SADARI KEHADIRAN ALLAH

24 May 2020

Minggu, 24 Mei 2020

 

Minggu Paska VII

Minggu Komunikasi Sedunia

NP Hari 3

Kisah Pr Rasul 1:12-14

Mazmur 27:1-4, 5-8

1 Petrus 4:11-16

Yohanes 17:1-11a

 

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satu Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” - Yohanes 17:3

 

DI HARI MINGGU  “Komunikasi Sedunia” ini, kita diingatkan akan penting dan perlunya ‘komunikasi’, yakni bagaimana kita ber-relasi. Yang utama dan pertama ialah relasi kita dengan Allah sendiri lebih dahulu. Tidak cukup kita percaya bahwa Allah itu ada.  Rasul Yakobus mengingatkan kita bahwa “setan-setanpun percaya akan hal itu (Allah itu ada) dan mereka gemetar” (Yak 2:19). Dan tanggapan kita bahwa Tuhan Allah itu ada, kita lalu be-relasi, kita mengadakan komunikasi dengan-Nya. Ber-relasi dan berkomunikasi dengan Allah dapat kita lakukan sejak sekarang dalam hidup di dunia, tak perlu kalau kita sudah mati.

Dan kutipan awal di atas merupakan kabar gembira karena mewahyukan ‘apa makna hidup kita ini’. Hidup kita ini tidak berakhir dengan kematian kita di dunia, tetapi berlanjut. Ada hidup kekal di balik kubur, karena hidup kita ini “hanyalah diubah bukannya dilenyapkan, bahwa suatu kediaman abadi tersedia bagi kami di surga” (Prefasi Arwah I). Hidup kekal ialah relasi kasih yang dinamis dengan Allah, yang tak dapat diambil dari kita oleh siapapun.

Ini artinya diri kita ini sangat berharga di hadapan Allah. Oleh karenanya kita akan selalu bersyukur kepada-Nya karena Allah berkenan meresapi semua sendi-sendi hidup kita. Dan ini pesan pokok dari Injil hari ini.

Bisa saja kita kehilangan ‘kehadiran-Nya’ dalam hidup ini, tetapi hanya sebentar saja kita lalu kembali bisa menyadari-Nya. Kesadaran akan kehadiran-Nya ini tumbuh dan berkembang dalam doa-doa hening kita dan dalam relasi bimbingan-Nya pada hidup kita sehari-hari. Ini tentu saja merupakan pengalaman dasar bagi kita umat beriman. Dan itu adalah karunia Allah. Yang perlu kita lakukan ialah mencari atau mengadakan waktu untuk doa-doa hening itu. Pagi hari sebelum beraktivitas kita mengahadap Dia. Kita membentangkan kepada hadirat Tuhan apa saja aktivitas yang hendak kita lakukan sepanjang hari itu. Dan kita memohon berkat-Nya untuk setiap pekerjaan dan pelayanan kita, apapun itu. Dan Tuhan akan melakukan  semuanya yang lain.

 

DOA: Tuhan, Engkau selalu menyertai kami, di manapun kami berada Dikau di situ. Semoga kami selalu menyadari dan mengenal kehadiran-Mu setiap hari.

JANJI: “Berbahagaialah kamu, jika dinista karena Nama Kristus, sebab Roh Kemuliaan, yakni Roh Allah, ada padamu” – 1 Petrus 4: 15

PUJIAN: Bapak dan Ibu dari kedua pasangan Sawitri dan Denny, katolik. Empat anak dibaptis dan disekolahkan di sekolah katolik sejak TK. Selesai studi di Perguruan Tinggi, dua dari empat anaknya memilih meninggalkan Gereja. Yang sulung tetap ngaku katolik tetapi tak pernah ke gereja, apapalgi aktif di gereja; yang kedua pindah keyakinan. Sawitri dan Denny terlambat menyapa anak-anaknya. Mereka berdua merasa melaksanakan kewajibannya dengan menyekolahkan di pendidikan katolik, tetapi anak-anak tak pernah diajari ber-relasi pribadi dengan Tuhan. Sekarang mereka  hanya bisa  berdoa bagi anak-anaknya.

 

Penanggung Jawab Renungan: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.