SANG PENYEMBUH

23 March 2021

Selasa, 23 Maret 2021

Bilangan 21:4-9

Mazmur 102:2-3, 16-21

Yohanes 8:21-30


“Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia.” Yohanes 8:28


BILA KITA masuk ke ruang praktek dokter, mungkin kita akan melihat gambaran Asclepius (dewa penyembuh dan obatobatan, dari Yunani), yang berwujud seekor ular yang melingkar pada sebuah bokor, sebagai simbol penyembuhan. Hal yang menarik ialah bahwa simbol itu menyerupai simbol yang Allah sabdakan kepada Musa agar menegakkan sebuah tiang guna sembuhnya orang-orang yang dipagut ular, dengan memandang ular tembaga yang terpancang itu.

Umat Katolik sama sekali tidak berpandangan demikian! Kita berdoa Rosario bukan demi Allah tetapi demi kita, karena merupakan salah satu cara yang telah teruji, yang membantu kita untuk ‘tekun berdoa’. Paulus menasehati kita untuk “Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal…” (1 Tes 5: 17-18). Umat Gereja Perdana “bertekun dengan sehati dalam doa bersama” (Kis 1:14), “bertekunlah dalam doa” (Rm 12:12; Kol 4:2).

Kisah umat Israel mengeluh dan hukuman yang berujud ular tedung memagut mereka merupakan salah satu contoh dari Perjanjian Lama akan betapa keras dan beratnya hidup di pada gurun. Tulah-tulah yang dipakai Allah guna meyakinkan Firaun agar melepas dan membebaskan orangorang Israel, kemungkinan besar jauh lebih dasyat – sebagaimana dasyatnya terbelahnya laut Merah, yang memeterai pembebasan Israel dari perbudakan. Seakan-akan itu semua merupakan, bahwa Allah akan segera membawa dan menuntun mereka masuk ke Tanah Terjanji.

Tentu betapa berat dan tak masuk akal mereka harus menyeberangi Laut Merah yang ganas itu. Tetapi itu dapat terjadi dengan mau bekerja samanya dengan Allah, bukan sekedar menunggu saja dan biar Tuhan Allah melakukan segala-galanya. Betapa menantangnya sewaktu menyadari bahwa mereka perlu belajar hidup dengan iman, bagaimana patuh taat pada sabda Allah dan bagaimana mereka harus mengesampingkan dosa dan percecokan yang membawa perpecahan mereka.

Sebagai hidup orang Israel di padang gurun, demikian juga hidup kita ini penuh dengan tantangan dan kesukaran – pencobaan perlu kita artikan perlunya iman yang mendalam dan mau bekerja sama dengan Tuhan. Mungkin saja kita lalu putus asa, tak sabar, mungkin juga menggerutu dan berkeluh kesah. Apakah kita lalu mempertanyakan ‘kepedulian, perhatian dan kasih Allah’?

Bila kita ditantang oleh hidup seperti di padang gurun, itulah saat yang menentukan agar kita mau mengangkat salib Kristus tinggi-tinggi, dan percaya penuh apa yang terjadi di situ, Yesus ingin mengangkat kita tinggi-tinggi, - meski kita menderita ini itu- dan memberi kita sukacita Kerajaan-Nya.

Yesus adalah Penyembuh Ilahi. Ia ingin agar kita mau menerima penyembuhan atas semuanya, bebas dari ketidak-percayaan, akan kebaikan-Nya dan rencana-Nya yang sempurna bagi kita. (SW)

DOA: “Tuhan, aku percaya aku mampu menghadapi perlbagai tantangan, sejauh aku memandang-Mu. Datanglah ya Tuhan, angkatlah aku tinggi-tinggi!”

JANJI: “Ia yang mengutus Aku, Ia menyerati Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” Yohanes 8:29

PUJIAN: Keluarga Tarno tiga orang dari keluarganya yang meninggal karena Covid-19 tahun yang lalu. Dalam suatu pertemuan Persekutuan Doa lewat Zoom, dia memberi kesaksian bahwa iman akan kehadiran dan kebaikan Allah diuji dan dicobai. Merasa sangat berat melewati cobaan itu di mana istri dan dua anaknya tercinta diambil dari sisinya karena wabah.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ


Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.