Renungan Harian - Rabu, 15 November 2017
15 November 2017
Rabu, 15 November 2017
St. Albertus Agung, UskPujG
Kebijaksanaan 6:1-11
Mazmur 82:3-4,6-7
Lukas 17:11-19
SELALU MENGUCAP SYUKUR
"Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Dimanakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" --- Lukas 17:17-18
KITA LIHAT tanggapan sikap dari sepuluh orang penderita kusta yang telah disembuhkan Yesus. Sembilan orang Yahudi yang telah menjadi tahir langsung pergi meninggalkan Yesus. Dan satu kembali untuk mengucap syukur kepada Yesus. Dan itu orang bukan-Yahudi. Tentu rasa tidak tahu terima kasih dari sembilan orang Yahudi itu layak kita sesali. Padahal di zaman itu, para penderita kusta harus tinggal di luar perkemahan. Mereka diasingkan dari masyarakat. Mereka dianggap najis (Im 13:44-45).
Peristiwa penyembuhan penyakit kusta merupakan hal yang sangat luar biasa, karena bisa membebaskan dari pengucilan. Maka wajar jika Yesus melontarkan pertanyaan, di manakah yang sembilan orang itu? Tentu sangat mengherankan karena hanya satu orang Samaria, orang yang dianggap sebagai orang asing. Ia menyadari bahwa penyembuhannya adalah karena campur tangan dan belas kasih Yesus. Hanya orang Samaria itu yang langsung kembali menemui Yesus sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring (Luk 17:15), dan tersungkur di depan kaki Yesus (Luk 17:16). Imannya yang penuh kepada Yesus telah menyembuhkan penyakitnya dan masuk dalam keselamatan Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita juga bersikap seperti sembilan orang Yahudi yang lupa berterima kasih atas apa yang telah kita peroleh dari Tuhan? Apakah kita juga lupa mendidik anak-anak kita untuk mengucap syukur kepada orang yang telah berbuat baik?
Mari kita melihat contoh dalam keseharian dalam keluarga kita. Seorang ibu harus bangun pagi untuk memasak dan menyiapkan sarapan bagi seluruh keluarga. Ketika selesai sarapan, kadang kala atau bahkan mungkin sering terjadi, baik sang ayah maupun anak-anak langsung pergi begitu saja meninggalkan sang ibu yang harus membereskan peralatan makan. Mereka bergegas pergi untuk menjalankan akitivitas masing-masing, dan lupa mengucapkan terima kasih.
Ketika berhubungan dengan orang lain, atau dengan orang yang baru kita kenal, mungkin kisahnya berbeda. Misalnya saat kita dibantu memarkirkan mobil di lapangan parkir kantor, maka kita cenderung tidak akan lupa mengucapkan terima kasih. Bahkan tidak jarang kita memberikan tambahan sejumlah uang jika kita merasa puas akan pelayanannya.
Benar bahwa seorang ibu tidak mengharapkan ucapan terima kasih atas apa yang telah ia lakukan bagi kita, karena kasih ibu hanyalah memberi dan tak mengharap kembali. Namun sudah sepatutnyalah kita meneladan sikap seorang seorang Samaria. Apabila kita masih sering lupa mengucapkan terima kasih, maka kita bisa memulainya kepada orang-orang yang terdekat dan kita cintai.
Dan tentu saja yang utama adalah selalu berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan atas segala berkat, dan iman yang menghantarkan kita memperoleh keselamatan dari Allah. (Thonny)
Doa: Ya Tuhan, ajarilah kami untuk selalu menyadari kehadiran-Mu, dengan selalu mengucap syukur dan menjadi saluran berkat bagi sesama.
Janji: “Sebab dari Tuhanlah kamu diberi kekuasaan dan pemerintahan datang dari Yang Mahatinggi, yang akan memeriksa segala pekerjaanmu serta menyelami rencanamu,” --- Kebijaksanaan 6:3
Pujian: Santo Albertus Agung, karena kesetiaanmu dalam devosi kepada Yesus dalam Sakramen Maha Kudus dan kepada Bunda Maria, engkau menjadi pribadi yang rendah hati dan hidup suci.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ