SAKITNYA DIKHIANATI
07 April 2020
Selasa, 7 April 2020
St. Yohanes Pembaptis de la Salle
Yesaya 49:1-6
Mazmur 71:1-2.3-4a.5-6b.15.17
Yohanes 13:21-33.36-38
"Yesus sangat terharu, lalu bersaksi: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang diantara kamu akan menyerahkan Aku'" – Yohanes 13:21
KALAU KITA dikhianati, maka apakah yang akan kita lakukan? Yang pasti, kita akan sakit hati dan merasa kecewa. Bila kita tidak tahu siapa yang berkhianat, mungkin kita akan membenci pada semua orang yang terkait dengan masalah itu. Bagaimana bila kita mengetahui siapa si pengkhianat itu? Tentu kita akan membalas dendam, menuntut, dan ingin menyakiti orang itu, apalagi bila kita telah mengetahui rencana pengkhianatan tersebut.
Dari teladan Yesus, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan, yaitu:
- Tidak menghakimi, tetapi memberi kesempatan kepada orang itu untuk berubah dan bertobat.
- Walaupun sudah disakiti, janganlah menyimpan dendam dan sakit hati, tetapi maafkanlah orang itu.
- Yesus terharu karena Ia melihat murid-Nya, Yudas Iskariot, akan berkhianat. Ia lebih melihat kepada dirinya sendiri yang gagal mendidik Yudas Iskariot.
- Biarkan Allah yang melakukan penghakiman; kita tidak boleh menghakimi orang lain. Itu hak Allah.
Bisakah kita mengikuti teladan Tuhan Yesus saat kita mengalami pengkhianatan khususnya dari teman atau anggota keluarga sendiri. (DAG)
DOA : Tuhan Yesus beri aku kemampuan untuk melepaskan dendam dan sakit hati, terhadap orang yang telah menyakitiku. Biarlah kasih-Mu berkobar-kobar didalam diriku, agar aku juga mau mengampuni. Amin.
JANJI : "Kata Petrus kepada Yesus: 'Mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang: Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu! Sahut Yesus, 'Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku?' Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok engkau akan menyangkal Aku tiga kali!" – Yohanes 13:38
PUJIAN : Santo Yohanes de la Salle, adalah anak sulung dari sebuah keluarga bangsawan kaya raya. Ia masuk Seminari dan ingin menjadi imam; walaupun sempat tertunda karena orang tuanya meninggal, akhirnya ia pun ditahbiskan sebagai imam. Ia memiliki minat pada pendidikan kaum miskin, dan ia dikenal sebagai seorang imam yang rendah hati, rajin bedoa dan bertapa. Ia memusatkan perhatiannya pada kehidupan rohani dan menulis banyak buku pendidikan. Ia digelari Kudus pada tahun 1900 dan dinyatakan sebagai tokoh teladan para guru pada tahun 1950.
Penanggung Jawab Renungan: Rm. Subroto Widjojo, SJ