PENTAKOSTA YANG BERSALIB

17 May 2018

Kamis, 17 Mei 2018                                                               

Novena Pentakosta Hari ke-7

Kisah Para Rasul 22:30; 23:6-11

Mazmur 16:1-2a,5,7-8,9-10,11

Yohanes 17:20-26

 

“Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” --- Yohanes 17:20-21

 

SELAMA NOVENA Pentakosta, kita berdoa agar menerima lebih dalam lagi Roh Kudus, yakni Roh Persatuan (Ef 4:3), kita dapat bersatu, sebagaimana Bapa dan Yesus satu adanya. Kita juga mohon Roh persatuan antar umat katolik, antar umat kristiani dan antar bangsa Indonesia tercinta. Persatuan tidaklah berarti menutupi dengan lapisan yang indah menarik atas pecah-pecahan itu, tetapi berarti mengangkat permasalah perpecahan dan menghadapinya. Umpama saja, sewaktu Paulus menyebut permasalahan perpecahan antara kaum Farisi dan Saduki (Kisah 23:6-7). Karena hal itu hampir saja Paulus dirajam berkeping-keping oleh kedua pihak yang bermusuhan (Kisah 23:10). Bila kita menerima Roh Kudus, Roh persatuan, kita akan menghadapi perpecahan dengan terbentur-bentur dan menderita selayaknya.

Ini menimbulkan masalah.  Meski kita sangat merindukan persatuan dengan Allah, di dalam Gereja, dan juga antar musuh, mungkin juga kita tidak mau mengorbankan hidup kita “untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai” (Yoh 11: 52). Bila kita tak bersedia mati demi persatuan, berarti kita tidak ingin menerima Roh Kudus, Roh persatuan. Maka Pentakosta, persatuan dan pengorbanan diri sampai mati, ini tak bisa dipisah-pisahkan.

Kita memiliki Pentakosta bila cinta kita kepada Tuhan cinta akan sesama jauh lebih kuat daripada  cinta diri kita dan rasa takut akan mati;

Cinta kasih daya-dorong yang menuntun kita mati bagi diri kita sendiri, membangun persatuan dan menerima Pentakosta baru. Dan sebaliknya ini semua akan memperdalam cinta kasih kita untuk tetap siap mengalami kemartiran, tindak lanjut dari Pentakosta  menuju kesatuan dengan Tritunggal.

Butuh hati yang besar dan kuat agar dapat berdoa “Datanglah ya Roh Kudus”!

Doa: Bapa, aku rindu sekali unuk menjadi ‘benih’ yang jatuh ke tanah dan mati, lalu menghasilkan buah yang berlimpah (Yoh 12: 24).

Janji: “Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: "Kuatkanlah hatimu, “ --- Kisah para Rasul 23: 11

Pujian: Setelah berdoa kepada Roh Kudus, Didiek memutuskan untuk ikut dalam Kursus Evangelsasi Pribadi (KEP). Mula-mula ikut-ikutan dan ingin tahu saja. Tetapi selanjutnya ia merasa diperkaya pengetahuan iman dan dalam hidup menggereja. Sebelum ikut, ia putuskan akan keluar di tengah jalan, nyatanya ia tetap tanpa ‘bolong’ hadir selama pertemuan KEP di Paroki.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.