PESAN BAGI YANG MASIH GAMANG
20 September 2021
Senin, 20 September 2021
St. Andreas Kim Taegon, St. Paulus Chong Hasang, dkk. dan para Martir Korea
Ezra 1:1-6
Mazmur 126:1-2ab, 2cd-3, 4-5, 6
Lukas 8:16-18
“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.” Lukas 8:16
SECARA KHUSUS, penginjil Lukas menulis, nyala pelita di atas kaki dian itu, diperuntukkan agar “semua orang yang masuk ke dalam rumah, dapat melihat cahayanya” (Luk 8:16b). Dengan menunjukkan tujuan nyala pelita itu, Lukas berbicara mengenai sebuah ziarah atau perjalanan manusia ‘memasuki Gereja, kumpulan umat beriman’. Dalam Ecclesia atau jemaat Allah itu, tidak ada lagi ‘rahasia yang tersembunyi’, karena di situ, Allah telah menjadi ‘Terang yang menyala dan menuntun’.
Pada murid Yesus, yang telah diberi “karunia mengetahui rahasia Kerajaan Allah” (Luk 8:10), dan karenanya telah memiliki pelita yang bernyala, bertanggung jawab untuk ‘menempatkan pelita itu di atas kaki dian’, agar orang lain dapat mengshare-nya (berbagi) kepada yang lain, dan yang lainpun melihat Sang Cahaya.
Inilah perutusan para murid Yesus. Kabar Gembira harus diwartakan, bukan untuk disimpan sebagai pengetahuan dan hidup iman pribadi, tetapi untuk “dikeluarkan menjadi buah dalam ketekunan” (Luk 8:15). Mereka tidak boleh berhenti hanya sebagai ‘pendengar’ Sabda, tetapi harus menjadi ‘pelaksana’ Sabda (Yak 1:22-25).
Namun, kenyataannya, Lukas, yang menulis Injil-nya antara tahun 62–65-an untuk umat Kristen berbahasa Yunani di luar Palestina, melihat, umat tersebut masih gamang dengan iman mereka. Di satu sisi, mereka berhadapan dengan budaya Romawi yang dominan dan menggiurkan. Tetapi, di sisi lain, mereka berada jauh dari Bumi, di mana Yesus pernah berkarya. Lalu, harus bagaimana?
Membawa Cahaya Ilahi dari tempat tinggi, memang membutuhkan keberanian dan keyakinan kokoh. Zaman ini, ‘terang bagi dunia’ itu perlu dipraktikkan dalam kehidupan publik seharihari. Sebab, “siapa yang sudah memiliki terang itu, kepadanya akan diberi” (Luk. 8:18). Dan kita semua yakin mampu untuk mewujudkan perutusan tersebut, karena “kesetiaan Allah telah menjadikan kasih, nama, dan janji-Nya melebihi segala sesuatu” (lih. Mzm. 138:2). (WIT)
DOA: “Ya Allah Bapa yang Mahabaik, melalui Sabda dan Karya-Mu dalam diri kami, Engkau telah menuntun hidup kami menuju jalan keselamatan abadi. Teguhkanlah iman kami, sehingga kami juga mampu mewartakan Jalan-Mu kepada sesama.”
JANJI: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Mazmur 126:5
PUJIAN: Kekristenan dibawa ke Korea oleh seorang prajurit Jepang beragama Katolik, saat invasi tahun 1592. Selama dua abad, kekristenan tersebut tumbuh tanpa adanya imam dan sakramen. Hanya Sabda Allah yang menjadi andalannya. Ketika pada Abad ke-19, para misionaris dari Prancis tiba di Korea, mulailah kekristenan berkembang lebih pesat. Pendidikan imam dan katekis diutamakan. Namun, kemudian muncullah penganiayaan dari Dinasti Joseon. Antara tahun 1839 sampai 1867, sekitar 113 orang Katolik (uskup, imam, dan awam) dibunuh sebagai martir. Dua martir awal adalah St. Paulus Chong Hasang (1794-1839), seorang katekis yang dibunuh 22 September 1839, dan seorang imam, St. Andreas Kim Taegon (1821-1846), yang dipenggal pada 16 September 1846. Mereka menjadi wakil para martir Korea lainnya, yang dengan nyawa mereka telah menjadi saksi (Yun. Marturion) Kristus. Darah para martir itulah, yang menyuburkan Bumi Kekristenan Korea. Saat ini, jumlah umat Kristen Korea mencapai 14,5 juta orang, atau sekitar 30 persen dari jumlah penduduk, tertinggi nomor dua di bawah Filipina, yang 92,5 persen penduduknya adalah Kristen.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ