PERTOBATAN MENUJU PEMBAHARUAN DIRI
12 April 2022
Selasa, 12 April 2022
Yesaya 49:1-6
Mazmur: 71:1-2.3-4a.5-6ab.15.17
Yohanes 13:21-33.36-38
" Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu! Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." --- Yohanes 13:37b,38b
PERNAHKAN KITA mengalami, bahwa di dalam hidup ini kita merasa baik-baik saja? Tuhan memberkati kita secara luar biasa, baik di dalam karya maupun pelayanan selalu berhasil. Tetapi Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita semua, bahwa kita bukan sedang dalam kondisi yang baik-baik saja. Terkadang kita menilai diri mereka terlalu tinggi di hadapan Tuhan. Sebagai orang yang sudah percaya pun, janganlah kita merasa terlalu yakin terhadap diri kita sendiri. Kejadian yang menimpa Petrus hendaklah menjadi peringatan bagi kita. Sudah seberapa jauhkah kita mengenal Yesus Kristus? Petrus pikir dia sudah mengenal cukup tentang diri Kristus, tetapi kita tahu bahwa ternyata ia keliru. Malam gelap itu Petrus menyangkal bahwa dirinya murid Yesus, sampai tiga kali ! Pertama, ada perempuan penjaga pintu berkata, “Bukankah engkau juga murid orang itu? Jawab Petrus ’Bukan’ “ (Yoh 18: 17). Dan kedua, orang-orang lain yang melihat Petrus berdiri dekat perapian, berkata yang sama, dan Perus menjawab ‘sama pula’ (Yoh 18:25). Sedang yang ketiga, seseorang dari keluarga hamba yang dipotong telinganya (Yoh 18: 10-11), berkata tuduhan yang sama pula, dan “Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam” (Yoh 18:27).
Kita tidak lebih baik dari Petrus, jika ia menyangkal tiga kali, silahkan renungkan sendiri, berapa kali kita menyangkal Tuhan, baik secara langsung maupun tak langsung. Juga bisa, kita tidak menyangkal pribadi Yesus, tetapi berkata dan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kehendak dan ajaran Yesus. Maka yang terpenting adalah suatu sikap rendah hati di hadapan Tuhan, menyadari kita adalah seorang yang lemah dan membutuhkan pertolongan dari Tuhan Yesus. Dengan menyadari kesalahan kita, kita lalu dapat memohon agar kita boleh melewati kegelapan hidup yang digambarkan sebagai malam sebelum ayam berkokok, mengalami sinar terang dari Roh Kudus yang menyinari kita, sehingga boleh berjalan dalam terang-Nya. Kalau kita berjalan ‘dalam terang-Nya’, kita akan lebih waspada terhadap godaan dan jebakan-jebakan untuk menyangkal Tuhan. Kalau kita menjadi waspada, bisa mengurangi kesalahan dan malahan dengan pertolongan-Nya bisa menghilangkannya, berarti kita sudah dalam ‘pembaharuan hidup’. Tetapi ‘pembaharuan hidup’ selalu lewat pertobatan.
Itulah jalan yang dilewati Petrus, yang berdiang dekat perapian karena hawa dingin (Yoh 18:18). Sewaku ayam berkokok. “berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya, ‘sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku’. Lalu ia (Petrus) pergi menangis dengan sedihnya” (Luk 22:61).
Pertobatan dan pembaharuan hidup Petrus juga terjadi di dekat tempat perapian (Yoh 21:9), sewaktu Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya di pantai danau Tiberias. Waktu itu Yesus bertanya kepada Petrus sampai tiga kali juga, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” … Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya. Kata Yesus kepadanya, ‘Gembalakanlah domba-domba-Ku’ ” (Yoh 21: 1-14. 15-17a).
Mari kita setiap hari merendahkan diri di hadapan Tuhan, meneliti batin kita, lalu menyatakan penyesalan dan pertobatan kita dan mohon ampun serta terang Roh Kudus agar boleh membaharui kehidupan kita. (TDU)
DOA: Tuhan Yesus, ingatkanlah aku akan firman-Mu, dan mampukan aku firman-Mu itu memahami serta melakukannya dalam setiap langkah hidupku. Amin.
JANJI: “Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.” - Yesaya 49:2
PUJIAN: Pada Pertemuan Penutupan Kursus Evanglesiasi Pribadi (KEP) ke XIV Paroki Serang, Keuskupan Bogor, para peserta diberi kesempatan memberikan kesaksian tentang pengampunan dan pembaruan hidup yang mereka alami saat mengikuti Retret Pengutusan. Mereka selain merasa ‘plong’ di hati, mereka juga dapat lebih saling mengenal dan saling menguatkan satu sama lain.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ