimpin yang baik hanyalah Yesus, Putra Manusia.
Sang Putra Manusia bicara dalam kebenaran, membuka apa yang tersembunyi, dan membuat yang gelap menjadi terang. Dia menghargai ‘mereka yang dianggap tidak berharga oleh dunia’.
Putra Manusia itulah, “yang akan mengakui umat-Nya di depan malaikat-malaikat Allah” (Luk 12:8). Berhadapan dengan Putra Manusia sebagai pemimpin ini, kita tidak perlu takut, tidak perlu merasa ‘down’, atau rendah-diri, karena Allah selalu melihat segala sesuatu dalam kebijaksanaan. Dalam menerapkan hukum dan keadilan, kasih setia-Nya selalu menjadi ukuran dan kerangka yang paling utama (Mzm. 33:4-5). (WIT)
DOA: “Ya Allah, kami percaya, Engkaulah pelindung kami, yang tidak pernah meninggalkan kamu, umat-Mu. Jangan pisahkan diri kami dari-Mu.”.
JANJI: “Firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya” -- Mazmur 33:4-5
PUJIAN: Hari ini kita peringati St. Margaretha Maria Alacoque (1647-1690). Ia seorang biarawati Ordo Visitationis Beatissimae Mariae Virginis/OVBM, yang didirikan oleh St. Fransiskus de Sales (1567-1622). St. Margaretha dikenal karena menjadi penganjur devosi kepada Hati Kudus Yesus (Jumat Pertama). Dalam penampakan, bentuk Hati Yesus itu ialah sebuah hati manusia yang bermahkota duri, tergores luka, dengan api dan cahaya kemilau. Sewaktu romo Claude de la Colombiere, S.J. (1641-1682), bapa pengakuan para suster Visitandines, di biara Paray-le-Monial, Prancis Timur, tempat Margaretha tinggal, devosi Hati Kudus digalakkan melalui khotbah-khotbahnya di Prancis dan Inggris. Tahun 1765, atau 75 tahun setelah Sr. Margaretha wafat, Paus Klemens XIII (1693-1769), mengakui dan menyetujui devosi kepada Hati Kudus.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ