PENGUNGKAPAN IDENTITAS YESUS
18 January 2022
Selasa, 18 Januari 2022
1 Samuel 16:1-13
Mazmur 89:20.21-22.27-28
Markus 2:23-28
“Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus, maka tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia”.
Mazmur 89: 21-22
PERIKOP MARKUS 2:23-28 ini merupakan konfrontasi pertama Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi mengenai hari Sabat. Namun, di sini, Yesus tidak memperdebatkan aturan-aturan Sabat. Dia justru menunjukkan bahwa "hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat" (ay. 27). Untuk itu, Yesus memakai kisah Daud pada 1 Sam 21:1-6 guna menunjukan otoritas pribadi-Nya sendiri. "Putra Manusia adalah juga Tuan atas hari Sabat"
Dalam Yudaisme, sosok Daud memiliki tempat istimewa, karena ia menyelamatkan bangsa Israel dari kekuasaan bangsa Filistin melalui kemenangan duel melawan Goliat. Popularitas Daud itu membuat Raja Saul iri hati, marah, dan benci, apalagi saat rakyat bernyanyi: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa (berpuluh-puluh ribu)” (1 Sam 18:7). Maka Daud pun diburu untuk dibunuh.
Namun, dalam pelariannya, rakyat tetap membantu Daud. Saat berada di Nob, Daud dan para pengikutnya kelaparan. Ia lalu minta roti kepada imam Ahimelekh. Tetapi, yang tersedia hanyalah roti kudus, yang hanya boleh disantap oleh imam dan anak-anaknya (Im 24: 9). Namun, karena yang minta adalah Daud, roti itu diberikan. Kebetulan waktu itu adalah hari Sabat, saat roti kudus lama harus diganti dengan roti baru (Im 24:8). ‘Reputasi’ Daud membuat aturan roti kudus dan Sabat disesuaikan.
Dengan menunjuk kisah Daud itu, Yesus menyatakan, di sini ada yang lebih besar daripada Daud. Dia adalah ‘Putra Manusia’ dan sekaligus ‘Tuan atas hari Sabat’. Secara eksplisit, gelar Putra Manusia sudah dinyatakan saat Yesus mengampuni dosa si lumpuh (Mrk 2:10; juga Mrk 8:31). Sedangkan gelar ‘Tuan’ (Kyrios atau Kurios), yang selalu dikaitkan dengan sebuah supremasi (kekuasaan tertinggi) dan wewenang (otoritas), baru pertama kalinya dinyatakan pada Mrk 2:10 ini.
Pengungkapan identitas Yesus ini menjadi titik pangkal semua karya dan pengajaran Yesus, seperti disimpulkan pada Mrk 3: 7-12. Yesus sungguh memiliki kuasa (Yun. exousia) dan kewibawaan dalam mewartakan, menyembuhkan penyakit, mengampuni dosa, mengusir roh jahat, serta dalam menyatukan Diri-Nya dengan Rencana dan Penyelenggaraan Ilahi. Semua kuasa inilah, yang membuat audiences Yesus memberikan reaksi dan tanggapan, ada yang positip maupun yang negatip.
Injil Markus memang mau menekankan, kita semua harus memberi tanggapan dan menjawab panggilan pribadi atas kehadiran Yesus Kristus. Taruhannya adalah hidup kita sendiri. Inilah yang dikatakan oleh Yesus kepada orang banyak dan para murid-Nya. "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku” (Mrk. 8:34).
Keras memang. (WITDARMONO)
DOA : “Ya Bapa yang Mahakasih, jangan jauhkan hidup kami dari Putra-Mu, Yesus Kristus. Urapilah kami dengan Roh Kudus-Mu agar kami makin mampu mengimani dan menghidupi ajaran kasih-Nya, serta menjawab panggilan-Nya secara pribadi”.
JANJI: “Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati”. 1 Samuel 16: 7
PUJIAN: Karya Ibu Teresa dari Kalkuta (1910-1997) sering disalahmengerti. Ada yang menyebut sebagai imperialis religius karena mengabaikan pribumi Hindu. Ada yang menuduhnya munafik, karena mendewa-dewakan penderitaan orang miskin. Meski dikecam, Ibu Teresa tetap mencurahkan hidupnya bagi orang miskin, dan mengajarkan makna sejati dari cinta. “Ketika Anda menilai seseorang, maka Anda tidak punya waktu untuk mengasihi mereka”, begitu katanya. Bukti ketulusan, kesucian dan penyangkalan diri, serta kesediaan memikul Salib Kristus, diafirmasi oleh Paus Fransiskus dengan mengkanonisasi Ibu Teresa sebagai Orang Kudus, pada 4 September 2016.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo