PERJALANAN PELAYANAN

15 June 2023

Kamis, 15 Juni 2023 

2Kor. 3: 15- 4: 1,3-6

Mazmur 95: 9ab-10, 11-12, 13-14

Matius 5: 20-26

  

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup  untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.” --- 2 Korintus 3: 5

 

         DALAM PELAYANAN sering kali kita dihadapkan pada situasi seperti yang dialami Paulus. Kita sudah melakukan pelayanan, mengorbankan pikiran, waktu dan uang tetapi orang lain justru sebaliknya beranggapan kurang baik kepada kita. Ketika kita melakukan pelayanan di lingkungan tempat tinggal, di gereja atau komunitas lain, kita dianggap orang sok tahu, sok pintar atau sok rohani. Tak jarang kita juga dihadapkan pada orang-orang yang memandang rendah diri kita karena kita bukan orang terpandang dan bukan orang kaya. Bahkan kegagalan kita di masa lalupun dipakai orang untuk menilai pelayanan kita. Kita  sudah melakukan banyak hal namun tak ada yang menghargai pelayanan kita. Jangankan menghargai, yang kita dapatkan malah cibiran.

Situasi seperti ini tentunya akan membuat kita merasa semakin lelah, sakit hati dan bahkan dapat membuat kita menarik diri dari komunitas. Sesuatu yang manusiawi ketika perasaan itu datang sebagai sebuah bentuk ekspresi kita terhadap apa yang kita hadapi. Namun hari ini, melalui kisah pelayanan Paulus, kita diingatkan bahwa dasar pelayanan yang kita lakukan adalah untuk Tuhan. Kita hanyalah melakukan tugas dan tanggung jawab iman. Oleh karena itu kita tak perlu memikirkan terlalu dalam apa yang kita hadapi, tak perlu memendam rasa sakit hati yang akan semakin menambah sakit hati kita.

Selama kita melayani, akan banyak gangguan dalam pelayanan kita dan hal itu tak akan terhindarkan. Gangguan dan kesulitan dalam perjalanan pelayanan kita, tanpa kita sadari akan membentuk karakter kita dan cara pandang kita terhadap suatu permasalahan. Semakin banyak kesulitan, kita juga akan dilatih untuk semakin dapat mengelola emosi, semakin bijak dalam berpikir dan bersikap. Keberagaman cara berpikir orang membuat kita dapat menghargai perbedaan pendapat diantara kita. Banyak hal positif yang kita dapatkan dari banyaknya kesulitan yang kita hadapi. 

Oleh karena itu tetaplah melayani sekalipun orang itu akan mencibir pelayanan kita dan mungkin juga akan menyakitkan hati kita. Tetapi tetaplah bertekun dalam pelayanan dengan penuh semangat dan segenap hati kita. Pada saatnya Tuhan yang akan membukakan hati orang lain bahwa apa yang kita lakukan dalam pelayanan merupakan ungkapan hati dan iman kita. Orang-orang itu pada akhirnya juga akan melihat ketulusan hati kita. Tetaplah melakukan pelayanan dengan kerendahan hati karena pada dasarnya apa yang kita lakukan bukanlah kita yang melakukannya melainkan Tuhanlah yang memampukan kita untuk melakukan pelayanan. Ingatlah selalu bahwa tujuan kita dalam melakukan pelayanan adalah kemuliaan Tuhan. Dengan demikian, semoga kita senantiasa siap menghadapi gangguan-gangguan yang muncul perjalanan pelayanan kita. (AVI).

        

DOA: "Tuhan, Allah Bapa, terima kasih atas penguatanMu hari ini, ampunilah atas keluh kesah kami dalam pelayanan, mampukanlah kami untuk melakukan pelayanan dengan kerendahan hati dan ketulusan hati kami serta senantiasa menyadari penyertaanMu dan pekerjaanMu dalam perjalanan pelayanan kami. Amin.” 

JANJI:m“Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.” Mazmur 85: 12

PUJIAN: Germana lahir tahun 1579 di Pibrac, Perancis. Ia hidup bersama ayah dan ibu tirinya. Ia tidak cantik dan tangan kanannya cacat, sakit-sakitan dan terkena penyakit scrofula. Ia mendapat perlakuan yang kurang baik dari ibu tirinya, ia tidur di kandang bahkan di saat musim dingin tiba. ia sering diolok-olok oleh anak-anak lain karena menggunakan pakaian compang camping.

Pekerjaan Germana menjaga kawanan domba. Ia taat kepada Tuhan, dan ia memiliki anugerah untuk dapat merasakan kehadiran Tuhan. Ia mengikuti misa setiap hari. Ia juga mengajari iman kepada anak-anak agar memiliki hati yang dipenuhi kasih Tuhan. Ia sering membantu yang miskin dengan memberikan sedikit makanan. Suatu hari, ia mencuri roti, tetapi saat ibu tirinya memeriksa celemeknya ternyata tidak ada roti melainkan bunga musim semi. Sejak saat itu, ia mendapatkan perlakuan lebih baik, tidak diolok-olok dan diijinkan tidur di dalam rumah ayahnya namun ia tetap memilih tidur di kandang. Pada tahun 1601, saat berusia 22 tahun, ia ditemukan wafat di atas tempat tidur jeraminya. Pada tahun 1644, saat kuburnya dibongkar karena saudaranya akan dikuburkan di situ, tubuhnya ditemukan dalam kondisi masih utuh. Banyak orang datang untuk melihatnya dan terjadi banyak mukjizat ketika orang menyentuh tubuhnya.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.