PERTOBATAN KARENA PERCAYA
01 March 2023
Rabu, 1 Maret 2023
Yunus 3:1-10
Mazmur 51:3-4.12-13.18-19
Lukas 11:29-32
“Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.” --- Lukas 11:30
KITA SEMUA percaya dan beriman kepada Yesus melalui pengalaman hidup kita. Bermacam-macam pengalaman dari setiap pribadi tentunya berbeda. Pengalaman tersebut kita pegang untuk terus bertumbuh dalam iman kita kepada-Nya. Apakah dalam proses bertumbuhnya iman kita, kita masih terus meminta tanda dan mukjizat dari Yesus?
Yesus berkata:”Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.” Mengapa demikian? Karena mereka memiliki hati yang keras dan bebal. Mereka selalu meminta tanda, padahal Yesus telah banyak melakukan mukjizat bagi mereka. Mereka seolah terus meragukan Yesus dan tidak dapat dipuaskan oleh berbagai mukjizat yang telah dilakukan Yesus. Oleh sebab itu Yesus mengatakan bahwa tidak akan lagi diberikan tanda untuk mereka selain tanda Yunus. Kita ingat bahwa pada waktu Niniwe hendak dimusnahkan, Yunus menjadi satu-satunya “Alat” yang di pakai Allah untuk menyerukan pertobatan kepada bangsa yang akan dimusnahkan itu. Demikian pula untuk angkatan yang ada dihadapan Yesus saat itu, hanya Anak Manusia saja, yaitu Yesus sendiri yang menjadi satu-satunya tanda untuk mereka. Meminta tanda yang menyatakan ketidak percayaan kita kepada Tuhan memang seharusnya tidak kita lakukan. Dan segala sesuatu yang memang tidak dilandasi iman tidak seharus kita lakukan. Maka percayalah kepada Tuhan dengan segenap hati kita dan menjalankan pertobatan kita dengan mengandalkan kasih-Nya dalam setiap pengalaman hidup kita. (HUI).
DOA: “Tuhan Yesus kami bersyukur boleh mengenal-Mu. Bantu kami untuk mampu setia kepada-Mu. Bimbing kami untuk terus bertumbuh dalam iman kepada-Mu. Amin”
JANJI: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelangaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” Mazmur 51:3
PUJIAN: Monika, Ibu Santo Agustinus dari Hippo, adalah seorang ibu teladan. Iman dan cara hidupnya yang terpuji patut dicontoh oleh ibu-ibu Kristen terutama mereka yang anaknya tersesat oleh berbagai ajaran dan bujukan dunia yang menyesatkan. Riwayat hidup Monika terpaut erat dengan hidup anaknya Santo Agustinus yang terkenal bandel sejak masa mudanya. Monika lahir di Tagaste, Afrika Utara dari sebuah keluarga Kristen yang saleh dan beribadat. Ketika berusia 20 tahun, ia menikah dengan Patrisius, seorang pemuda kafir yang cepat panas hatinya. St. Monica dengan sabar mendoakan suami dan anaknya hingga bertobat.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ