PERWAHJUAN ILAHI SEBAGAI BERKAT
19 February 2022
Sabtu, 19 Februari 2022
Yakobus 3:1-10
Mazmur 12:2-3.4-5.7-8
Markus 9:2-13
“(Di gunung yang tinggi itu) Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan jubah-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada seorang penatu pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu”.
Markus 9: 2-3
EPISODE ‘YESUS DIMULIAKAN di atas gunung’ ini, terjadi enam hari setelah Yesus mengajarkan bahwa ‘Jalan Dia’ adalah sebuah ‘Jalan Salib’.
Dalam Budaya religi Yahudi, angka 6 (enam) adalah lambang berkat dan rahmat Allah. Itu tampak misalnya pada kisah Rut. Dikisahkan, setelah tertidur dekat kaki Boas, orang kaya di Betlehem, Rut menerima “enam takar jelai dari dalam selendangnya” (lih. Rut 3:15). Jumlah enam takar itu adalah pertanda awal berkat dari Yahwe. Perempuan asing asal Moab itu, memang kemudian menikah dengan Boas, dan melahirkan Obed, kakek Daud, yang dari keturunannya lahir seorang Mesias (lih. Rut 4:18-22).
Kini, berkat Ilahi berbentuk perwahyuan identitas Yesus sebagai Mesias, diberikan kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Untuk kedua kalinya, Allah mewahyukan identitas Yesus sebagai ‘Putra yang Kukasihi’ (Mrk. 9:7; bdk. 1:11). Kehadiran Elia, yang hidup sembilan abad sebelum Kristus, serta Musa, yang hidup 12 abad sebelum Kristus, dipakai untuk menunjukkan bahwa keduanya adalah sosok yang menderita. Pewartaan dan karya mereka sering ditolak oleh umat dan bangsa Yahudi. Keduanya pun menjadi gambaran dari Yesus, Sang Mesias yang baru. Menurut kepercayaan Yahudi, Musa maupun Elia juga diangkat ke Surga dengan tubuh mereka (lih. Ul 34:5-6 dan 2 Raj 2:11-12).
Namun, meski telah menerima ‘berkat penampakan’ tersebut, ketiga murid Yesus itu tidak memahaminya. Mereka masih tetap menilai Yesus sejajar dengan Musa dan Elia. Maka, melalui awan, Allah menyatakan, Yesus adalah ‘Putra Allah yang terkasih, dengarkanlah Dia’. Perwahyuan ini harus dipegang, dan tidak boleh diceritakan kepada siapa pun, “sebelum Putra Manusia bangkit dari antara orang mati” (Mrk 9:9). Kelak, hanya setelah kebangkitan Yesus Kristus, perwahyuan itu menjadi sungguh nyata bagi para murid-Nya.
Dalam kekristenan, rahmat pemahaman mengenai identitas pribadi dan perutusan Yesus, menjadi salah satu kunci eksistensi dan kehidupan iman kristiani. Melalui Paulus, diwartakan bahwa Yesus adalah “Allah yang telah mengosongkan Diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, merendahkan Diri-Nya, dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib” (lih. Flp 2:7-8).
Pewartaan ini menunjukkan, Yesus Kristus hadir dan menyelamatkan justru ‘dalam dan melalui’ situasi kemanusiaan yang paling rendah dan hina. Artinya, rahmat penebusan itu hadir dalam semua sisi kehidupan manusia. Inilah pengharapan, yang membuat kekristenan tetap bertahan hidup, karena ada nilai Ilahi yang ditanamkan pada kemanusiaan. Inilah makna “manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah” (lih. Kej 1: 26). St. Thomas Aquinas (1225-1274) menjelaskan, melalui penciptaannya, manusia itu ditarik dan diberi kekuatan untuk mengarah kepada Allah Sang Mahacinta. Cinta Ilahi, yang diwujudkan dalam inkarnasi (penjelmaan) Yesus Kristus itulah, yang memberi keabadian bagi kemanusiaan. (Witdarmono).
DOA : “Allah Bapa yang Mahakuasa, tanamkanlah dan bukalah hati kami untuk mengimani Yesus Kristus, Putra-Mu, secara benar. Siapkanlah diri kami untuk mewujudkan iman itu dalam perbuatan hidup kami”.
JANJI: “Tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan”. Yakobus 3: 8
PUJIAN : Salah satu teologi yang menyesatkan adalah ‘Teologi Sukses’ (TS), yang berkembang sejak Abad XIX. Teologi itu muncul akibat pengaruh perkembangan dunia yang makin materialistis dan konsumeristis, di mana uang dan materi dipuja dan dikejar. TS mengajarkan tiga ciri orang Kristen yang sejati, yaitu: (1) kaya dan sehat, (2) memiliki ke-ilahi-an, dan (3) dipermandikan dalam Roh Kudus, yang membuatnya memilki karunia bahasa lidah (glossolalia), menyembuhkan, dan mengerjakan mukjizat. Yang tidak memiliki tiga ciri itu, bukanlah orang Kristen sejati, iman mereka masih lemah, atau bahkan sedang hidup dalam dosa. Sesungguhnya, TS itu tidak digali melalui eksegese Kitab Suci, tetapi melalui sinkretisme ajaran mengenai kesuksesan, dengan memanipulasi ayat-ayat KS, yang ditafsirkan lepas dari konteksnya. Di sinilah, kita perlu melihat kembali sikap dasar Yesus terhadap materi dan kehidupan seperti yang diwartakan dalam PB.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ