PUASA DENGAN KERENDAHAN HATI
02 March 2022
Rabu, 2 Maret 2022
RABU ABU
Yoel 2:12-18
Mazmur 51:3-4.5-6a.12-14.17
2Korintus 5:20-6:2
Matius 6:1-6.16-18
“Tetapi apabilah engkau berpuasa minyakilah kepalahmu dan cucilah mukamu supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” --- Matius 16:17-18
ORANG SERING kali memperlihatkan apa yang ia lakukan atau apa yang dimilikinya. Ada yang suka memperlihatkan handpone atau mobil baru kepada orang lain lengkap dengan harganya ; ada pula yang bercerita tentang keberhasilannya, ada pula yang memperlihatkan kelebihan diri atau kebaikan yang pernah ia lakukan kepada orang lain. Tujuannya tiada lain agar orang lain memuji, menghargai , dan menghormatinya. Tetapi hal ini tepat dan patut dibenarkan ?
Rabu Abu ini adalah permulaan Masa Puasa atau Masa Prapaska. Gereja mengajak kita untuk menghayati persiapan Paska ini dengan laku tobat selama 40 hari. Bangsa Israel waktu itu menunjukkan laku tobat dengan menaburkan debu di atas kepala mereka, memakai pakaian kabung, berpuasa dan memperbanyak kegiatan berdoa . Itulah saat perdamaian antara umat dengan Allah. Umat berbalik kepada Allah dari dosa-dosa mereka dengan penuh kesadaran bahwa Allah itu pengasih dan penyayang .
Tradisi Puasa dan Tobat ini cukup ketat diikuti oleh seluruh umat Israel. Sebagai orang Yahudi, Yesuspun tentu tahu hal itu dan mengikuti juga tradisi puasa dan tobat dengan setia sebagaimana diajarkan dalam keluarga-keluarga Yahudi. Meskipun begitu, di dalam Injil hari ini , Yesus nampak sadar akan kenyataan praktek puasa dan tobat di kalangan bangsa-Nya. Maka tak heran Yesus lalu mengingatkan para murid agar jangan mengikuti kebiasaan yang salah, yakni melakukan puasa mereka sebagai kesempatan untuk pamer kesalehan. Sebaliknya wajah dan perilaku para murid harus tampil bersih agar jangan terlihat kalau mereka sedang berpuasa. Ini berarti puasa harus disertai dengan kerendahan hati, menjauhi kemunafikan.
Gereja masih menambahkan lagi kegiatan Masa Puasa ini dengan karya amal kepada sesama. Tindakan amal kasih kepada sesama ini juga harus disertai dengan sikap hati yang tulus, tidak mencari imbalan, yang berupa pengakuan dari orang lain, tetapi sungguh berorientasi pada Allah dan sesama
Masa Prapaska ini dapat kita jadikan Masa Retret Agung selama 40. Melalui proses retret yang lama dan panjang ini, kita ingin mengalami bahwa dalam hidup ini, kita tidak hanya bergantung kepada makanan dan minuman jasmani tetapi juga sangat butuh santapan rohani. Dengan demikian dalam hidup ini setahap demi setahap kita lalu memiliki keutamaan ugahari, kebijakan hidup, ‘tepa salira’, bela-rasa, memiliki tata nilai dalam hidup bermasyarakat.
Dalam Masa Prapaska ini, kita diajak untuk lebih mendalami serta menyadari bahwa keberadaan kita bergantung penuh kepada Allah yang Mahakuasa, Mahakasih dan Maharahim. Dengan olesan abu di dahi, kita diingatkan bahwa kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu, sebagai ungkapan ‘kerendahan hati’. (Sr. Rosalinda Kolo)
DOA: “Tuhan Yesus berilah aku rahmat kesetiaan kepada-Mu melalui pantang dan puasa, melalui pergumulan melawan hawa nafsu guna menata hidup selaras dengan kehendak-Mu. Bimbinglah aku menghayati Masa Puasa ini dengan rendah hati.”
JANJI: “Jadikanlah hatiku tahir Ya Allah dan perbaharuilah batinku dengan Roh yang teguh” Mazmur 51:12
PUJIAN: Dua minggunan sebelum Hari Rabu Abu, di gereja-gereja diumumkan agar umat membawa daun-daun palma kering yang mereka terima dalam menyambut Minggu Palma sebelumnya. Daun palma kering itu dibakar dan abunya diberkati serta digunakan untuk mengolesi dahi umat yang menghadiri Misa Rabu Abu.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ