PENGORBANAN KARENA KASIH
11 June 2023
Minggu, 11 Juni 2023
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
Ulangan 8:2-3. 14b-16a
Mazmur 147:12-13.14-15.19-20
1 Korintus 10:16-17
Yohanes 6:51-58
“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, dia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” --- Yohanes 6:51
PENGORBANAN KRISTUS karena kasih-Nya, kepada manusia tidak bisa diterima oleh orang-orang Yahudi. Mereka tidak mengerti secara rohani, mereka bingung bagaimana mungkin secara logika, Yesus dapat memberikan daging-Nya untuk dimakan. Inisiatif perjanjian yang datang dari Allah itu tidak lain untuk membebaskan umat-Nya dan menjadikan mereka milik-Nya. Darah kurban menjadi tanda/lambang ikatan Perjanjian antara Allah dan umat-Nya dan diharapkan agar umat pilihan-Nya itu setia pada janji itu.
Dan dalam Perjanjian Baru, bukan lagi darah anak domba, tetapi Yesus Kristuslah sebagai Imam Agung yang mempersembahkan seluruh diri dan hidup-Nya, menjadi kurban persembahan tanpa celah. Ia mengurbankan diri-Nya, menjadi satu-satunya pengantara umat dan Allah. Dia menjadi wujud nyata perjanjian Allah dan manusia. Yesus memberi Dirinya sehabis-habisnya, memberi Tubuh dan Darah-Nya menjadi santapan kehidupan dan menyelamatkan. Ia menjadi sumber hidup bagi manusia yang memberi kekuatan, kemampuan dan keselamatan bagi yang menyambut Tubuh dan Darah-Nya. Dialah puncak hidup bagi yang beriman dan percaya, yang menyambut-Nya secara khusus dan istimewa dalam Perayaan Ekaristi. Ekaristi merupakan ikatan perjanjian baru, perjanjian yang diikat dengan Darah Yesus, yang menjadi santapan kehidupan, santapan keselamatan.
Kita bersyukur atas pemberian diri Yesus. Tubuh dan Darah-Nya untuk hidup dan keselamatan kita. Kita pun diharapkan dalam merayakan Ekaristi, kitapun menghadiri dengan penuh syukur dan pantas. Menyambut-Nya menjadi santapan kehidupan dan keselamatan. Menjadi berkat bagi diri kita dan bagi orang lain. Ekaristi sungguh menjadi sumber dan puncak hidup kita, yang terus menerus kita timbal segala anugerah dan berkat, mempersembahkan hidup kita dan menjadi semakin setia dalam tugas dan panggilan kita. Semoga Ekaristi sungguh menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita dan hidup kita pun menjadi Ekaristi bagi orang lain. (HUI).
DOA: “Tuhan Yesus kami bersyukur atas pengorbanan kasih-Mu yang bisa kami terima melalui perayaan Ekaristi. Semoga kami terus mampu memelihara cinta-Mu ini dan kami wujudkan dalam kehidupan kami. Amin.”
JANJI: “Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum terbaik.” - Mazmur 147:14
PUJIAN: Manakala Fransiskus berbicara mengenai sang Penyelamat, maka di atas segalanya yang ada dalam pikirannya adalah Ekaristi. Pelayanannya bagi Kristus layaknya seorang ksatria, upayanya meneladan Dia, dan kasihnya kepada Kristus yang begitu kuat, begitu nyata dan hidup itu, bukanlah kepada sang Penyelamat yang begitu jauh dalam waktu atau jarak, melainkan kepada Pribadi Kristus yang langsung hadir dalam Sakramen Mahakudus. Palungan dan salib, keduanya ditemukan olehnya hadir di sini. Di sinilah Guru ilahi Fransiskus hidup dan bernafas. Di sinilah ksatria Kristus berdiri tegap berjaga, hari demi hari di pelataran istana dan takhta Raja-nya yang Maha Tinggi. Bagi Fransiskus, altar adalah tungku-perapian dari iman-kepercayaannya, dari harapannya dan dari kasihnya, tujuan pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakannya. Dalam Ekaristi dan melalui Ekaristi, Kristus – bagi Fransiskus – menjadi suatu realitas yang hidup. Ekaristi adalah fokus keseluruhan hidup religiusnya.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ