Retret Penyembuhan Luka Bagi Frater Keuskupan Sibolga
07 January 2026
Talun Kenas. Di awal Tahun 2026 ini, Mgr. Fransiskus Tuaman
Sasfo Sinaga selaku Uskup Keuskupan Sibolga mengajak para frater Keuskupan
Sibolga untuk sejenak mengikuti retret. Para frater diajak untuk mendengarkan
Allah terkait dengan luka-luka (batin, mental, pikir dan kekuatan) yang dialami
dan penghayatan seksualitas yang sehat selama tiga hari mulai hari Rabu (7/1).
Retret penyembuhan luka dan dampaknya terhadap psikoseksual dengan pendekatan
spiritualitas Pembaruan Karismatik Katolik ini dilangsungkan di Pertapaan
Karmel Talun Kenas Sumatera Utara dan diikuti 55 frater dari tingkat 1 hingga
tingkat akhir dari Keuskupan Sibolga yang sedang menempuh Pendidikan di
Seminari Tinggi Pematang Siantar.
Mgr.
Fransiskus dalam sambutannya melalui video mangajak para frater mengikuti
retret ini dengan serius dan fokus, agar mereka dapat mengambil banyak manfaat
dari retret ini. Lewat refleksi-refleksi selama mengikuti retret ini,
diharapkan para frater tidak lagi hidup dalam kepalsuan dan kesemuan, melainkan
hidup dalam kesejatian dan ketulusan dalam menghayati panggilan sebagai calon
imam di hadapan Allah.
Hadir narasumber retret ini dari Badan Pelayanan Nasional Pembaruan Karismatik Katolik (BPN PKK) Indonesia, yaitu pasutri Budi Sutedjo dan Maria Herjani, pasutri Ferry Yusuf Lubis dan Lucy, serta pasutri Teresa Ivone dan Antoni Setiawan. Sementara itu, hadir fasilitator kelompok dari tim Badan Pelayanan Propinsi Gerejawi (BPPG) Medan dan tim Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik (BPK PKK) Keuskupan Agung Medan yang dipimpin oleh Fransiska Lany Soekowati. Sementara itu, para suster Puteri Karmel ikut membantu untuk kegiatan ibadat dan puji-pujian.
Retret
dibuka dengan perayaan Ekaristi oleh RD Agustinus Supardi yang dipanggil pastor
Gusti selaku pendamping para frater di Seminari Tinggi Pematang Siantar. Pastor
Gusti dalam kotbahnya berpesan, agar para frater dapat mengikuti retret ini
secara penuh dan mengolah diri seturut dinamika retret ini. Selanjutnya, retret
diawali dengan penjelasan tentang luka batin, mental, pikir dan kekuatan oleh
Budi Sutedjo. Lalu diikuti oleh Teresa Ivone yang menjelaskan dampak dari
luka-luka itu terhadap psikoseksual bagi orang-orang yang dipanggil dalam hidup
bakti.
Sesi
selanjutnya, peserta diajak untuk mendiagnosis luka-luka yang dialaminya, menemukan
luka yang menjadi akar dari timbulnya luka-luka yang lain. Lalu, hasil
diagnosis itu di-sharing-kan dalam kelompok dan pendamping. Selanjutnya,
peserta diajak Ferry Yusuf Lubis untuk mengenal dan percaya kepada tabib yang
akan menyembuhkannya, yaitu Yesus sang penyembuh sejati. Hari pertama retret
diakhiri dengan adorasi Sakramen Mahakudus. Di mana, peserta diberi kesempatan
untuk berdoa secara khusus di hadapan Sakramen Mahakudus dan seolah berbisik
langsung kepada Yesus untuk mengungkapkan luka-lukanya dan mohon untuk
disembuhkan-Nya.
Pada hari
kedua, kembali pastor Gusti memimpin perayaan Ekaristi pagi. Pastor Gusti
menggarisbawahi tentang materi pada hari pertama terkait dengan aneka luka dan
dampaknya pada penghayatan seksualitas. Dalam sesi selanjutnya, peserta
dihantar oleh Maria Herjani untuk merenungkan pertanyaan Yesus: “Maukah kamu
sembuh?” dan diakhir sesi, para frater diajak untuk menuliskan jawaban kepada
Yesus dalam bentuk surat. Selanjutnya, Maria menjelaskan tentang penyembuhan
sebagai proses. Para frater diajak untuk melakukan pertobatan (Sakramen
Rekonsiliasi) dan pembasuhan kaki sebagai bentuk rekonsiliasi dengan sesama.
Untuk pemberian sakramen rekonsiliasi, Pastor Gusti dibantu oleh 3 pastor lagi,
yaitu RP Oliver, CSE, RD Ambarita Malau dan RD Efendi Sihombing. Sore harinya,
para frater mengikuti prosesi pembasuhan kaki dengan sebelumnya dihantar
melalui refleksi tentang luka dari masa sekarang sampai masa dalam kandungan. Para
frater diajak untuk memohon rahmat dari Roh Kudus, agar mereka dapat mendeteksi
luka yang terjadi dalam hidupnya dan kekuatan dari Roh Kudus untuk memaafkan,
memaklumi dan menerimanya. Sesi penutup di hari kedua, peserta diajak untuk
hidup sehat di dalam Kristus dan menumbuhkan daya sembuh dalam dirinya.
Di hari ketiga, pagi hari dilakukan Persekutuan Doa (PD) bersama dengan model PD PKK oleh Antoni Setiawan dan Lucy didukung oleh beberapa suster Puteri Karmel. Setelah itu, dilanjutkan dengan sesi sharing pengalaman para frater dalam mengikuti proses penyembuhan semalam. Beberapa frater menceritakan pergumulan batin dan pikiran yang dialaminya selama mengikuti retret, hingga akhirnya mereka memiliki kekuatan untuk memaafkan orang-orang yang telah menimbulkan luka dalam hidupnya, memaklumi peristiwa-peristiwa yang terjadi dan menerima diri sendiri apa adanya. Mereka pun mengalami kelegaan, pendamaian dan pemulihan relasi dengan memaafkan orang-orang yang telah menimbulkan luka batin, memaklumi peristiwa-peristiwa yang mengubah kehidupannya secara drastis dan mengguncangkan mentalnya, kesediaan untuk menggunakan cara berpikir Kristus dalam menanggapi persoalan-persoalan hidup di masa lalu dan menerima diri sendiri apa adanya. Di akhir retret, Budi memperkenalkan tentang PKK Indonesia.
Mgr.
Fransiskus dalam sapaan menutup retret melalui video berharap bahwa para frater
mengalami pengalaman yang indah, yaitu para frater mengalami Yesus yang hadir
sebagai penyembuh, peneguh dan pengampun. Para frater diharapkan semakin tulus,
rendah hati, tidak menyakiti orang lain, khususnya umat dan ada kejujuran,
serta mau diarahkan, mau dan mampu melihat rahmat dan karisma-karisma dalam
diri para frater.
Dalam
perayaan Ekaristi penutup yang dipimpin oleh RD Thomas, RD Ambarita Malau, RD
Gusti, dan RD Efendi, peserta diajak untuk mensyukuri rahmat kesembuhan yang
dialami. Setelah perayaan Ekaristi dilakukan selebrasi berupa menerbangkan
pesawat origami yang di dalamnya tertulis visi baru dari para frater setelah
mengalami kesembuhan.