POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK
16 September 2023
Sabtu, 16 September 2023
1 Timotius 1:15-17
Lukas 6:43-49
”Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memeticbuah ara dan dari duri-duri
tidak memetik buah anggur.” --- Lukas 6 : 43-44
POHON MANGGA rimbun di halaman depan rumah tetangga sebelah tengah berbuah. Banyak sekali. Dahan penuh buah yang menjulur ke jalan sangat membuat ngiler setiap orang yang lewat. Termasuk bagi Pacul, anak Pak Tembong pengayuh becak dari kampung sebelah. Hampir setiap melewati jalan di depan rumah sebelah Pacul sering membawa batu untuk melempari mangga biar jatuh. Atau, kadang bawa galah kayu untuk mengait mangga. Riuh ribut dibuatnya saat buah mangga itu berjatuhan. Sudah barang tentu tetangga geram dan marah atas hal yang dilakukan Pacul tanpa permisi itu. Terdengar teriakan jengkel tetangga: “Dasar anak badung. Anak siapa sih?”, “Ohh ... dasar anak Tembong, si tukang becak!”, “Gitu tuch, kalau Bapaknya tidak sekolah!”
Dari cerita diatas, dapat diartikan bahwa apa yang dilakukan Pacul dianggap sebagai cerminan dari apa yang diajarkan dan dilakukan oleh bapaknya, yaitu Pak Tembong. Tindakan seorang anak, akan menggambarkan seberapa baik atau buruk bapaknya.
Sebagai murid Yesus, kita mempunyai tugas untuk mewartakan Kabar Baik. Melalui perkataan dan perbuatan kita. Terhadap tugas perwartaan ini kita telah mengamininya. Ingat pada bagian akhir misa Imam berkata “Pergilah, kita diutus!”. Dan kita menjawab “AMIN!” Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa kita seharusnya menjadi buah dari pohon yang baik. Secara eksplisit Tuhan Yesus meminta kita untuk melakukan apa yang telah Dia katakan. (Luk 6:46).
Kita sadari atau tidak setiap hal yang kita lakukan akan dilihat dan dinilai oleh banyak orang disekitar kita. Baik di rumah, sekolah, kantor, lingkungan, tetangga atau dimana pun kita berada. Pada akhirnya orang akan melihat, berpikir dan mengambil kesimpulan bahwa ada “sesuatu” yang melandasi (memberi motivasi) mengapa kita melakukan suatu tindakan. Dengan demikian sebenarnya melalui perbuatan keseharian yang kita lakukan, kita memiliki banyak kesempatan untuk mewartakan Kabar Baik sepanjang apa yang kita lakukan itu dijiwai oleh iman, kasih dan pengharapan kita akan Tuhan Yesus.
Bagaimana hal itu dilakukan? Kita harus peka dan berani membuka hati di saat Yesus mengetuk pintu hati kita. Ingat bahwa Tuhan Yesus selalu hadir dan mengetuk pintu hati kita. (Wahyu 3:20). Kita buka pintu hati dan kita persilahkan Yesus untuk masuk dan hadir dalam diri kita; serta kita tahtakan Yesus sebagai raja dalam hati kita. Pada saat ini, kita adalah “rakyat”-Nya. Sebagai rakyat, kita harus patuh kepada semua perintah-Nya. Implementasinya, setiapkali kita akan melakukan suatu tindakan nyata, sekecil atau sesederhana apapun, kita panjatkan doa. Mohon bimbingan apa kiranya yang diharapkan Yesus melalui/dalam tindakan kita tersebut. Lakukanlah sesuai dengan perintah-Nya. Lebih lanjut, sebagai rakyat pun kita wajib mempersembahkan yang terbaik kepada “raja” kita. Artinya, kegiatan yang paling baik yang sesuai dengan kehendak raja amat patut kita lakukan sebagai persembahan bagi Sang Raja.
Bila ini terjadi, maka “Kerajaan-Nya” akan sungguh utuh nyata hadir dalam hidup keseharian kita, sebagaimana sering kita ucapkan dalam doa Bapa Kami: “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu …” (HK).
DOA: “Ya Tuhan, kini kami semakin menyadari bahwa Engkau menghendaki agar kami menjadi cabang pohon yang berbuah baik. Sebab Engkau-lah pokok pohonnya. Adalah tugas kami sebagai murid-Mu untuk menjadi pewarta Kabar baik-Mu melalui karya kehidupan keseharian kami. Bantulah kami yang lemah ini agar senantiasa ingat untuk mentahtakan-Mu dalam hati dan kegiatan keseharian kami, Amin.”
JANJI: ”Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi,yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi? Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur.” - Mazmur 113:5-7
PUJIAN: St. Kornelius, Paus dan Martir. Kornelius diangkat sebagai Paus pada tahun 251. Pada masanya (251-253M) Gereja menghadapi masalah yang serius dari luar dan dari dalam. Tekanan dan penganiayaan dari kekaisaran membuat banyak orang Kristen meninggalkan imannya (murtad). Di dalam Gereja ada pandangan (ajaran Novianus) bahwa bagi mereka yang sudah keluar Gereja tidak dapat diterima kembali dalam persekutuan Gereja Kristus. Meskipun mereka amat menyesal, melakukan tobat secara mendalam dan memberi denda yang besar. Hal ini sangat ditentang oleh St.Kornelius sebab sangat tidak sesuai dengan ajaran murni Kristus yang datang untuk orang berdosa. Oleh prakarsa Paus Kornelius diadakan konsili yang sepakat mengutuk ajaran Novianus menganggapnya sebagai bidaah. Kondisi Gereja semakin sulit. Atas perintah Kaisar Gayus Vibius Trebunianus Gallus, di tahun 253 Paus Kornelius dibuang ke Civita Vecchia dan meninggal dalam penderitaan yang hebat.
Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)