PENGINGKARAN SEJARAH DAN KELEKATAN
16 August 2021
Senin, 16 Agustus 2021
St. Benediktus Yoseph Labre, St. Stefanus dari Hongaria
Hakim 2:11-19
Mazmur 106:34-35, 36-37, 39-40, 43ab, 44
Matius 19:16-22
“Tuhan menilik kesusahan mereka, ketika ia mendengar teriak mereka.” Mazmur 106:44
KEMAPANAN ITU membuat kenyamanan dan sekaligus kelekatan. Itulah yang dialami oleh bangsa Israel setelah menguasai Kanaan. Mereka lekat dan akrab dengan budaya religius setempat. Mereka beribadah kepada para Baal, dewa penduduk Kanaan, dan “meninggalkan Tuhan, Allah nenek moyang mereka, yang telah membawa membawa keluar dari tanah Mesir” (Hak. 2:11-12). Akibatnya, mereka dihukum oleh Allah, ‘diserahkan kepada para perampok dan dijual kepada para musuh di sekeliling mereka’ (Hak. 2:14).
Itulah kenyataan bangsa Israel. Kenyamanan membuat lupa akan sejarah asal usul keselamatan, dan akhirnya menciptakan kelekatan baru. Namun, meski itu tidak sesuai dengan kehendak Yahwe, namun belas kasih-Nya tetap “menilik kesusahan mereka, saat Ia mendengar teriakan mereka” (Mzm. 106: 44).
Dalam Perjanjian Lama (PL), Yahwe selalu diidentifikasikan dengan sejarah. “Aku Tuhan, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub” (lih. Kel. 3:6.15; 6:2-8). Allah yang sama itulah, dengan setia selalu mendatangi umat-Nya.
Dalam Perjanjian Baru (PB), Yesus juga selalu menunjukkan, Allah Bapa itu sumber kehidupan. Yang berbeda—inilah kekhususan PB–, Yesus itu identik dengan Bapa-Nya. “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9).
Untuk memahami ini semua, Yesus selalu mendahuluinya dengan “damai sejahtera bagi kamu!” Artinya, yang akan memperoleh kehidupan Ilahi hanyalah mereka yang mampu menerima dan memiliki kedamaian Ilahi. Kedamaian hanya bisa diterima, bila tidak ada kelekatan dan pengingkaran sejarah. Maka, Yesus mengajarkan: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat 5:3), antara lain anak-anak, yang datang kepadaNya (Mat. 19:14-15).
Kerajaan Allah memang menjadi janji bagi kaum miskin dan anak-anak, yang tidak memiliki kelekatan diri. Mereka menyadari, hidup dan keselamatan itu tergantung dari ‘yang di atas’, Sang Pencipta.. Karena itulah, mereka disebut bahagia dan disambutNya.
Orang kaya yang datang pada Yesus (lih. Mat. 19:16), juga disambut, karena ia punya niat melakukan perbuatan baik agar memperoleh hidup kekal. Namun, terhadap orang kaya itu, Yesus lebih dahulu mengujinya. “Apakah kamu sudah menuruti perintah Allah, seperti yang tertera pada Kitab Ulangan 20?” tanya Yesus. Jawabannya positip. “Semuanya telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang”, katanya. Lalu, Yesus menantangnya:“Juallah segala milikmu, berikanlah kepada orang miskin, dan datang mengikuti Aku!” Baginya itu berat. Ia pergi, sedih sebab banyak hartanya.
Mengapa, anak dan orang miskin tidak diuji dan ditantang, dan begitu saja dijanjikan ‘akan menerima Kerajaan Allah’? Mengapa si kaya, yang punya niat baik, harus diuji dan ditantang?
Inilah ajaran mengenai kelekatan. Hanya mereka yang sepenuhnya menempatkan seluruh jiwa raganya kepada Allah, dialah yang akan dikaruniai Kerajaan Allah. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). ‘Harta’ kaum miskin dan anak-anak adalah Kerahiman Ilahi. Sebaliknya, ‘harta’ orang-orang berkelimpahan adalah miliknya pribadi. Kemampuan diri dan kreativitas mereka itulah andalan mereka.
Lalu, adakah yang tidak tepat? Ini soal orientasi hidup. Ketika orang tidak memiliki kelekatan ‘duniawi’, dan menyadari ‘asal usul sejarahnya’, ia lebih mudah masuk dalam hidup kekal. (WIT)
DOA: “Ya Bapa, bantulah kami untuk meninggalkan kelekatan duniawi kami. Hanya anugerah rahmat dan kasih kepada-Mu, itulah yang kami minta.”
JANJI: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di Surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Matius 19:21
PUJIAN: Benediktus Joseph Labre (1748-1783) adalah pengemis suci, yang meninggal dunia di gubuk kumuh Roma, pada Rabu, 16 April 1783, menjelang Tri Hari Suci Paskah. Saat meninggal, anak-anak kecil di sekitar tempat itu, spontan berteriak-teriak: “Santo itu telah meninggal! Santo itu telah meninggal!” Merekalah yang pertama-tama mampu melihat kemiskinan Benediktus sebagai kesucian. Pengemis itu memang dianugerahi karisma melihat yang Ilahi dalam kehidupan manusia. Teriakan anak-anak itupun menggema ke seluruh Roma sampai hari pemakamannya, Minggu Paskah 20 April 1783. Puluhan ribu pelayat tidak henti mendatangi makam Benediktus. Kesucian dan pemerantaraan mukjizat-mukjizatnya bahkan dimuat di koran-koran di Inggris.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ