POHON JELEK
17 November 2020
Selasa, 17 November 2020
St. Elisabet dari Hungaria
Wahyu 3:1-6.14-22
Mazmur 15:2-3ab.3cd-4ab.5
Lukas 19:1-10
“Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? … Yaitu dia, yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba, dan yang tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.” Mazmur 15:1.5
PADA KISAH awal bacaan Injil hari ini, diceritakan, kepala pemungut cukai yang kaya itu memisahkan diri dari massa, agar bisa melihat Yesus tanpa terhalang. Ia lalu memanjat pohon sikamore (Lat. Ficus sycomorus; Ibr. shiqmah). Meski berasal dari marga ficus yang sama, namun pohon ini berbeda dengan pohon ara (Lat. Ficus carica; Ibr. teenah) pada Luk. 6:44, yang sering jadi lambang keamanan dan kesejahteraan (lih. 1 Raj. 4:25; Mikh. 4:4; Zakh. 3:1).
Berbeda dengan buah pohon ara, buah pohon sikamore atau shiqmah ini, tidak enak; biasanya hanya dikonsumsi oleh orang miskin (lih. Am.7:14). Kayu pohon ini memang kuat dan tahan lama. Di Mesir—mungkin karena manfaat buahnya minim--, kayu sikamore dipakai untuk peti mati mumi.
Dalam komentarnya mengenai kisah Zakheus, St. Augustinus (354-430) mengatakan, buah sikamore itu jelek dan tidak enak, sampah daunnya banyak dan penuh hama, dahannya bengkok-bengkok, serta kayunya punya asosiasi dengan peti mati. Hanya orang bodoh yang mau memelihara pohon jelek itu. Namun yang bodoh dan jelek itulah yang dipakai Tuhan untuk keselamatan manusia. Mengutip 1 Kor. 1:23, Augustinus mengibaratkan pohon sikamore seperti salib Kristus: “untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”. Namun, bagi Zakheus, pohon itu ibarat “Kristus (yang) adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah, lebih besar hikmatnya dari pada manusia, dan yang lemah dari Allah, lebih kuat dari pada manusia” (1 Kor. 1: 24-25).
Memang, massa melihat tindakan Zakheus memanjat pohon sikamore untuk melihat Yesus itu, sebagai kebodohan. Yang bijak adalah berada dekat dengan Dia. Namun, “kebijakan dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: "Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya," kata Augustinus mengutip 1 Kor 3:19. “Maka, dipanjatlah ‘pohon ara’ untuk melihat Yesus dan memeluk salib-Nya,” tambahnya.
Kisah Zakheus ini juga merupakan kisah panggilan. Dari situasi tersisih, dibenci dan dianggap bodoh, Tuhan dengan kerahiman dan pengampunan-Nya tetap bisa memanggil seseorang untuk mewujudkan karya istimewa. Karena panggilan Tuhan itu, Zakheus memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat dari apa yang telah diperasnya dari orang lain! Inilah pertobatan luar-dalam hasil panggilan kerahiman Ilahi! (WIT)
DOA: “Ya Bapa, Di hadapan-Mu, kami hanya bisa menyatakan pertobatan kami, karena itulah kunci yang membuka hati kami pada kedatangan dan kehadiran-Mu”.
JANJI: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu, dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya, dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”. - Wahyu 3:20
PUJIAN: Dalam hidupnya yang singkat, St. Elisabeth (1207-1231), putri Raja Hungaria, Andrew II, banyak berkarya bagi kaum miskin. Sewaktu hidup bersama suaminya, Pangeran Ludwig IV dari Turingia (Jerman), ia mendermakan uang, pakaian, dan makanan kepada kaum miskin. Namun, keluarga suaminya tidak suka; ia dianggap memboroskan harta suami. Suatu ketika, suaminya memergokinya membawa bungkusan roti dalam keranjang. Ketika ditanya, Elisabeth menjawab: “Ini bunga mawar”. Sang suami tidak percaya. Ketika bungkusan dibuka, ternyata isinya bunga mawar yang segar dan indah. Tuhan telah menyelamatkan hambanya. Setelah suaminya meninggal, Elisabeth masuk Ordo Ketiga Santo Fransiskus. Ia pun makin giat dengan berbagai kegiatan amal bagi kaum miskin dan anak-anak yatim-piatu.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ