RANTING YANG BERSIH DAN MENYATU

18 May 2022

Rabu, 18 Mei 2022


Kisah Para Rasul 15:1-6;

Mazmur 122:1-2.3-4a.4b-5;

Yohanes 15:1-8.

  

”Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah”.

Yohanes 15: 1-2

 

          SEPERTI DITULIS dalam Kisah para Rasul, terkutip di atas (Kis 15:1-12), pada awal Gereja Perdana, beberapa orang yang datang dari Yudea mengajarkan kepada saudara-saudara mereka di Antiokhia, jika orang-orang bukan Yahudi tidak disunat menurut adat-istiadat yang diwariskan dari Musa, mereka tidak dapat diselamatkan (lih. Kis. 15:1). Hal itu diperkuat oleh kata-kata orang-orang Farisi, yang telah percaya (dan menjadi Kristen) di Yerusalem: “Orang-orang bukan Yahudi harus disunat, dan diwajibkan menuruti hukum Musa” (Kis. 15: 5).

          Pandangan mereka itu tidak salah. Namun, dalam kriteria baru keselamatan kristiani, pandangan tersebut tidak bisa lagi dipakai. Pemahaman mengenai kekristenan, secara khusus dalam kerangka menjadi ‘murid Kristus’, harus dikaitkan dengan pemahaman mengenai “Kristus sebagai pokok anggur, dan kita adalah ranting-ranting-Nya” (lih. Yoh. 15:1-8). Hanya dengan menyatu dan tinggal dengan Sang Pokok Anggur, ‘ranting-ranting’ Kristus itu akan berbuah. Bila tidak berbuah, maka harus dipotong. Dan bila belum berbuah secara maksimal, ranting-ranting itu harus dibersihkan.   Dan,  Konsili Yerusalem merupakan awal proses ‘pembersihan ranting-ranting Gereja Perdana’ tersebut. Buahnya pun kita ketahui. Jemaat bersukacita, karena ‘pembersihan (pandangan)’ tersebut menghibur (Kis 15: 31); secara cepat kekristenan berkembang masuk Benua Eropa, ke Makedonia.

          Ajaran mengenai ‘Pokok Anggur’ ini harus dilihat dalam konteks Perjamuan Terakhir (Yoh 13-17), khususnya kasus Yudas Iskariot. Dia adalah gambaran ranting yang meski sudah dibersihkan melalui pembasuhan kaki (Yoh 13: 4 dst.), dan diberi kesatuan Roti Kehidupan (Yoh 13: 26), tetapi tetap saja mengikuti bisikan Iblis (ay. 2), yang berakibat ia dirasuki oleh Setan (ay.27). Maka, meski ‘ranting-ranting telah dibersihkan agar berbuah lebih banyak’ (Yoh 15:3), ‘tidak semua sudah bersih’ (Yoh. 13:10).

          Situasi Yudas ini juga merupakan gambaran dari situasi kemanusiaan yang mengandalkan kekuatan diri sendiri, yang hasilnya kegagalan total. Dalam hal ini, satu-satunya cara agar berbuah banyak adalah, meletakkan diri dalam persatuan dengan Allah.

          Tinggal di dalam Kristus dan Firman-Nya, serta menjadi murid-murid-Nya dengan berbuah banyak, adalah cara memuliakan Allah. Inilah yang sangat diyakini oleh St. Ignatius dari Loyola (1491-1556), yang pesta 500 tahun kita peringati tahun ini. Semboyannya, Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG), didasarkan pada iman bahwa Allah itu hanya dimuliakan dalam Diri Yesus Kristus, yang memanggil manusia untuk ‘tinggal’ dalam kesatuan-Nya (Yoh. 12:28; 13:31-32; 14:13). Di sini, ditunjukkan, kitapun hanya akan mampu memuliakan Allah dalam segala, asalkan ada kesatuan erat dengan Kristus. Artinya, Allah dipermuliakan, bila kita, sebagai murid-murid Yesus, mengerjakan karya-karya-Nya.

Jérôme Nadal SJ (1507-1580), sahabat Ignatius, merumuskan perenungan mengenai ‘Yesus Sang Pokok Anggur’ tersebut dengan ungkapan “contemplativus simul in actione”; terjemahan bebasnya, ‘secara bersamaan berkontemplasi, bersatu dengan Kristus, dalam mewujudkan karya-karya-Nya’. (Witdarmono)

 

DOA :  “Ya Allah yang Mahapengasih, curahkanlah Roh Kudus-Mu agar kami selalu melakukan segala sesuatu demi kemuliaan-Mu, bukan demi kemuliaan atau martabat sosial kami.”

PUJIAN: “Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita ke Rumah Tuhan!”     Mazmur 122:1

JANJI :  Tanggal 20 Mei 2021 lalu adalah peringatan 500 tahun St. Ignatius terluka dalam perang di Pamplona. Itulah awal pertobatannya. Kemudian, mulai 20 Mei 2021 hingga 31 Juli 2022, dimulailah “Tahun Ignasian”. Bagi St. Ignatius, motto, “Ad maiorem Dei gloriam inque hominum salutem”, ‘menuju kemuliaan yang lebih besar bagi Allah, dan mengarah pada keselamatan manusia’, merupakan kekuatan arah spiritualitas hidup dan karya-karyanya. Menurut catatan, dalam Konstitusi Serikat Yesus (1554) dan tulisan-tulisannya, sebanyak 259 kali, Ignatius menyebut “Ad maiorem Dei gloriam”, atau “ad majus servitium Dei”, ‘menuju pengabdian yang lebih besar kepada Allah’, atau “ad majus Dei obsequium”, ‘menuju ketaatan/penyerahan yang lebih besar kepada Allah’. Itu semua menandakan, keyakinan Ignatius akan kesatuan dengan Yesus sebagai dasar dari seluruh kehidupan, apapun bentuknya. Maka, mari kita ikuti teladan hidup iman St. Ignatius ini seumur hidup, tidak berhenti setelah penutupan ‘Tahun Ignasian’, 31 Juli 2022 mendatang.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.