PESAN UNTUK ORANG KOTA
18 September 2021
Sabtu, 18 September 2021
St. Yosef dari Copertino
1 Timotius 6:13-16
Mazmur 100:2-5
Lukas 8:4-15
“Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya.” Lukas 8:4-5
AJARAN YESUS dengan judul “Perumpamaan Tentang Seorang Penabur’ dalam bacaan Injil Lukas hari ini, juga ditulis oleh Matius (13:1-23) dan oleh Markus (4:1-20). Isi praktis sama. Tetapi ada ‘perbedaan sedikit’ dalam narasi. Dalam Lukas dikisahkan “Orang banyak berbondongbondong, yaitu orang-orang dari kota ke kota” (8:4). Dalam Matius kita temukan “orang banyak berbondong-bondong” (13:2), tanpa keterangan “orang-orang dari kota ke kota”. Sedang dalam Markus, tertulis “orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia” (4:1), tanpa keterangan ‘berbondong-bondong’, dan ‘orangorang dari kota ke kota’. Jadi dari infomasi Lukas, dapat dimaknai sebagian besar pendengarnya adalah orang kota, yang bergaya hidup kota.
Ketika Yesus menjelaskan makna penerima firman Allah, yang berkarakter seperti ‘tanah di pinggir jalan, tanah berbatu-batu, dan tanah bersemak duri’ (ay. 12-14). Orang-orang kota adalah orang-orang, yang mudah dipengaruhi Iblis, hanya sebentar percaya, tetapi kemudian murtad karena ada pencobaan, serta selalu terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup. Bukankah itu semua ciri-ciri godaan yang dialami oleh orang-orang perkotaan?
Bacaan pertama hari inipun memberi kesan yang sama. Melalui Timotius, muridnya, Paulus khusus berpesan agar umat Kota Efesus “menuruti perintah ini, dengan tidak bercacat dan tak bercela” (1 Tim 6:14). Yang dimaksudkan dengan perintah itu adalah, jadilah “manusia Allah, jauhilah semua penyakit silat kata, dan cinta pada uang (ay. 2b-10), kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan” (ay. 11) dalam hidup ini.
Sangat jelas, karakter orang kotalah, yang disasar oleh Paulus. Kala itu, jemaat Kristen di Efesus memang sangat digoda oleh berbagai ajaran sesat yang ‘lebih nyaman’. Maka, dalam akhir suratnya, Paulus minta, agar “orang kaya jangan tinggi hati … selalu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi … sehingga bisa mengumpulkan ‘harta yang terbaik’ untuk mencapai hidup yang sebenarnya” (1 Tim 6:17- 19). Harta terbaik itu adalah iman akan Yesus Kristus, yang telah menyatakan Diri-Nya, yang “tidak takluk kepada maut, dan bersemayam dalam terang, yang tak terhampiri” (lih. 1 Tim 6:15-16).
Di sinilah, tuntutan untuk setia ‘menjadi tanah yang baik’, sangat penting. Kesetiaan itu adalah menjadi “orang, yang setelah mendengar firman, kemudian menyimpannya dalam hati yang baik, dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (Luk 8:15). (WIT)
DOA: “Ya Allah Bapa, tuntunlah kami untuk tetap setia pada Sabda-Mu, dan jangan biarkan kami jatuh dalam kata-kata populer tetapi hampa, dalam pergaulan hidup kami.”
JANJI: “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” Mazmur 100:2
PUJIAN: St. Yosef (1603-1663) dari Cupertino, Napoli, Italia, adalah orang kudus, yang ‘unik’. Ayahya wafat sebelum Yosef lahir, dan meninggalkan utang besar. Ibunya terpaksa menjual rumah dan semua miliknya. Yosef pun harus lahir di sebuah kandang. Saat masih anak, ketika berdoa, Yosef sering ekstasi. Jadilah ia bahan ejekan, yang membuat keluarganya malu, dan Yosef ‘ngamuk’. Ia dianggap anak gila. Ketika ingin masuk biara Kapusin, ia ditolak dan diusir. Ia tambah malu; keluarganya pun dicerca. Suatu ketika, ia minta kerja di kandang keledai biara Fransiskan Konventual. Aneh, kandang itu membuat Yosef tenang. Dari kandang itu, ia belajar teologi, dan ditahbiskan imam pada 1628. Setelah jadi imam, saat sedang khusuk berdoa dan mempersembahkan Ekaristi, ia sering mengalami ekstasi. Orang-orang melihat, dia sering ‘melayang-layang’. Ini jadi masalah bagi biara. Yosef lalu diinterogasi oleh Inkuisisi (pengadilan) Gereja. Keputusannya, ia diasingkan seumur hidup di sebuah biara terpencil. Namun, Yosef yang sederhana, suci, dan dianugerahi karunia menyembuhkan ini, sering ‘muncul’ di beberapa tempat di luar biara. Pada 1767, atau 104 tahun setelah wafat, Yosef dikanonisasi sebagai Santo. Ketekunan total dalam doa dan kesederhanaan, adalah keutamaannya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ