PENGELOLAAN PERUTUSAN
18 June 2023
Minggu, 18 Juni 2023
Hari Minggu Biasa XI
Kel. 19: 2-6a;
Mzm. 100: 2,3,5;
Rm. 5: 6-11;
Mat. 9: 36 - 10: 8.
“Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit, karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja2 untuk tuaian itu” --- Mat 9:37
Agar misi atau pewartaan kita berhasil, tidak cukup hanya mengandalkan semangat berkobar-kobar. Diperlukan pula ‘manajemen’ misi yang baik: siapa yang disasar, mana yang perlu diprioritaskan, siapa yang diutus, pesan apa yang hendak disampaikan, sarana apa yang diperlukan, metode apa yang sesuai, spirit apa yang perlu dipegang, dan seterusnya. Ketika mengutus, sasaran Yesus jelas, yakni domba-domba yang hilang dari kawanan Israel. Yang diutus adalah 12 murid yang selama ini telah mengikuti dan mengenal-Nya. Pesan utama, yakni Kerajaan Allah sudah dekat. Sarana yang diberikan pada para murid adalah kuasa untuk mengusir roh jahat dan menlenyapkan segala penyakit. Metode yang dipakai adalah mengajar dan menyembuhkan. Spiritnya, yakni gratuitas, kamu telah menerima secara cuma-cuma maka berikan juga secara cuma-cuma.
Tahun ini Gereja Universal menyelenggarakan sinode. Tujuannya ialah berdiskresi bersama guna menemukan apa yang sekarang kiranya Tuhan Yesus kehendaki agar Gereja wartakan. Gereja merasa perlu menegaskan pesan-pesan yang signifikan, yang perlu digemakan Gereja saat ini, lebih melibatkan kaum awam dalam kerasulan, memperjelas sikap dan keberpihakannya, serta menemukan cara-cara baru yang lebih partisipatif dan kreatif dalam mewujudkan Kerajaan Allah di tengah dunia yang terus berubah. Spiritnya ialah agar Gereja dapat menjadi “Sakramen Keselamatan Universal”. (LG 48)
DOA: “Semoga kami Engkau buat semakin terlibat aktif dalam menegakkan Kerajaan Allah di dunia”. Amin.
JANJI: “Kamu telah memperoleh dengan cuma-cuma, karena itu, berikanlah pula dengan cuma-cuma”. - Mat 10: 8.
PUJIAN : Diutus Bagian akhir dari Ibadat, baik Ibadat Ekaristi maupun Sabda, pemimpin Ibadat berkata: “Saudara sekalian yang terkasih, dengan ini Perayaan Ekaristi (Sabda) sudah selesai.” Umat menjawab: ’syukur kepada Allah’. Pemimpin Ibadat lalu mengatakan: ‘Marilah pergi, kita diutus!’ Umat menjawab menyetujuinya, ‘Amin’. Diutus untuk apa ? Umat -kita diutus untuk mewartakan Kabar Gembira, kita diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah. Tugas kita diutus untuk pewartaan ini, berasal dari Baptis kita, dan lebih-lebih dari Sakramen Krisma yang telah kita terima. Kita diutus oleh Gereja, oleh Kristus sendiri. Kita memanfaatkan talenta yang Tuhan anugeharkan kepada kita masing-masing dan Tuhan masih memberikan juga karunia untuk pelaksanaan perutusan itu selaras dengan jenis kategorial dan tempat perutusan kita masing-masing. Selain kita harus memahami isi pewartaan kita, kita juga harus berusaha memampukan diri dengan ketrampilan mengkomunikasikannya. Selain itu juga kita perlu memahami, tehnologi media sosial yang semakin canggih. Karena perutusan itu tugas kita semua, kita perlu memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri kita sebagai pewarta yang semakin handal. Kita belajar ‘public speaking’, untuk mengajar , berkotbah, untuk memimpin pertemuan-pertemuan. Kita lewat “Kursus Evangelissi Pribadi (KEP) di diparoki2, dan ikut an Bina lanjut, kita akan lebih siap mempersiapkan bahan-bahan untuk pewartaan. Dalam perutusan ini, kita perlu menyadari, sarana yang lebih tepat guna ialah sarana tatap muka, di mana kita bisa bertindak dan melakukan hal-hal yang mudah ditangkap oleh indera orang yang kita wartai. Contoh dan teladan hidup kita, yakni ajaran yang kita hayati, merupakan kesaksian yang mudah ditangkap, dipahami dan dicerna para pendengar dan para pirsawan. Semua demi AMDG. *****
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ