SABAR DAN BIJAKSANA
23 July 2023
Minggu, 23 Juli 2023
Minggu Biasa XVI
Keb 12: 13.16-19;
Mzm 86: 5-6,9-10, 15-16;
Rm 8: 26-27;
Matius 13: 24-30
“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba” --- Mat 13 : 29
“Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!” (Mat. 13:43b). Hidup pada era digitaldengan kemajuan teknologi amat cepat membuat manusia menerima banjir informasi dalam waktu singkat. Hal ini mebuat manusia cepat menerima informasi dan kemudian membagikannya tanpa dipilah-pilah lebih dahulu, mana fakta dan mana hoaks. Banyak orang menjadi pribadi reaktif, mudah terbawah amarah atau mudah tersinggung karena pengaruh kecepatan informasi dan kedangkalan berpikir sehingga membuat hidup mengalir begitu saja. Namun, Tuhan Yesus mengajak kita untuk tidak gegabah dalam hidup, tetapi memutuskan dan bertindak dengan sabar dan bijaksana (Mat. 13:30a).
Manusia pada era digital ini termasuk kita perlu belajar untuk sabar dan bijakasana. Sabar adalah saat kita memberikan waktu untuk mengamati, mendengarkan dengan seksama, membaca situasi dan belajar memahami sesama serta lingkungan kita. Bijaksana adalah saat kita mau mendengarkan dengan seksama, membaca secara lengkap dan teliti, serta berpikir lebih mendalam sebelum mengambil keputusan atau bertindak. Kita dapat mengikutsertakan Roh Kudus agar dapat memaknai hidup kita lebih dalam. Akhirnya, kita dapat berdoa kepada Tuhan dan hidup dalam tuntunan Roh Kudus (Rm. 8:26). (Obor)
DOA: “Ya Yesus, ajarilah kami mengikutkan Roh Kudus dalam hidup kami kami dapat menjadi sabar, dan bjaksana, dalam hidup ini.” Amin.
JANJI: “Kerajaan Surga itu, seumpama seorang menabur benih yang baik di padangnya”. Mat 13:24.
PUJIAN: Hari Orang tua, kakek, nenek Sedunia.
Gereja mendedikaskan tanggal 23 Juli, yang Tahun ini jatuh hari Minggu Biasa ke XVI, sebagai Hari Orang-tua. Kakek dan Nenek sedunia. Dalam jenjang kehidupan, baik Pria maupun Wanita tentu melewati jenjang menjadi orang tua,mempunyai anak. Dan jenjang berikut bila mulai mempunyai cucu, masuk jenjang Kakek dan Nenek, (Yang kung dan Yang ti) dan seterusnya. Mereka beranak, bercucu, berbuyut dst. Merekalah2-lah ,Yang melahirkan dan membesarkan kita semua, yang membiayai studi kita dan mendampingi kita sewaktu kita mulai menjadi dewasa. Dan giliran kita menjadi orang tua lalu menjadi menjadi kakek2 dan Nenek2. Sewaktu kita menjadi anak atau cucu, giliran kita berpeduli kepada mereka . mereka bertambah usia bertamah pula keterbatasan mereka. Dulu sewaktu kecil, kita tergantung pada mereka, tetapi karena bertabahnya keterbatasan kemampuan Fisik,Mental dan Psikologis, Orang tua , Kakek dan Nenek kta tergantung pada kita. Mereka telah menjadi berkat bagi kita. Kalau ada, kita mewarisi harta mereka, tetapi kita perlu lebih mewarisi berkat mereka, yakni nilai2 luhur hidup dan iman mereka. Kita juga perlu menjaga Nama baik mereka, amal bakti mereka. Syukur kalau kita dapat lebih banyak beramal dan berbakti kepada masyarakat. Mereka biar bangga atas kita, anak cucu mereka dan berkenan mendoakan kita-kita. Kita bangga menjadi anak dan keturunan mereka. Hiduplah Orangtua dan kakek-nenek kita. Hiduplah para leluhur kita !
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ