RELASI WUJUD KESETIAAN DAN CINTA
12 August 2022
Jumat, 12 Agustus 2022
St. Yohana Fransiska de Chantal
Yehezkiel 16:1-15, 60, 63
Yesaya 12:2-3, 4bcd, 5-6
Matius 19:3-12
”Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti” --- Matius 19:12
SETIAP MANUSIA yang katanya makhluk sosial, pasti pernah berkomunikasi antar manusia, seminim-minimnya seseorang dalam berinteraksi dengan sesama, pasti tetap saja ada komunikasi. Kegiatan interaksi tersebut terjadi tentu timbul rasa percaya dan saling membutuhkan satu sama lain, sehingga terjadi relasi satu sama lain.
Relasi tercipta dengan sendirinya jika dilakukan terus menerus karena ada rasa kesetiaan didalamnya dan tentu saja menumbuhkan rasa cinta kepada sesama dan semua makhluk . Kemudian seberapa seringnya kita berkomunikasi dengan Allah? Kalau dengan sesama di dunia telah kita lakukan, tentunya tidak susah untuk melakukannya. Untuk dapat melihat dan mengerti cinta dan kesetiaan Tuhan Allah, tentu saja dengan membaca Kitab Suci, setiap hari berkomunikasi dengan-Nya seperti anak kepada Bapa, juga bisa melalui perjumpaan dengan semua makhluk ciptaan-Nya memberitakan kabar gembira dari-Nya, sebab kita pasti tidak akan merasakan apa-apa, hampa, suam-suam kuku, jika hal tersebut di atas tidak pernah dilakukan.
Mari kita memasyhurkan Tuhan Allah kita dengan berseru dan bersorak-sorai kepada semua makhluk sebab janji Tuhan tetap dan kekal abadi selamanya, setia dan mencintai kita. (F4)
DOA: Ya Tuhan Allah yang sungguh pengasih dan penyayang, Engkau tetap setia kepada kami, walau banyak sekali dosa kami dan sering kali kami berbuat dosa yang sama sehingga menjauhkan kami daripada-Mu. Pimpin kami dan tunjukkan jalan kepada kami untuk selalu takut akan Engkau yang selalu kami andalkan. Demi Kritstus Tuhan kami.
JANJI: “Pada waktu itu kamu akan berkata; “Bersyukurlah kepada Tuhan, Panggillah Nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya Tinggi Luhur” – Yesaya 12:4
PUJIAN: Isidorus Bakanja lahir sekitar tahun 1887 di Bokendela Republik Demokratik Kongo, Afrika Tengah, merupakan wilayah jajahan Kerajaan Belgia. Ia bertemu dengan Linganga, seorang pribumi Afrika yang sudah dibabtis menjadi seorang katolik saat bekerja menjadi tukang batu. Dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang Katolik, ia mengalami banyak kekejaman dari Van Cauter (seorang mandor yang ateis dan kejam) hingga meninggal karena siksaan sang mandor yang memaksanya untuk tidak mempertahankan imannya, tetapi Isidorus tetap berpegang teguh kepada Tuhan.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ