PISANG GORENG, ROTI PANGGANG, AJARAN YESUS TENTANG ETIKA DALAM MASYARAKAT
02 March 2023
Kamis, 2 Maret 2023
T.Ester 4 : 10a,10c-12,17-19
Mazmur 138 : 1-2a,2bc-3,7c-8
Matius 7 :7-12
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.“ --- Matius 7 : 12
MAKAN dan makanan adalah adalah 2 hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita makan umumnya 3x sehari. Tubuh manusia membutuhkan makanan yang bernutrisi baik untuk bisa hidup sehat serta sebagai bahan energi untuk beraktivitas setiap hari. Begitu bakunya makan terhadap kelangsungan hidup manusia, maka makanan pun menjadi komoditas yang top untuk usaha/bisnis kuliner. Cara mengolah sampai menyajikan, semua sangat penting diperhatikan, agar bahan makanan tetap baik dan bermanfaat bagi yang memakannya. Ada nasehat : “You are what you eat”, kesehatan kita tergantung dari bagaimana dan apa yang kita makan. “Mens sana in corpore sano”, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Karena itu kita tidak boleh gegabah dalam apa yang kita makan. Kita ingin kita, keluarga dan orang-orang yang kita kasihi semua sehat maka kita memilih mengkonsumsi makanan yang baik, segar dan menyehatkan.
Baru-baru ini penulis mengalami hal yang tidak menyenangkan dan sungguh mengecewakan di sebuah cafe. Penulis bersama keluarga bermaksud meluangkan waktu santai di sebuah cafe yang menyajikan makanan n minuman tradisional. Kami memesan 1 porsi pisang goreng madu (nama menu), 1 porsi roti panggang coklat keju, 1 porsi kentang goreng dengan ikan, 2 gelas cendol Bandung. Terbayang nikmatnya makanan yang akan kami santap. Ketika makanan tersaji, kami segera menyantap. Namun langsung kecewa, aroma tidak segar, agak aneh di lidah, dan rasa yang asal-asalan. Membuat kami menyudahi makan kami dan membiarkan sisanya. Kami mencium bau minyak yang sudah tengik dengan warna gorengan yang kehitaman. Rasa yang sungguh mengecewakan, terutama dari kesegarannya. Kami bertanya kepada pelayan mengapa makanan yang disajikan kondisinya spt itu, pelayan menjelaskan singkat seolah tidak ada yang perlu dikomplain karena memang itulah menu mereka. Hati tidak puas dengan jawaban itu, adik saya penasaran, ketika membayar di kasir kembali menyampaikan pertanyaan dan penilaian terhadap makanan tsb, awalnya kasir terdiam dengan penilaian tsb, terlihat agak grogi. Tapi kemudian, kami hargai kejujurannya. Makanan tersebut memang sudah tidak segar, para pelayan sendiri sebenarnya ragu untuk menyajikan. Pisang goreng yang sudah berbulan-bulan digoreng dan distok kemudian dipanaskan kembali untuk disajikan kepada pembeli. Roti yang sudah tidak fresh, ditambah lagi menurut pengakuan sang kasir yang meminta-minta maaf, kejunya juga sebenarnya sudah tidak layak untuk dikonsumsi. “Maaf ya bu, beginilah adanya” Kami langsung terperangah dan rasanya hendak memuntahkan kembali semua makanan yang terlanjur tertelan. Ya Tuhan, semoga Engkau melindungi kami dari efek buruk makanan tsb, begitu ucapan doa kami. Kami tetap membayar semua makanan yang telah disajikan, dan sang kasir menyarankan kami untuk mengirim pesan komplain kepada pemilik cafe melalui email yang dia miliki. Saudara-saudariku terkasih, perintah yang diucapkan Yesus dalam Matius 7:12, (diatas), mungkin adalah perintah yang paling terkenal dan universil yang pernah dikatakan Yesus. Dengan perintah ini maka Khotbah di Bukit mencapai puncaknya. Ucapan Yesus yang satu ini telah disebut sebagai “Mahkota dari seluruh pengajaran”, puncak dari seluruh etika sosial, dan merupakan ajaran etis yang paling kekal.
Cerita tentang pisang goreng, roti panggang yang penulis sharingkan disini adalah salah satu bukti contoh yang sangat relevan dengan ajaran Yesus tersebut dalam hal yang sangat sederhana dan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari setelah 2000-an tahun sejak Dia ajarkan. Kejadian/pengalaman semacam ini kemungkinan besar dialami juga oleh banyak orang lain. Relevansi ajaran Yesus ini dengan makan dan makanan (sebagai hal yang baku) dalam hidup manusia sehari-hari : bila kamu menginginkan sajian makanan yang baik dan menyehatkan untuk kamu makan, sajikanlah juga makanan yang layak dan menyehatkan bagi orang yang membutuhkan/membeli darimu. Atau dalam kalimat negatifnya : Makanan yang sudah tidak layak dan tidak mau kau makan, janganlah kau sajikan/jual kepada orang lain untuk memakannya. Pengalaman tidak menyenangkan tentang pisang goreng dan roti panggang ini membuat penulis lebih memahami perintah Tuhan Yesus dalam firman hari ini, perintah ini sangat membumi dan sangat mendasar dalam segala aspek sosial / hubungan antar sesama. Semoga sharing ini bermanfaat bagi pembaca terkasih. (VLB).
DOA: ”Allah Bapa terimakasih karena telah mengaruniakan Putera-Mu kepada kami umat manusia, Ia telah mengajarkan kepada kami
segala sesuatu hal untuk kami dapat hidup dengan bijak dan saling mengasihi. Bukakanlah pengertian dan bimbing kami untuk melakukan sesuai perintah-perintah-Nya.”
JANJI: “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7:9-11
PUJIAN: Presiden Republik Indonesia saat ini, yaitu Bapak Ir. Joko Joko Widodo masa kecil dan remajanya mengalami hidup yang sulit, sebagai rakyat jelata bahkan beliau sempat digusur rumahnya yang berdiri di dekat bantaran sungai. Pengalaman hidup yang akrab dengan kesulitan dan kemiskinan membuat beliau memahami dan turut merasakan penderitaan rakyat kecil ketika beliau memimpin sebagai presiden RI. Saya percaya banyak harapan yang pernah beliau miliki ketika masa sulitnya dulu, dan saya juga percaya bahwa harapan itulah yang membuat beliau saat ini begitu peduli dan membuat banyak kebijakan yang ditujukan untuk membantu orang-orang kecil, dan mereka yang terpinggirkan. Apa yang dilakukan Pakde Jokowi tersebut adalah sesuai seperti ajaran Yesus dalam Injil hari ini, Matius 7:12.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ