PUASA DENGAN ORIENTASI KERAJAAN ALLAH
19 February 2021
Jumat, 19 Februari 2021
Yesaya 58:1-9a
Mazmur 51:3-4.5-6a.18-19
Matius 9:14-15
“Puasa yang Ku-kehendaki: membuka belenggu- belenggu kelaliman, … memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar, membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, … memberi pakaian bagi yang telanjang. Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.” Yesaya 58:6-8
SELURUH KARYA YESUS terkait dengan kedatangan Kerajaan Allah, yang dalam teologi PB sering digambarkan sebagai sebuah ‘perjamuan nikah’ (Mat 22:1-14; 25:1). Di situ ‘mempelai’-nya adalah Yesus Kristus sendiri (Mat 9:14-15; Why 19:7). Dalam konteks ini, kehadiran ‘sang Mempelai’ harus disadari terus menerus, termasuk saat laku tapa dan puasa.
Apa artinya?
Tokoh seorang ‘suami’ (Yes 54:5; 62:5 dan Hos 2:18), digambarkan, ketika Yahwe datang sebagai ‘mempelai’, semuanya bergembira. Kehadiran-Nya menjadi ‘kabar baik’ bagi mereka yang sengara, remuk hati, terkurung, dan berkabung (Yes 61:1 dst.).
Kerangka kehadiran Kabar Baik inilah yang menjadi dasar dari semua kesalehan sejati, termasuk kesalehan berpuasa. Maka, sangat wajar bila puasa yang dikehendaki oleh Allah, adalah “membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk … memerdekakan yang teraniaya … memberi makan yang lapar … tumpangan bagi yang tak punya rumah, serta pakaian pada yang telanjang” (Yes 58:6 dst).
Berpuasa kita adalah ungkapan kabar gembira Allah kepada orang-orang lain. Berpuasa adalah sesuatu yang istimewa. Ia bukan sesuatu yang ‘taken for granted’, sambil menjalankan kehidupan sehari-hari seperti biasa. Berpuasa adalah mengubah diri, mengalihkan dan memalingkan seluruh hidup pada kehendak dan rencana Ilahi. Nabi Yesaya mengecam puasa di mana orang “masih terus mengurus dirinya saja, menekan para karyawan, berbantah, berkelahi, dan bertindak semena-mena” (Yes, 58:4).
Di sinilah, Yesus kembali menunjukkan orientasi yang benar dari berpuasa, yaitu agar kemuliaan Kerajaan Allah makin bersinar dalam kehidupan orang lain. Ini artinya, belenggu-belenggu kelaliman, sikap tidak hormat dan kebencian pada sesama, harus dilepaskan. Demikian pula, segala yang membuat diri kita menjadi beban bagi orang lain, harus disingkirkan. Saling berbagi rezeki, solidaritas dalam hidup bersama, saling memberikan kehormatan dan harga diri, itulah puasa yang sejati (Yes 58: 5-7).
Berpuasa semacam itulah yang memberikan sebuah ‘terang’, layaknya kedatangan seorang pengantin dalam sebuah keluarga, yang menghapus semua kegelapan yang lampau. Puasa yang sejati selalu memunculkan warna sukacita dan syukur. Inilah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam usaha mewujudkan Kerajaan Allah dalam seluruh kegiatan hidup manusia, termasuk puasa maupun doa. (WIT).
DOA: “Ya Bapa yang Mahapenyayang, tunjukkanlah kepada kami kerendahan hati untuk bersedia memberikan terang-Mu kepada sesama kami”.
JANJI: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah”--- Mazmur 51:19
PUJIAN: “Memberi secara tulus adalah bersedia memberi sampai terasa sakit. Tanpa ada rasa itu, tidak ada pemberian yang sungguh-sungguh didasarkan pada kasih”, ungkap St. Teresa (1910-1997). Memberi sampai terasa sakit adalah berkorban bagi kebahagiaan orang lain. Dengan derita ngerinya salib, Yesus memberi Firdaus (Taman Sukacita) kepada penjahat yang disalib bersama-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Luk 23:43).
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ