PERCAYALAH PADA SABDANYA

26 March 2021

Jumat, 26 Maret 2021

Yesaya 20:10-13

Mazmur 18:2-7

Yohanes 10:31-42


“Bukan karena suatu perbuatan baik, maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, - sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” Yohanes 10:33


SEJAK HIDUPNYA sampai saat ini juga di negeri kita, Yesus tetap menjadi “suatu tanda yang menimbulkan perbantahan” (Luk 2:34).

Kalau kita, umat kristiani berdoa tertuju kepada Allah Bapa, kita menutupnya dengan katakata, “dengan perantaraan Yesus Kristus, PuteraMu, dalam persekutuan Roh Kudus, Allah Esa, meraja sepanjang masa.” Allah itu Esa – ini harga mati. Tritunggal bukanlah menjawab berapa jumlah Allah, tetapi bagaimana ber-relasi Allah yang Esa itu dengan kita dalam alam ciptaan.

Yesus dianggap menghojat Allah sebab Dia mengatakan “Aku Anak Allah” (Yoh 10: 36). Selanjutnya Yesus mengatakan kepada mereka yang menentang-Nya, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya, dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah kepada pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa”(Yoh 10: 37-38).

Dalam hidup-Nya Yesus mewahyukan Bapa kepada kita. Dia katakana bahwa Diri-Nya diutus oleh Bapa (Mat 10:40; Luk 9:48; Yoh 5:30. 6:39) untuk melakukan dan melaksanakan kehendak dan sabda Bapa. Ia jelaskan pula Dia dengan Bapa itu satu. “Segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaKu, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku” (Yoh 5:36). ‘Klaim’ Yesus bahwa DiriNya diutus Bapa dan bahwa Dirinya serta Bapa itu satu, tidak berdasar hanya pada kata-kata-Nya saja, tetapi lebih-lebih pada hidup Yesus sendiri dan apa yang dikerjakan-Nya. 

g dikerjakan-Nya. Memang ada orang-orang yang mendengarkan sabda pengajaran-Nya, mereka lalu percaya kepada-Nya (Yoh 7: 46), dan ada sebagian yang tak-acuh, tak percaya malahan menolak dan mau membunuh dengan melempari batu (Yoh 8: 59; 10: 31). Mereka menuduh Yesus menghojat Allah, dengan menyamakan Diri-Nya dengan Allah. Dalam menanggapinya Yesus merujuk pada apa yang Ia sabdakan itu sebagai kesaksian atau bukti bahwa “Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh 10: 38). Tetapi kata-kata akan sia-sia kecuali jika katakata itu menuntun orang menyadari kebenarannya.

Maka kalau kita membuka diri kepada Yesus dan membiarkan Roh Kudus mengajari kita, apa yang diperbuat oleh Yesus menjadi suatu kesaksian bahwa Yesus adalah Putera Allah. Bila kita tidak mempercayai Dia, keragu-raguan kita akan menghalangi hidup Yesus berkarya dalam diri kita. Justru kita yang menghalangi pewahyuan tentang Allah dan Putera-Nya. Kita lebih menaruh cara pikir kita di atas sabda Allah. Dan sebaliknya bila kita mengkontemplasi karya dan perbuatan agung Allah yang terdapat di dalam Kitab Suci, di dalan hidup para kudus, dan di dalam hidup kita sendiri, Roh Kudus akan mampu mengajar kebenaran kepada kita tentang Yesus. Dan kita semain menyerupai Yesus. (SW)

DOA: “Datanglah ya Roh Allah yang hidup, bukalah hati kami kepada Yesus, dan jadikanlah kami benar-benar anak-anak Allah.”

JANJI: “Ketika aku di dalam kesesatan aku berseru kepada TUHAN.” Mazmur 18:7

PUJIAN: Hakikat iman kita adalah relasi pribadi kita dengan Allah. Tetapi bila agama lebih menekankan kepatuhan buta pada apa yang tertulis dalam perintah agama, tetap sukar menerima Allah yang pribadi dan mahakasih.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.