Renungan Harian - Jumat, 22 September 2017
22 September 2017
Jumat, 22 September 2017
SP. Maria, Ratu
1 Timotius 6:2c-12
Mazmur 49:6-9,17-20
Lukas 8:1-3
NASEHATILAH
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.” --- 1 Timotius 6:10
KALAU KITA membaca surat Paulus kepada Timotius hari ini, kita mendapat kesan, masyarakat yang dihadapi Paulus waktu itu, tidak berbeda banyak dengan masyarakat kita sekarang: “Gila uang!”. Sampai melayani umat dalam Ibadatpun bukan pertama-tama, supaya jemaat mendapat ‘santapan rohani’, tetapi yang diharapkan adalah memperoleh uang banyak dari jemaat yang dilayaninya. Ada yang mengira “Ibadah itu adalah sumber keuntungan” (1 Tim 6:5). Dan dari semangat ‘cari uang, cari uang’ dalam pelayanan rohani, datanglah banyak masalah yang merugikan hidup. Maka benar juga kata Paulus: “Akar segala kejahatan ialah cinta akan uang” (1 Tim 6:10).
Keutamaan ‘Ugahari’, yakni ‘tahu ukuran’ untuk memperoleh apa yang kita perlukan. “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Tim 6:8). Ini prinsip hidup orang ‘beriman’. Dalam Doa Bapa-Kami, kita memohon “Berilah kami pada hari ini makanan yang secukupnya” (Mat 6:11; Luk 11:3). Karena itu jangan sampai kita menjadi ‘hamba uang’ (2 Tim 3:2). Kajahatan apa saja yang muncul dari orang yang menjadi ‘hamba uang’? Kata Paulus: “Mereka membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orangtua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memperdulikan agama” (2 Tim 3:1-2).
Keutamaan ‘ugahari’ itu karena sikap percaya penuh akan ‘penyelenggaraan ilahi’ dari Bapa terhadap kita anak-anaknya.
- Hal ini juga dikumandangkan dalam surat Ibrani “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukuplah dengan apa yang ada padamu. Karena Allah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5).
- Dalam kotbah Yesus di Bukit juga ditegaskan “Bapamu yang disorga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu”, yakni kebutuhan makan, minum dan pakaian (Mat 6:32).
- Kita dengarkan nasehat dari Kitab Pengkotbah: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang dan siapa yang mencintai kekayaan tidak akan puas akan penghasilannya” (Pkh 5:9). Praktek ‘korupsi’ di negeri kita telah lama menjadi bukti dan faktanya.
Apakah kita lalu bermalas-malasan, mengandalkan kemurahan tetangga dan tak perlu bekerja keras? Apakah ini berarti kita tidak boleh kaya? Tidak! Peringatan Paulus kepada Jemaat di Tesalonika: “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan“ (2 Tes 3:10). Kita berpedoman “mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya” lebih dahulu, dan kita percaya bahwa “semua itu, yakni ‘makanan, minuman dan pakaian’, nanti akan ditambahlan kepadamu” (Mat 6:33). Segala kelebihan harta kekayaan selain untuk membantu sesama juga lebih penting lagi untuk mendukung karya Yesus sebagaimana dilakukan oleh beberapa perempuan, sebagaimana kisah Injil hari ini (Luk 8:3).
Sejauh mana iman kita akan “penyelenggaraan Ilahi?” Sejauh mana kita telah memiliki dan mempraktekkan keutamaan ‘ugahari’?
Doa: Tuhan berilah aku semangat untuk berbagi. Tanamkanlah dalam hati kami juga semangat membantu ‘karya penebusan-Mu’ yang dilaksanakan lewat Gereja.
Janji: “Engkau, hai manusia Allah, ..., kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelemah-lembutan” --- 1 Tim 6:11
Pujian: Diberitakan, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) di awal di penjara, mengembalikan semua sisa uang operasional kepada Kas Negara; meskipun sebenarya sisa uang itu dapat diambil sendiri untuk kepentingan diri dan keluarga.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ