“ROME SWEET HOME”
22 February 2021
Senin, 22 Februari 2021
Tahta S.Petrus, rasul
1Petrus 5: 1-4
Mazmur 23:1-6
Matius 16: 13-19
“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan Jemaat-Ku…”--- Matius 16:18
DI AWAL 1994, saya menjalani tahun “Sabbatical” saya di “Graduate Theological Union (GTU)” di Berkeley, California. Saya kaget menemukan dan membaca buku Scott Hamn yang berjudul “Rome Sweet Home” (1993). Penulis itu seorang teolog Kristen-non katolik yang ditunjuk oleh denominasi Gerejanya untuk membendung dan mencegah bertambah banyaknya orang kristen non-katolik pindah kembali ke pangkuan Gereja Katolik. Dengan serius ia pelajari Kitab Suci, Sejarah Gereja dan Liturgi. Hasil studinya bukan menjadikannya ‘pembela anti Katolik’ yang menyala-nyala, tetapi justru malahan dia-lah mendahului orang-orang yang mau menyebrang, masuk ke Gereja Katolik.
Hari ini kita rayakan “Tahta St. Petrus”. Injil mengkisahkan Yesus memilih Petrus (petros – petra = ‘karang padas’), sebagai dasar kokoh kuatnya bangunan ‘Jemaat’ atau Gereja. Dan bagi kita orang katolik, Petrus adalah pimpinan Gereja yang pertama yang disebut ‘Paus’ – Paus yang pertama.
Perpecahan Gereja, baik antara Gereja Timur dan Barat, adalah suatu realitas, yang harus kita terima. Perpecahan dipicu oleh ‘ego kelompok’ dalam hal peribadatan, ajaran dasar, serta pola hidup para pimpinan Gereja, dan pola penghayatan agama. Kemudian hal ini memuncak dalam perpecahan dalam Gereja di Barat di akhir Abad Pertengahan. Reformasi menimbulkan Kontra-Reformasi, yang mengoyak Gereja.
Di awal Abad 19, terjadi titik-balik, dengan adanya Gerakan Persatuan Gereja. Roh Kudus – Roh pemersatu tidak tinggal diam. Ini dimulai di kalangan Gereja Anglikan dan inisiatif itu diambil alih oleh Gereja Katolik. Meski sampai sekarang di luar Katolik , di kalangan umat kristiani – di luar Protestan-, tetap terjadi perpecahan, gereja baru tiap tahun muncul – tetapi Gerakan Oikumene di kalangan Gereja-gereja tetap juga berlangsung terus, untuk saling memahami, mencari persamaan bukannya perbedaan.
Gereja kita, Gereja Katolik mendukung penuh Gerakan Persatuan Gereja. Dulu dalam Intensi dan doa-doanya, Gereja memandang persatuan umat adalah berarti. Gereja-gereja non-katolik bergabung Kembali ke Gereja Katolik Roma. Sekarang hal ini dilanjutkannya dalam Gerakan persatuan umat kristiani itu, dengan adanya “Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani Sedunia”. Ini kita lakukan tiap tahun dari tanggal 18 sampai dengan 25 Januari, ‘Hari Bertobatnya St. Paulus’. Pusat persatuan bukan lagi Vatikan tetapi Yesus Kristus sendiri.
Meski demikian, apa yang dimulai oleh “Rome Sweet Home”, tetap bergulir sampai sekarang. Pemahaman kekayaan Gereja Katolik makin mereka sadari dan terima, sedang praktek keagamaan dalam Gereja Katolik yang menghambat persatuan dibenahi. Baptis dari Gereja-gereja yang bergabung dalam PGI diterima oleh Katolik tanpa Baptis ulang. Perkawinan antar umat beda Gereja bukan lagi ‘dispensasi’ tetapi ‘izin’ dan bermartabat Sakramen.
DOA: Tuhan bantulah kami-kami lebih menekankan kerukunan dan persatuan, bukannya perbedaan.
JANJI: “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka, yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” --- 1 Petrus 5:3.
PUJIAN: Romo Prentaler SJ, rasul dan gembala Umat di Boro dan Promosan, Kulon Progo. Sebelum wafat sebagai martir – dibunuh tahun 1946 - beliau meninggalkan ‘surat wasiat tertulis’ untuk umat. Waktu surat dibuka ternyata isinya agar umat katolik di sana diharap tetap taat setia pada Gereja Katolik dan selalu mohon bantuan Bunda Maria. Beliau dikubur di seberang jalan sebelah kanan gereja Boro. Tak sedikit orang berziarah ke sana.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ